Mengosongkan Diri

Viewed : 3,316 views

Para sahabat yang terkasih,

Mengapa saya marah?
Mengapa saya kecewa?
Mengapa saya pahit?
Mengapa saya tersinggung?
Mengapa saya baper dan sensitif?

Pertanyaan-pertanyaan retoris tersebut adalah pertanyaan refleksi yang baik. Saya pun terus bertanya kepada diri sendiri, dan menelisik lagi berbagai respon saya pribadi terhadap berbagai hal yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga membuat saya tersinggung, marah, kecewa, sensi, pahit dan sebagainya.

*

Belajar kepada Yesus, adalah belajar menjadi seperti Dia.

Mengosongkan diri adalah sebuah tindakan yang menganggap bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Yesus mengosongkan diri.

Filipi
2:5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
2:6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
2:7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
2:8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Kata mengosongkan diri di dalam terjemahan lain bermakna, “have no reputation”. Tidak ada reputasi yg harus dipertahankan, dijaga. Tidak ada “gengsi” yang harus dijaga, dipertahankan, sehingga karena hal tersebut membuat Kristus menjadi marah, pahit, sakit hati, dendam, sensi, kecewa kepada orang, pihak lain yang mengganggu reputasinya, menggoyang gengsinya, melukai egonya.

Semuanya sudah dikosongkan, tidak ada alasan bagi pihak lain mengganggu/mengambil sesuatu yang tidak ada di dalam diri Nya.

Kristus tidak terganggu dengan respon orang lain sehingga membuat dirinya harus “jaim”, tetapi fokusnya adalah bagaimana kasih Allah dinyatakan dan berita sukacita kerajaan Allah dihadirkan.

Kristus sudah selesai dengan dirinya. IA layak mendapatkan penghormatan dan kemuliaan.


Terkadang saya malu dengan diri saya sendiri, ketika jujur terhadap diri sendiri, hal-hal yang menyebabkan saya marah, kecewa, sedih, sensi dsb, karena sebenarnya lebih karena ego, perasaan gengsi, kepentingan dan agenda pribadi, rencana ataupun ambisi pribadi yang terhalangi dan menjadi rusak, rasa aman dan nyaman saya berkurang, atau ketakutan dan kekuatiran menghadapi masa depan, dsb.

Ketika masih ada sesuatu yang kita “pegang”, maka ketika yang kita “pegang” diganggu, maka hal tersebut membuat kita marah atau kecewa, dendam, atau pahit maka selayaknya kita perlu memeriksa diri kita, apakah hal yang kita “pegang” itu sudah menjadi berhala, yang memberi rasa aman, bagi diri kita.

Ketika sikap itu mengemuka, kita sudah menjadi penghalang bagi kabar syalom bagi sekeliling kita, mitra, pasangan, keluarga, komunitas maupun orang lain.

Sering kali bukan tindakan “mengosongkan diri” yang kita lakukan, sebagai sebuah respon iman untuk menguji dan memeriksa hidup kita dihadapan Allah, tetapi kita malah menjadi “penuntut” bagi pihak lain. Seharusnya begini dan begitu; atau kita membuat benteng-benteng ego bagi rasa aman kita. Kehadiran kita tidak menjadi pembawa kabar syalom bagi orang lain.

Kesatuan dalam kemitraan, pasangan suami-istri, keluarga, maupun komunitas tercipta sebagai hasil dari orang yang terus belajar menjadi seperti Yesus, yang mengosongkan diri.


Apa yang berhak kita “pegang” hanyalah apa yang dikaruniakan Allah kepada kita. Hal itu tidak dapat diambil, diganggu dari diri kita.

Kita perlu mengosongkan diri kita, supaya yang mulia, berharga dan kekal dikaruniakan di dalam hisup kita.

Salam,
Teja, 26/8/2019

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Image by mohamed Hassan from Pixabay

Comments

comments