2 Timotius 1:13-14
Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yang indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita, oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita.
Pagi ini saya mengutip sebuah kisah yang diambil dari google.com.
Kisah ini merupakan kisah inspirasional yang luar biasa yang diceritakan Russel H. Conwell dalam bukunya yang berjudul: Acres of Diamonds.
Kisah ini menceritakan; di sebuah desa di Persia terdapat seorang laki-laki tua bernama Ali Hafed yang tinggal di dekat Sungai Indus.
Ali memiliki lahan pertanian yang sangat luas yang dijadikannya kebun buah-buahan, ladang gandum, dan kebun bunga. Ia juga memiliki uang yang banyak. Ali adalah orang kaya yang bahagia.
Pada suatu hari, Ali kedatangan tamu, seorang pemuka agama yang bercerita tentang keindahan batu permata.
Si pemuka agama ini berkata, “Anakku, kalau kau memiliki sebuah batu permata sebesar ibu jarimu, kamu bisa membeli sebuah kota. Kalau kamu memiliki tambang permata, kamu bisa membuat anak-anakmu menjadi raja.”
Setelah pemuka agama itu pergi, Ali Hafed begitu terkesan. Bahkan, berhari-hari ia tidak bisa membayangkan permata seperti itu. Sejak saat itulah Ali Hafed mulai merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Ia membayangkan betapa menyenangkan jika bisa memiliki permata seperti itu.
Pada suatu hari, Ali membulatkan tekad. Ia memutuskan menjual rumah serta ladangnya. Anak dan istrinya ia titipkan kepada tetangganya disertai dengan biaya hidup mereka. Dengan uang yang tersisa, Ali Hafed memutuskan pergi mengembara untuk mencari permata-permata yang luar biasa itu. Dia mencari ke segala penjuru kota, bahkan menyeberang ke negeri yang jauh.
Selama belasan tahun ia mencoba mencari permata itu hingga kelelahan fisik, mental, dan emosional. Dan akhirnya, di dalam kemiskinan dan rasa putus asa ia mengakhiri hidupnya dengan terjun ke laut Barcelona, Spanyol.
Sementara itu rumahnya sudah ditempati oleh petani lain. Suatu hari, saat sedang memberi minum unta di sungai dangkal dalam kebunnya, ia melihat sebuah batu aneh yang memancarkan sinar warna warni. Batu itu kemudian dibawa si petani ke rumah, diletakkan di atas bak perapian.
Suatu hari, pemuka agama yang biasa bertandang ke rumah petani itu melihat batu berkilauan itu. Si pemuka agama berkata, “Ini kan batu berlian! Apakah Ali Hafed sudah kembali?”
Kata petani baru itu, “Oh tidak, ia tak akan pernah kembali dan batu itu bukanlah berlian. itu hanyalah sebuah batu yang kami temukan di kebun kami.”
“Percayalah, aku sangat mengenal berlian begitu aku melihatnya. aku tahu pasti, ini berlian”, kata pemuka agama itu.
Kemudian mereka bersama-sama bergegas ke luar menuju kebun tua itu dan menggali pasir putihnya dengan jari-jari mereka. Dan ada lagi batu-batuan yang lebih cantik dan berharga dari yang pertama.
Itulah sejarah ditemukannya tambang berlian Golacanda, tambang terkaya sepanjang sejarah manusia. Berlian-berlian cantik kohinoor dan orloff yang dipakai menghiasi mahkota kerajaan Inggris dan Rusia, dan raja-raja Eropah lainnya… berlian yang berasal dari tambang itu.
Kisah ini menggambarkan, betapa kita sering sibuk mencari sesuatu, padahal terkadang kita sendiri tidak tahu apa yang sedang kita cari… aneh kan???
Demikian juga… orang mencari kekayaan ke mana-mana sampai lupa diri dan lupa makna hidup untuk apa… tragis!
INGATLAH… kalau seseorang tidak tahu apa arti uang dan apa arti kekayaan… bekerja keraspun dia, bahkan sampai berdarah-darahpun dia demi kekayaan… IA TETAP TIDAK KAYA.
Sungguh malang penjual ladang yang sebenarnya adalah tambang berlian itu yang meninggal dalam kemiskinan demi mengejar berlian kemana-mana.
Semua orang ingin hidup bahagia. Untuk itu ada banyak orang bersikap seperti Ali Hafed.
Kepada kita telah diberikan harta kekal; sumber kehidupan dari firman Tuhan. Tetapi banyak orang tidak menghargainya, bahkan sampai ada yang meninggalkannya dan mencari-cari serta memilih bentuk lain yang kelihatannya lebih baik. Akhirnya kehidupan rohaninya jadi kering tak terpuaskan, dan hal itu mempengaruhi kesehatan fisiknya juga.
Janganlah lupa memperhatikan apa yang paling baik dan berguna untuk kebutuhan rohani kita.
Pilihan yang paling tepat adalah memilih taat kepada firman-Nya. Dengan demikian kita akan terus dibangun dan hidup damai.
Sungguh firman-Nya adalah pelita hidup dan menjadi harta terbaik dan terindah bagi kita.
P u j i T u h a n ! !
Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.
Tuhan memberkati dan menyertai kita. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |




