Apa yang terjadi di era sebelum datangnya banjir besar, menjadi diskusi yang tiada habis-habisnya dia antara para pakar. Bukan saja mengusik para teolog namun berimbas juga hingga kepada kaum cendiakiwan berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Isu peradaban di era antediluvian menjadi topik debat yang tidak tamat-tamat. Mengapakah Sang Pencipta amarah-NYA begitu hebat? Sehingga korban air bah begitu banyak. Dan kejadian itu tertulis dalam halaman-halaman pertama kitab Kejadian.
Rupa-rupanya, DIA berkehendak untuk mengabadikan insiden itu dalam HIS-tory. Daripada menutup-nutupi nohta hitam dalam stori peradaban, sebaliknya dengan terus terang DIA berkata: AKU menyesal menciptakan manusia! (Kejadian 6:5,6)
Sulit dapat dipahami Sang Maha Bijaksana juga dapat menyesal! Dan ini bukan hanya ekspresi emosi ringan. Mengapa? Karena di akhir ayat 6, ditulis kata-kata: …hal itu memilukan hati-NYA! Pilu? Bukankah itu suatu ungkapan, bagaimana hati Sang Pencipta sangat terpukul dengan sikap dan perbuatan makhluk ciptaan-NYA di era sebelum air bah?
Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, (Kejadian 6:1)
Tidak tersedia data yang memadai, pasal 4 dan ke 5 kitab Kejadian pun tidak cukup digunakan bahkan hanya sekadar berandai-andai. Ayat pertama dari pasal ke 6 pun hanya memberi indikasi serupa, itu hal-hal yang berhubungan dengan keberlangsungan keturunan manusia belaka: ‘…manusia bertambah banyak!’
Penulis kitab Kejadian, sebagaimana kitab-kitab yang lainnya, tidak menyampaikan sesuatu tanpa ada maksud dan tujuan. Mengapa secara terselebung tanpa ada penjelasan lebih nyata diselipkan frasa …lahir anak-anak perempauan? Ada apa dengan anak-anak perempuan? Apakah tidak ada yang dilahirkan anak laki-laki? Ataukah ada tersembunyi makna penekanan penggunaan ungkapan anak perempuan?
Aaahhh..! Apakah drama di Taman Eden kembali terjadi? Namun kali ini, melibatkan si Hawa-Hawa lain yang jauh lebih banyak. Itukah ayat ke 1 maksudkan? Manusia bertambah banyak, lahir anak perempuan, juga tentunya sangat banyak!
Intervensi makhluk adikodrati, kembali terjadi! Alam maya kembali bertegor sapa dengan alam nyata. Namun kali ini jauh sangat membabi buta karena terjadinya bukan di Taman Sorga, namun di dunia! Mengapa tidak? Kalau trailer di Eden tidak cukup membuat DIA menyesal, yang ini tentulah telah melewati batas toleransi yang digariskan Sang Maha Kuasa dengan tebal-tebal!
Apakah kehendak bebas makhluk bumi dan adikodrati dapat berbuat sedemikan jauhnya?
“Sama seperti yang terjadi pada zaman Nuh, begitu pula kedatangan Anak Manusia akan terjadi. Sebab, seperti pada hari-hari sebelum air bah, mereka makan dan minum, menikah dan dinikahkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera. (Matius 24:37,38 AYT)
Wah wah wah, gawat!
Apakah era sekarang ini, era sebelum kedatangan Kristus yang ke 2 kalinya, sudah mulai mirip dengan era antediluvian? Mungkinkah tanpa kusadari, manusia di laboratorium-laboratorium rahasia sedangkan mencipta? Begitu juga, dengan segala usaha di semua jenjang pendidikan menanamkan paham bahwa DIA tidak ada!
Apakah kebablasan berbicara, berpikir, bahkan berinovasi di segala sektor kehidupan sedang menuju secara cepat ke garis tepi batas toleransi Sang Ilahi? Bak di Eden, persengkongkolan ekspresi free will kembali ditujukan untuk melepaskan diri dari kehendak-NYA. Bahkan pengaruh itu tak terkecuali juga sudah lama melanda dan menggoda pendapat para pakar teologia.
Ini era serba virtual reality, maya namun terasa nyata – nyata namun itu hanyalah sebatas perasaan. Antara fakta dan khayalan tidak ada lagi batas nyata. Lantas, untuk terhindar dari tsunami peradaban era antediluvian modern, daku dan dikau, kaum awam, ke manakah harus mencari bahtera? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes. Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM |


