Jiwa Bersifat Kekal

Viewed : 1,167 views

Ibrani 12:1-2
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Alkisah… sebuah kapal team ekspedisi berlayar kembali dari sebuah pulau terpencil. Kapal itu membawa banyak permata yang indah dan menarik.

Di dalam laut sekitar pulau itu banyak ikan hiu dan jenis binatang lainnya yang amat berbahaya bagi manusia. Oleh karena itu perjalanan harus dilakukan begitu cermat dan hati-hati. Perlu cara dan keahlian khusus bagi siapapun yang melintas di daerah itu.

Tiba-tiba badai ganas datang dan sangat berbahaya. Kapal mulai oleng dan tidak mampu lagi bergerak. Kapal tersebut nyaris karam karena banyaknya harta yang dibawa.

Para awak kapal panik karena hampir tenggelam. Mereka harus memilih; kapal tenggelam atau mereka bersedia membuang permata itu ke laut agar kapal menjadi lebih ringan dan mereka dapat selamat.

Mereka bingung. Mereka memandang permata yang banyak itu dan sayang sekali rasanya kalau harus dibuang. Tetapi demi nyawa, tidak ada pilihan. Permata itu harus dibuang agar mereka tidak mati konyol bersama kapal tenggelam.

Pilih harta atau nyawa?

Mereka tidak bisa memilih kedua-duanya. Mereka bahkan akan dapat kehilangan harta dan nyawa sekaligus bila keputusan salah.

Makna dari kisah kapal di atas adalah bahwa kita sering harus memilih untuk menyingkirkan atau membuang apa yang kita suka atau apa yang bagi kita menarik karena hal yang menarik dapat membawa celaka dan maut.

Naluri alamiah manusia cenderung memilih apa yang menarik dan menggiurkan, tetapi justru sering hal-hal yang menarik membawa akibat dan pengaruh buruk bagi jiwa kita.

Tentu kita lebih sayang akan jiwa karena itulah yang termahal. Apa yang diperoleh di dunia ini tidak ada artinya bila jiwa terganggu bahkan hilang.

Jiwa bersifat kekal, karena itu sayangilah!

Jangan biarkan kenikmatan sementara di dunia ini mencelakakan jiwa kita, yang membuat kita jauh dari hadirat dan jauh dari kehendak Allah. Dekat dengan Tuhan yang membuat jiwa kita aman, nyaman, bahagia dan sentosa.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Free-Photos from Pixabay

Comments

comments