RENUNGAN
Pengkhotbah 7:2
Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.
Di rumah duka kita akan mendengar tangisan. Suasananya sedih. Identik dengan air mata. Banyak orang datang berpakaian hitam tanda duka yang dalam. Ada orang-orang tertentu yang merasa sulit makan di rumah duka. Efek psikologis barangkali?
Di rumah pesta suasana meriah. Orang-orang tertawa ceria. Makanannya diusahakan enak. Musik pun hadir melengkapi. Pakaian orang-orang menarik beserta asesoris menawan. Orang banyak bercanda di rumah pesta.
Tetapi mengapa Pengkhotbah mengatakan ke rumah duka lebih baik dari pada ke rumah pesta?
Di rumah duka kita akan berpikir dan merenungkan tentang hari kesudahan… hari akhir. Semua orang akan mengalami hari akhir. Tinggal nunggu tahun… bulan… minggu… hari… jam… menit… detik. Singkat dan amat singkat. Mungkin tidak ada yang menunggu satuan waktu abad, sebab sangat jarang. Tidak ada yang bisa menghindar dari hari akhir.
Dengan merenungkan hari kesudahan, maka kita diingatkan akan proses hidup yang sedang kita jalani yang nanti berujung di hari akhir. Inilah yang harus kita perhatikan.
Bagi para sahabat yang sedang berduka… tetaplah kuat dan sabar. Tetaplah teguh di dalam pengharapan serta terimalah penghiburan kekal di dalam Yesus Kristus.
Pujilah Tuhan dalam suka dan duka.
Selamat belajar…
Selamat bekerja…
Selamat beraktifitas…
Selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati kita.
Amin.
Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |




