220. ’Ayo Sampaikan!’

Viewed : 1,419 views

Ini masa kesesakan. Di mana-mana terendus aroma kesakitan. Wabah yang membawa kematian. Hati siapa yang tidak akan deg-degan. Jantung empot-empotan. Kalau seakan-akan setiap orang menunggu giliran. Apalagi kiri kanan bertumbangan. Semuanya kebingungan. Paranoid melanda setiap insan.

Tetangga berdehem pun sudah ketakutan. Langsung terlintas di pikiran yang bukan-bukan. Terdengar bersin saja sudah merasa tertekan. Jangan-jangan si Corona sudah menyapa yang bersangkutan. Akibatnya dapat memicu perasaan. Rasanya diri sendiri langsung alami gejala-gejala yang sering diberitakan. Jangan tanya lagi, seandainya ada yang batuk pilek yang kebetulan duduk bersebelahan!

Setiap jam ukur temperatur badan. Walau suhu normal, entahlah, tubuh terasa tidak nyaman. Mengapa kok jadi sulit menelan? Apakah tenggorakan meradang? Perasaan jadi bimbang. Khawatir si Corona sudah datang! Bukankah itu gejala awal? Ketakutan mencekam, meliputi orang yang sejatinya normal-normal.

Di zaman manakah orang cuci tangan berulang-ulang? Terasa virus di tangan tidak mau hilang-hilang. Setiap orang merasa tidak yakin dengan dirinya. Walaupun protokol kesehatan sudah diikuti dengan setia. Biarpun sudah memakai masker, hand sanitizer, disinfectant, dan lainya. Tetap saja merasa tidak aman dari si Corona.

Dengarlah ini, hai para tua-tua, pasanglah telinga, hai seluruh penduduk negeri! Pernahkah terjadi seperti ini dalam zamanmu, atau dalam zaman nenek moyangmu? (Yoel 1:2)

The Message:

Attention, elder statesmen! Listen closely, everyone, whoever and wherever you are! Have you ever heard of anything like this? Has anything like this ever happened before—ever?

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Yang punya telinga dengarkan! Hei kaum yang merasa dari golongan elite rohaniawan. Buka mata! Dan kamu semua orang awam yang merasa tidak tahu apa-apa. Simak dengan saksama! Pernahkah kau rasakan ketakutan seperti ini? Bagaimana rasanya berhadapan dengan maut yang tak kasat mata? Namun, nyata. Ada di depan mata!

Bisa jadi! Peristiwa ini pertama sekaligus yang terakhir kali. Dan itu daku dan dikau tidak akan alami lagi. Sekali dalam sejarah setiap pribadi. Bak mimpi buruk di siang hari. Kisah-kisah kehidupan yang menyayat hati. Seolah kalau bisa yang meninggal pun ke liang lahat harus jalan sendiri. Sudah sebegitunyakah keadaan sekarang ini?

Tak terbayangkan! Sulit dijelaskan. Kata-kata tidak cukup untuk menggambarkan. Bagaimana mungkin ini bisa menjadi nyata di depan mata. Bukan saja jumlah yang terinfeksi bertambah merajalela. Bahkan semua tempat ibadah agama. Tempat suci yang dipuja-puja. Diporakporandakan menjadi kosong tak berguna. Sungguh betapa dahsyatnya si Corona.

Korban sajian dan korban curahan sudah lenyap dari rumah TUHAN; dan berkabunglah para imam, yakni pelayan-pelayan TUHAN. (Yoel 1:9)

The message:

Without grain and grapes, worship has been brought to a standstill in the Sanctuary of GOD. The priests are at a loss. GOD’s ministers don’t know what to do.

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Ibadah rutin semua agama. Lenyap dari tempatnya. Keramaian hari-hari raya nan istimewa. Telah hilang begitu saja. Korban perpuluhan sudah tidak ada. Pemuka agama tidak tahu harus berbuat apa. Mimbar telah ditinggal pergi oleh mereka yang biasanya pandai bicara. Kidung puja puji telah hilang dari gedung gereja. Pelayan-pelayan Tuhan bingung harus bagaimana.

Bagaimana bisa tempat yang tidak pernah sepi. Umat bergelombang datang dari berbagai negeri. Penuhi panggilan agama walau berdesak-desakkan. Jauh dari nyaman. Bahkan nyawa pun bila perlu dipertaruhkan. Tiap hari sepanjang tahun tak henti-henti. Rela menempuh ribuan kilometer demi dapat memanjatkan doa di lokasi yang dikeramatkan.

Tiba-tiba seakan-akan bagai hanya membalikkan tangan. Semua berubah sekejap. Dulu urutan ritual pantang berubah ternyata itu tidak tetap. Imam-imam kepala rumah Tuhan. Kaum elite rohani beserta pelayan hamba-hamba Tuhan. Berduka karena tidak ada pekerjaan. Fondasi iman setiap orang dibolak-balikkan.

Siapakah yang akan percaya jika fakta ini diberitakan? Generasi berikutnya ragu kalau seperti ini pernah menjadi kenyataan.

The message:

Make sure you tell your children, and your children tell their children, And their children their children. Don’t let this message die out. (Yoel 1:3)

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Ayo sampaikan! Jangan diam-diam. Ayo ceritakan! Jangan bungkam. Pengalaman mendebarkan berjalan dalam bayang-bayang kematian. Pastikan generasi mendatang memetik pelajaran. Dan meneruskannya ke generasi kemudian. Hikmat dari pengalaman daku dan dikau. Janganlah biarkan begitu saja itu berlalu. Terlau mahal harganya kalau akhirnya itu kelak hanya sekadar cerita dari masa lampau.

Ayo sampaikan! Pengalaman tatkala sendi-sendi agama berantakan. Iman setiap orang ditantang. Fondasi agama digoncang. Rumah-rumah ibadah seolah ditiadakan. Tempat-tempat sakral seakan dihinakan. Imam-imam kehilangan pekerjaan. Tiada persembahan. Tidak ada korban. Apalagi musik puji-pujian.

Ayo sampaikan! Didiskusikan! Ajak anak-anak dan teman persekutuan. Jangan enggan. Ini kesempatan. Tidak usah segan. Terlalu mahal untuk itu begitu saja dilewatkan.

Ayo gerakkan! Kembali ke essensi iman. Substansi ibadah yang tulen. Saling tolong menolong dengan handai tolan! Bantu mereka yang dalam kekurangan. Jangan heran! Itulah ibadah yang Tuhan berkenan! Moga itu sampai ke generasi kemudian..🙏 (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Pete Linforth from Pixabay

Comments

comments