Perbantahan

Viewed : 1,242 views

RENUNGAN
Lukas 2:25-26, 34
Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan

Simeon seorang saleh diberi kesempatan secara fisik melihat Yesus… Mesias. Simeon sangat bersukacita setelah melihat Yesus yang masih kecil.

Yang menarik adalah perkataan Simeon bahwa kehadiran Yesus akan menimbulkan perbantahan.

Apa yang dikatakan Simeon sungguh benar bahwa ada berbagai tanggapan orang tentang kelahiran Yesus mulai dari -10 hingga +10.

Saat inipun kita rasakan ada banyak orang yang sungguh bersyukur dan bersukacita menyambut hari kelahiran Yesus. Perayaan Natal merupakan wujud sukacita, meski memang dalam perayaan itu ada juga yang kehilangan esensi dan makna Natal yang sesungguhnya.

Di pihak lain, ada yang tidak setuju dengan perayaan Natal. Bahkan tidak jarang yang mau merayakan Natal mengalami gangguan. Ada yang mengharamkan penyampaian Selamat Natal. Tentu mereka memiliki alasan yang tidak perlu kita persoalkan.

Memang perlu kita menjelaskan sesuai kapasitas dan pemahaman kita tentang arti Natal. Namun bila penjelasan kita tidak dimengerti, tidak dipahami… tidak apalah. Tak perlu diperdebatkan.

Atau juga merupakan koreksi bagi kita, jangan-jangan meriahnya Natal hanya bagi kita saja? Orang yang belum percaya tidak rasakan apa-apa, mereka hanya melihat kita melakukan kegiatan meriah-meriah dengan menghabiskan banyak uang.

Memang terasa senang juga masih ada yang menyampaikan Selamat Natal atas dasar toleransi, kerukunan dan persahabatan. Tentu ini kita terima dengan senang hati.

Tapi ada juga yang tidak menyampaikan apa-apa dan berdiam diri sepi-sepi saja. Inipun tidak mengapa. Tetap hargai juga mereka. Jangan persahabatan jadi retak, apalagi sampai membenci… JANGAN !

Bukan penyampaian ucapan Selamat Natal yang kita perlukan meski memang itu dapat mempererat hubungan kita sesama anak bangsa. Akan tetapi yang terpenting adalah kita meyakini bahwa kelahiran Yesus merupakan bukti kasih Allah terbesar dalam hidup ini. Kita dibebaskan dari hukuman dosa oleh kedatangan-Nya. Ini yang terutama!

Orang percaya atau tidak, orang menyampaikan selamat atau tidak, tidaklah masalah utama. Tunggu sajalah… Tuhan Yesus nanti yang akan berurusan dengan orang percaya dan dengan orang tidak percaya.

Kemuliaan Allah dan tujuan kelahiran Sang Penebus sama sekali tidak dipengaruhi dari ucapan Selamat Natal orang-orang. Bahkan Tuhan Yesus tidak pernah menyuruh murid-murid-Nya merayakan kelahiran-Nya. Perayaan kelahiran-Nya hanyalah tradisi kita saja sebetulnya. Kitapun tidak disuruh berharap-harap agar orang lain menyampaikan Selamat Natal kepada kita. Jadi buat apa kita ributkan soal apa kata orang sehubungan hari kelahiran-Nya?.

Yang Yesus suruh adalah kabarkan Injil dan taat kepada perintah-Nya. Ini yang penting. Jangan sampai pesan ini hilang dari diri kita.

Soal perasaan kurang menyenangkan dari orang yang acuh tak acuh akan hari kelahiran-Nya, sebaiknya akhiri sajalah. Sebab memang Simeonpun mengatakan bahwa kedatangan-Nya akan menimbulkan perbantahan dengan berbagai cara dalam berbagai bentuk. Apa yang terjadi di seputar peringatan hari kelahiran-Nya adalah bagian dari perbantahan yang dikatakan Simeon.

Bagi kita yang telah percaya kepada Yesus, mari kita nikmati sukacita akan hari kelahiran-Nya sebagaimana Simeon bersukacita dan penuh damai melihat Yesus Sang Mesias.
Puji Tuhan.

SELAMAT HARI NATAL

Selamat beraktifitas…
Selamat melayani..

Tuhan menyertai dan memberkati kita.
Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Comments

comments