352. Kembali ke Arena!

Viewed : 545 views

Banyak yang menilai, tahun depan dunia akan menghadapi resesi ekonomi. Belum selesai dampak pandemi, menyusul pula perang Rusia-Ukraina yang sepertinya bisa tidak terkendali. Winter di Eropa kali ini akan terasa lebih dingin dari biasanya karena dibayangi krisis energi.

Trauma global akibat pandemi belum selesai. Walau sendi-sendi ekonomi mulai bergerak lagi, namun situasi ekonomi masyarakat di akar rumput masih sulit. Lapangan kerja masih sempit, usaha yang selama pandemi tutup sekarang pun masih banyak belum bangkit.

Tidak tahu apa yang ada di benak presiden Putin, mungkin setelah berbagai analisis skenario regional membuat dia nekat ambil jalan pintas dengan sikap dingin. Perang! Dan rakyat yang tidak tahu menahu pun menjadi meradang. Korban tidak dapat dibendung, berguguran bak drone menghantam gedung-gedung.

Di tanah air, orangtua lagi pada khawatir. Mengapa tidak? Dalam sekejap ratusan anak dilanda gagal ginjal secara mendadak. Sontak, bermunculan berbagai analisis. Siapa yang tidak miris, melihat anak-anak harus cuci dari hari Senin-Kamis. Terbayang perasaan orangtua, gelap!

Sidang perkara polisi bunuh polisi yang disiarkan secara live belum lagi kelar, ada pula berita yang tidak kalah gempar. Pembunuhan yang melibatkan pendeta muda. Berbagai prasangka pun bermunculan baik di kalangan awam mau pun pakar. Ada tuduhan yang tak terucapkan akan latar belakang agama yang bersangkutan.

Belum lagi riuh rendah gema pilpres yang akan datang, akankah negara ini akan tercabik-cabik? Intrik politik, permainan licik, semua demi alasan kemaslahatan publik. Cerdik! Jangan begitu saja percaya apa yang dibaca, bisa-bisa itu ajakan yang menggoda. Apa yang dilihat, itu bisa jadi tipu muslihat.

Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; (Yesaya 60:2)

Pembaca yang Budiman! Boleh berbeda pandangan, tidak apa melihat sesuatu dari sisi yang berseberangan, namun yang pasti, kabut gelap menutupi bumi baik secara geo politik maupun ekonomi. Kekelaman pikiran melanda penghuninya. Tidak ada terang, hilanglah pengharapan banyak orang.

Sementara daku dan mungkin juga dikau yang rindu mencari Tuhan, tanpa sadar semakin jauh dari kehidupan nyata di lapangan. Semakin rohani, semakin terisolir dari perkara ‘duniawi.’ Mengkristal, akhirnya menjadi golongan kaum pakar hal-hal yang kekal. Daku terhisap ke dalam kaum elite rohani, kelompok yang hanya puas diskusi hal-hal surgawi.

Di pihak lain, kaum awam – orang kebanyakan, berjuang menyambung hidup siang malam. Hidup di alam ketidakpastian, harap-harap cemas apa yang akan dimakan. Belum lagi di pandang sebelah mata oleh mereka yang ahli agama, serasa dituduh kurang berserah kepada Sang Kuasa.

Walau langkah berat, akhirnya daku giat di acara ibadat. Mungkin demikianlah agar bisnis kembali sehat. Jadilah daku semakin jauh terlibat, walau bisnis masih tersendat-sendat. Akhirnya datanglah juga berkat, bisnis selamat.

Dan sejak itu daku melekat bergaul dengan mereka yang ahli Taurat. Entah bagaimana, akibatnya, terasa dalam hidup nyata, relasi semakin jauh dari kolega. Tersingkirlah dari arena, gelanggang pertandingan, dunia bisnis yang diselimuti kekelaman.

Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. (Yesaya 60:1)

Ayo kembali ke arena! Dikau dibutuhkan di sana. Dunia bisnis yang buas liar yang tak segan menelan sesama. Daku dan dikau ada di lapangan yang berbeda. Masing-masing khas, peran dikau tak tergantikan bahkan oleh mereka dari kelas papan atas.

Bangkitlah! Lihat sekitar, jadilah kekar. Semua menanti dengan sabar, merekalah yang membutuhkan sinar. Bebaskan terang, dari kungkungan kerajaan agama yang senantiasa mengekang. Karena di mana dikau berada, di situ Kerajaan Allah ada! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments