Sejarah hidup setiap insan. Riwayat pada tiap-tiap zaman. Semuanya tersangkut kisah asmara. Ini bukanlah legenda. Apalagi sekedar roman picisan. Sadar ataupun tidak. Mengerti ataupun alpa. Siuman ataupun terlena. Sejatinya, kehadiranmu adalah peristiwa ‘a love affair!’ Romantika ilahi yang membara.
Di Eden, narasinya bermula dengan kisah percintaan. Cerita tentang cinta yang menyesakkan. Asmara tanpa diucapkan. Tapi nyata itu dapat dirasakan. Itu misteri segala zaman. Dan Adam alami itu kala dia hidup sendirian. Kendati semua serba ada tak berkekurangan. Terasa sepi walau dikelilingi binatang jinak menggemaskan. Menanti begitu lama terasa tak tertahankan. Adam tak kunjung menemukan.
Segala jenis binatang datang bergantian. Lenggang lenggok berjalan berpasangan. Semakin lama pemandangan itu semakin menyakitkan. Dan dia masih belum juga menemukan. Pengisi relung hati yang diidam-idamkan. Gorila yang mirip manusia juga tidak memuaskan. Bahkan kala dia dihampiri orang utan. Binatang yang begitu dekat keserupaan dengan insan. Pelukannya mungkin menjanjikan. Sayang, itupun tidak sepadan.
Adam tertunduk terdiam. Kesunyian yang menyiksa bathin. Biar burung berkicau sahut-sahutan. Udara segar bak di pegunungan. Angin sepoi-sepoi menyejukkan. Itupun tak dapat mengobati hati yang kesepian. Rindu yang tak tertahankan. Kangen yang tak terucapkan. Dambaan hati belum juga ditemukan.
‘Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.’ (Kejadian 2:23)
Itulah ungkapan Adam di kitab Kejadian. Luapan hati ketika ditemukan. Kekasih hati yang sepadan. Kalau saja dikau dapat menyaksikan. Melihat sendiri apa yang terjadi di Eden. Lihatlah! Wajahnya bersinar-sinar. Mata berbinar-binar. Kata dan kalimat tak cukup menggambarkan. Betapa senang dan gembira. Dua insan sejalan bergandengan tangan. Mesra. Romantis. Harmonis. Pasangan yang sungguh sepadan!
For I promised you as a pure bride to one husband, Christ. (2 Korintus 11:2, bahasa Inggris versi NLT, terjemahan bebas dan paraphrasing: Karena saya sudah berjanji. Menjanjikan dikau sebagai perawan suci kepada satu laki-laki. Kristus sebagai suami).
Ups! Jangan-jangan kisah cinta Adam. Penantiannya yang terasa begitu panjang. Kesepian yang menusuk begitu dalam. Hati gundah gulana tak terucapkan. Bisa jadi romantika di Eden. Itu mencoba untuk melukiskan. Menceriterakan rahasia cinta yang ada di balik awan. Rahasia besar, a profound mystery, tersembunyi dari cendiakawan. Itu membingungkan kaum elite rohaniawan. Akan tetapi itu terang benderang bagi yang tak berpindidikan (Matius 11:25).
Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. (Efesus 5:32)
Sesungguhnya kisah itu tersembunyi di rerumputan. Itu tertulis di dedaunan. Dikabarkan oleh siang dan malam melanjutkan. Ombak tak kenal lelah terus berdebur untuk mengingatkan. Langit tak sabar ingin mengungkapkan. Bahkan anginpun tak mau ketinggalan. Semuanya ingin ikut menceriterakan. Debaran hati akan kerinduan Sang Bapa ‘mencari’ jodoh bagi Sang Putra!
Berabad-abad love affair itu seakan terlupakan. Generasi ke genarasi berlalu mengabaikan. Akan tetapi, sejatinya, romantika itu terpatri dalam DNA setiap insan. Tersirat dalam setiap kebudayaan. Nampak dalam prosesi pernikahan. Kehadiran Hawa yang dinanti-nantikan. Itulah kerinduan hati-Nya yang terdalam. Keinginan-Nya yang tak terkatakan. Agar sadar, betapa diharapkan-Nya kehadiran dikau seorang.
Sebagaimana Hawa tak tergantikan oleh Gorilla. Begitukah dikau di hati-Nya? Laksana Adam mati rasanya merindukan si dia. Seperti itukah Dia kangen Adinda? Bagaikan Adam begitu sukacita bertemu kekasih jiwa. Luapan cinta yang terpendam begitu lama. Senang tak terkira. Ingin hidup bersamanya selama-lamanya. Bukankah kisah mahligai cinta berujung terwujudnya keluarga? Apakah Dia merindukan hal yang sama? Membentuk keluarga ilahi dengan kehadiran Saudara!
His unchanging plan has always been to adopt us into his own family by bringing us to himself through Jesus Christ. And this gave him great pleasure. (Efesus 1:5, bahasa Inggris versi NLT, terjemahan bebas dan paraphrasing:_Rencananya tidak berubah. Dari semula Dia berkehendak membentuk keluarga ilahi. Di dalam Kristus, Dia mengadopsi daku dan dikau ke dalam keluarga-Nya sendiri. Kehadiran-mu dalam keluarga ini sungguh membuat Dia gembira tiada tara).
Wah wah wah. Dia gembira tak terkira. Itu yang ada di hati-Nya. Rencana abadi sejak purbakala. Maksud kekal dibalik semua penciptaan. Sebelum ada apa-apa. Dia bermaksud. Berkehendak. Berkeinginan. Dia berniat membentuk keluarga. Keluarga Allah nan abadi selama-lamaya. Dan itulah alasan Adinda ada, untuk masuk dalam keluarga-Nya.
Bukankah tradisi mempertontonkan? Budaya ikut melestarikan. Generasi ke genarasi mengabadikan. Media sosialpun ikut-ikutan. Photo ‘aduhai’ bertebaran. Momen langka yang sudah lama dirindukan. Facebook dan Instagram lengah memberitakan. Betapa sukacitanya sejoli bersanding di pelaminan!
Orangtua senang. Handai tolan gembira. Tak terkecuali tetangga. Keluarga jor-joran. Merayakan momen yang tak akan terlupakan. Itu sudah dipersiapkan tahunan. Makanan istimewa dihidangkan. Aaahhh, tak tertinggal anggur kwalitas prima. Semuanya sukacita. Seperti kisah cinta Adam dan Hawa berujud dalam pernikahan. Akankah begitu kelak di dunia yang akan datang? Kisah di Eden bayangan cerita nyata di langit mendatang.
Ayo yo yo. Siuman! Untuk era yang akan datang itulah, alasan dikau ada. Baik-baik saja setia dalam perpuluhan. Bagus bila rajin ikut persekutuan. Mantap tidak pernah bolong ikut ibadah mingguan. Tidak ada salahnya aktif ikut kegiatan. Namun namun namun. Bukan itu! Jauh lebih dari sekedar segitu. Dikau itu dirindukan. Bak Adam kesengsem Hawa. Tidakkah dikau dapat rasakan? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Ulrike Leone from Pixabay




