Apa boleh buat. Tak lagi bisa didebat. Apalagi diralat. Walau boleh-boleh saja tak sependapat. Tak ada yang melarang untuk tutup mata rapat-rapat. Tak peduli apa yang dilihat. Anggap itu hanya hikayat. Dongeng bagi generasi melenial itupun sudah tidak tepat. Ceritera dengan ancaman kualat.
Namun, bisa itu akan jadi lebih selamat. Lebih sehat. Lebih bermanfaat. Jika kisah itu diterima walau berat. Itu bak obat. Pil pahit bagi jiwa yang penat. Daku dan dikau hidup karena apa yang dilihat.
Pilihan telah dipastikan. Semua keturunan Adam, tak ada pengecualian. Entah engkau suka. Ataupun murka. Semua sudah terperangkap mata. Tak dapat mengelak dari mata. Hidup berdasarkan apa yang kentara.
Entah bagaimana. Sejatinya, setiap obyek yang nyata. Apa yang dilihat mata. Menjadi berharga. Akhirnya? Itulah yang memberi makna. Sehingga dikejar ke mana mana. Akibatnya? Selalu menuntut fakta. ‘Fakta bicara!’ Untuk apa? Agar percaya! Celaka!
Daku dan dikau terjebak kedalam dunia nyata. Terkurung di dalam dunia sekarang. Terpenjara dalam dimensi waktu dan ruang. Hidup dengan sistem darah dan daging. Bergantung kepada proses biologis. Reaksi kimiawi dan hormon yang membuat dikau mampu kritis. Sayang seribu kali sayang. Dunia sekarang akan hilang. Habis dilibas oleh waktu yang tak dapat diulang.
Celaka! Tak mampu lagi melihat apa yang di balik cakrawala.
Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:18)
There’s far more here than meets the eye. The things we see now are here today, gone tomorrow. But the things we can’t see now will last forever. (The Message)
Terjemahan bebas dan paraphrasing:
Di dunia kini. Di hidup sekarang ini. Semua yg bisa ‘diicipi.’ Ingat! Masih jauh lebih banyak dari yang teramati. Banyak hal yang melampui yang dilihat mata badani. Yang tampak sekarang ini. Nyata saat ini. Esok tiada lagi. Akan tetapi. Yang tak nyata saat ini. Hal yang tak dapat dilihat mata jasmani. Itulah yang bertahan hingga kekal abadi.
Apa yang sedap dipandang mata. Yang dapat dirasa. Yang dapat diraba. Pelepas dahaga. Semua fakta. Yang nyata-nyata. Puncak capaian dunia. Yang diburu seantero manusia. Dari purbakala. Hingga sekarang tetap seperti sediakala. Seluruhnya merebut yang tak tahan lama.
Gawat! Itu ternyata sementara. Sebatas terlihat oleh mata. Sejauh kaki cakrawala. Akhirnya ditinggalkan selama-lamanya.
They have eyes but don’t see a thing, they have ears but don’t hear a thing. (Yehezkiel 12:2 the Message: Mereka memiliki mata tetapi tidak tampak apa-apa, mereka memiliki telinga tetapi tidak dapat mendengar nada.)
Siapakah yang punya mata? Siapakah yang punya telinga? Masih adakah yang melihat? Adakah yang mendengar?
Ups! Apakah daku buta? Dan dikau tuli? Sehingga tak lihat apa-apa. Tak dengar suara. Tunggu! Bagaimanakah mungkin mata normal tak tampak benda? Telinga sehat tak dengar nada. Mungkinkah karena daku dan dikau terpenjara? Terkurung di lingkungan kasat mata.
Dunia ku ternyata hanya seputar sini saja. Berjuang memenuhi selera belaka. Nafsu makan dan dahaga. Hasrat untuk memuaskan mata. Keinginan yang tak terkira. Kesenangan hidup di dunia. Mati-matian mengejar yang fana. Sementara. Tak tahan lama. Akan berlalu, segera!
Aaahhh! Bukankah justru itu yang dikejar-kejar? Diburu tak kenal waktu sehingga pulang saat fajar.
Ia [Musa] bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. (Iberani 11:27)
Wah wah wah. Aku manusia celaka!
Bagaimana mungkin dapat melihat apa yang tak kelihatan? Mendengar yang tak terucapkan. Merasakan yang tak terbayangkan. Menggenggam erat dalam pikiran. Dapatkah lepas dari jerat panca indra yang menjerumuskan? Dan itu bukan khayalan! Tidak juga seputar angan-angan. Apalagi sebatas impian. Itu lebih terasa dari games ’virtual reality.’ Maya tapi nyata. Melihat yang tak kasat mata.
Selamat datang di dunia tipu menipu! Dunia hoaks yang palsu. Yang palsu bisa kelihatan sangat bermutu. Yang semu diburu.
Jangan percaya apa yang didengar. Itu belum tentu benar. Perangkap telah terpasang lebar-lebar. Di Eden seperti itu. Sekarang juga begitu. Daku dan dikau termakan bujuk rayu. Nasi telah menjadi bubur. Semua telah tercebur. Apa daya waktu tidak bisa lagi diundur.
Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! (Wahyu 13:9)
Masihkah ada yang punya telinga? Rela mendengarkan yang tak terucapkan. Adakah yang punya mata? Bersedia mengamati yang di seberang ‘sana.’
Gawat! Aku buta. Aku tuli. Hanya berputar-putar yang nyata. Nyata karena panca indra. Bukankah itu yang diburu manusia? Aku manusia celaka! Siapakah yang dapat melepaskan dari jerat nestapa? Jerat yang mengikat kita semua.
Berharap dikau masih mampu mendengarkan. Suara dari seberang sana. Melangkah walau penuh bahaya. Berharap walau tak kentara. Bertahan dalam hidup nyata.
Mari jalani hidup di dunia! Itu tidak lama. Waktunya segera akan tiba! Tetap tabah walau menderita. Karena tahu di sana. Ada kekasih yang setia. Masihkah ada yang punya telinga? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Eugene Capon from Pixabay



