Manusia yang Bersalah Cenderung Mencari Pembenaran

Viewed : 482 views

Roma 2:11
Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama.

Dalam suatu kunjungan ke penjara, seorang rohaniawan mencoba berdiskusi dengan beberapa orang tahanan.

Inti pembicaraannya adalah mengapa narapidana itu sampai di rumah tahanan. Semuanya cenderung membenarkan diri.

Salah satu mengatakan, ”itu bukanlah kesalahan saya. Saya difitnah! Ada orang-orang yang tidak senang kepada saya, lalu mereka itu bersekongkol untuk menghancurkan hidup saya”

Ketika Adam melanggar perintah Allah dengan memakan buah pohon yang dilarang, Adam berkata, ”Perempuan yang ditempatkan di sisiku, dialah yang memberi buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”

Hawa juga berkata, ”Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Pada dasarnya manusia yang bersalah cenderung mencari pembenaran. Cenderung menghakimi dan mempersalahkan pihak lain dan menyalahkan keadaan bila melakukan suatu tindakan yang tidak bisa diterima. Inilah tabiat dosa yang masih bercokol dalam hati manusia.

Kita diajarkan untuk bertobat dan bersedia terbuka serta mengakui kesalahan kita. Kita diajarkan untuk bertobat. Tidak melemparkan tanggung jawab ke pihak lain, apalagi menghakimi orang lain. Dengan demikian pengampunan yang sempurna dari Allah akan menyucikan kita.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by RODNAE Productions

Comments

comments