Hidup Berorientasi Kepada Kekekalan

Viewed : 318 views

Kisah Para Rasul 9:11-13
Firman Tuhan: “Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.”
Jawab Ananias: “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem.

Ananias memberi respons yang nampak bimbang ketika Tuhan menyuruh dia untuk menemui Saulus (Paulus).

Ananias ragu dan sepertinya enggan untuk pergi. Dia mengatakan betapa buruknya latar belakang Paulus yang dia tahu selama ini. Ini tentu sangat alami. Bayangkan bila kita dalam posisi Ananias, kita mungkin takut dan langsung menolak dengan alasan yang mirip sama.

Kita melihat hal sangat luar biasa bagaimana Saulus mendapat kasih luar biasa dari Tuhan, dimana Saulus diselamatkan, diubah, dan dipakai Tuhan untuk menjadi alat-Nya.

Paling tidak ada tiga hal yang kita dapat pelajari dari peristiwa ini.

Yang pertama adalah bahwa kita tidaklah lebih baik dari Saulus. Meski kita tidak ekstrim seperti Saulus, namun di hadapan Allah kita sama saja. Kita orang berdosa. Kita tidak layak di hadapan Tuhan.

Yang kedua adalah, kita yang telah percaya dan telah menerima Kristus sungguh beruntung dan berbahagia sebab kita beroleh anugerah, berolah belas kasihan Allah. Kita diselamatkan dan diberi status anak Tuhan.

Yang ketiga adalah bahwa manusia yang kita anggap bahkan kita beri label: musuh Tuhan, dapat berubah. Merekapun juga dapat diubah Tuhan dan dipakai oleh Tuhan menjadi hamba-Nya. Hal seperti ini tentu banyak di antara kita yang tahu dan melihatnya.

Ironinya (bukan maksud menghakimi) adalah justru banyak yang lahir dari “keluarga Kristen” tidak bertumbuh dengan baik. Suam-suam kuku dan menjadi bayi dalam berkeyakinan. Bahkan hidup tidak berkenan di hadapan Tuhan. Tidak tertarik dan tidak ada kerinduan melakukan apa yang Tuhan suruh. Merasa cukup dengan kepuasan lahiriah saja di dunia sementara ini. Tidak berbeda dengan orang yang belum percaya.

Bagi kita… apapun latar belakang kita, bagaimanapun kita dahulu yang menurut kita bahwa kitapun buruk, jahat, dan sebagainya; kita memiliki harapan. Kita dapat diselamatkan dari murka-Nya. Percaya kepada Kristus dan buka hati untuk menerima Dia. Lahir baru.

Setelah itu mari kita bertumbuh menjadi murid Kristus yang setia hingga akhir. Orientasi hidup kita mengarah kepada kekekalan.

Filipi 3:13-14
Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Tuhan menyertai dan memberkati serta menolong kita untuk hidup berorientasi kepada kekekalan. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Hudson Hintze on Unsplash

Comments

comments