325. Terpesona

Viewed : 742 views

Tidak tahu itu dari datang dari mana, tiba-tiba saja sudah muncul di depan mata. Dulu-dulu rasanya tidak ada, sekarang ramai-ramai disebarkan ke mana-mana. Istilah-istilah yang asing di telinga, namun sekarang menjadi berita. Bertambah lagi satu, ritual baru. Dan jema’at terpesona bak kena guna-guna.

Baru saja berlalu perayaan paskah, kematian dan kebangkitan Anak Domba Allah. Peristiwa tragis sekitar 2000 tahun lalu. Di hari sendu, Sang Raja lunglai layu. Dari atas kayu salib DIA masih sempat berseru: “Sudah selesai!” Maka babak baru peradaban dunia dimulai.

Kuburan bukanlah akhir segalanya. Sebaliknya, itu baru permulaan dari kisah yang akan bertahan selama-lamanya. Kematian-kebangkitan drama kehidupan bagi daku dan dikau yang menaruh harap kepada Anak Domba.

Iman percaya tertuju kepada Sang Raja. DIAlah tokoh utama dalam drama yang tiada duanya. Benang merah yang merajut Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) menjadi kisah yang harmonis. DIAlah Sang Mesias yang mati-Nya tragis.

Riwayat yang diselubungi misteri. Gunung Batu, begitu PL menyebutnya dengan kukuh. ‘Anak Daud’, seru orang awam yang rindu kembalinya keturunan raja Daud. Namun, DIA senang menyebut diri-NYA sebagai ‘Sang Pintu’.

Pintu ke padang rumput hijau. Padang luas yang tepinya tak terpantau. Jiwa yang haus rindu nan galau, DIA sambil duduk di pinggir danau, senyum menyambut daku dan dikau. ‘Mari yang lemah dan risau, nikmati angin sepoi-sepoi.’

Semakin menyelami kasih Kalvari, semakin miris hati. Begitu dalamkah kasih Ilahi, bagi diri yang tak berarti ini? Biarlah kalbu terpaut lekat ke Gunung Batu. Kekasih jiwa, Anak Daud yang rela sengsara. Melangkah lewat pintu, terbukalah jalan buntu.

Hai orang-orang Galatia yang bodoh, siapakah yang telah mempesona kamu? Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? (Galatia 3:1)

You crazy Galatians! Did someone put a hex on you? Have you taken leave of your senses? Something crazy has happened, for it’s obvious that you no longer have the crucified Jesus in clear focus in your lives. His sacrifice on the Cross was certainly set before you clearly enough. (versi the Message)

‘Bodoh…!’ Sontak sadar bak terbangun dari mimpi. Teriakan keras tak tahu diri. Bukankah daku dan mungkin juga dikau telah dewasa menggunakan logika? Ataukah itu fakta? Daku bodoh karena terpesona dengan yang lainnya.

Alih-alih terpincut dengan Salib Kristus, daku sibuk dengan hari Rabu abu. Rabu berlalu, kenangan perisitiwa itu pun layu. Ritual itu memang merayu, menggoda kalbu. Begitu mudah cinta beralih, dari salib ke Kamis putih.

Something crazy has happened! Sesuatu yang gendeng telah memesona hati. Daku kehilangan kendali, nalar tak berfungsi lagi. Bolehlah dikau lulusan perguruan tinggi, ataupun daku hanya sekelas kuli. Layaknya orang yang terkena pelet, fokus daku dan dikau bergeser dari Salib ke ritual remeh temeh.

Entah apa yang menimpa umat, sesuatu yang sedeng telah menjerat jema’at. Memahami DIA disematkan kepada golongan tokoh agama. Mengasihi Anak Daud disamakan dengan terkesima dengan ritual-ritual. Semakin tinggi kareir jabatan kerohanian, dianggap selaras dengan kedekatan dengan TUHAN.

Bukankah sudah jelas Salib Kristus untuk menebus dikau dan daku? Apakah DIA rindu dengan prestasi rohani ataupun giat ikut itu ini? Tidak!

DIA tidak selera dengan ritual Rabu abu, kegiatan kerohanian, begitu juga perpuluhan. Sang Anak Daud terpikat dengan Adinda. Yes, karena untuk itulah DIA lahir di kandang domba. Pandang terus salib maka pengaruh guna-guna akan raib. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments