369. Kunang-Kunang

Viewed : 368 views

Trailer adegan di Taman Sorga mengundang perdebatan sepanjang masa. Adegan singkat bak legenda penyebab peradaban ternoda. Ceritanya kurang dari satu halaman, namun siapa sangka akibatnya terasa hingga ke dalam kekekalan.

Topik perselisihan sepanjang zaman, perdepatan yang tak kunjung padam. Adegan pendek yang pengaruhnya begitu signifikan kepada kemanusian. Cuplikan peran yang membuat sejarah penuh dengan penderitaan.

Siapapun yang mau berpikir, tidak akan puas dengan fakta yang diuraikan. Seribu satu tanda tanya dikemukakan. Bagaimana mungkin peristiwa di era antah berantah akibatnya ditanggung oleh generasi kemudian, sampai-sampai daku yang hidup jauh di abad belakangan pun tak dikecualikan.

Walau narasinya sederhana, namun dikau pasti dapat langsung menebak biang keladi semua, si ular. Kalau melihat arti kata Iberaninya, nachash (sila kunjungi biblehub.com), ternyata kata itu dapat berarti bermacam-macam.

Kata nachas jelas maksudnya, namun dalam penggunaannya agak luwes. Kata bendanya, nachas berarti ular, binatang melata (reptilia, ordo squamata) yang umum dikenal. Juga kata itu dapat berfungsi sebagai kata kerja (nochesh) yang berarti diviner, penyambung info dari alam supranatural. Namun, itu juga dapat menunjuk ke kata sifat (nechosheth), mengkilat seperti perunggu atau perak.

Sebagai diviner, dengan sementara mengenyampingkan isi berita, pantaslah dia yang berkomunikasi dengan Hawa untuk menyampaikan info dari dunia sana. Sepertinya Hawa pun maklum akan siapa dia, sehingga dialog terjadi begitu saja bak tak akan terjadi apa-apa.

Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh orang banyak. (Daniel 10:6)

Penggunaan kata nachash sebagai kata sifat terlihat jelas dalam Daniel 6 di atas. Mungkinkah makhluk yang berkomunikasi dengan Hawa itu tampilannya bersinar-sinar, bercahaya sebagai cara penulis kitab Kejadian menggambarkan siapa dia?

Bagi umat di era Perjanjian Lama, batu mulia dengan beraneka rupa cahayanya serta kilat yang menyambar-nyambar merupakan cara efektif namun sederhana untuk melukiskan atau pun menyatakan kehadiran keilahian dari dunia sana di dunia nyata.

Jadi wajarlah, kalau Hawa santai saja tegor sapa dengan si ular. Mungkin juga dia tengah ingin mendengar, kabar apa gerangan yang hendak disampaikan. Hawa sepertinya harap-harap cemas menanti berita apa yang akan dia dengar.

Tentu suasana disekitar lokasi dialog jauh dari menyeramkan bahkan sebaliknya suasana ria ditaburi pancaran sinar terang benderang berkilau-kilau. Terjadilah dialog beberapa kalimat yang kelak akan menjungkirbalikkan martabat daku sebagai gambar dan rupa dari Sang Kuasa.

Dengan demikian, kata ular tersebut mengandung tiga maksud. Tiga makna yang artinya sesuai dengan konteks atau pun situasi yang hendak disampaikan. Ketiganya saling melengkapi untuk memberikan pengertian atau pun gambaran yang lebih nyata.

Ini ibarat kata kunang-kunang dalam bahasa Indonesia. Sebagai kata benda, dia jenis binatang dari golongan kumbang. Tapi juga kalau digunakan sebagai kata kerja bermakna bercahaya untuk menerangi kegelapan walau hanya berkedap-kedip. Tapi juga dapat sebagai kata keterangan yang berarti kepala yang sedang pusing (berkunang-kunang).

Wah… lempengan puzzle ini jauh dari pengertianku selama ini. Potongan gambar yang kemungkinan akan membuka tabir pemahaman yang selama ini membingungkan. Apa yang terjadi di Taman Sorga, sejatinya, sangatlah serius.

Mungkinkah ada pembrontakan makhluk dari dunia sana? Penyelewengan tugas dari sang diviner, dari fungsi perantara penyampaikan kabar dari ilahi menjadi pemutarbalikkan fakta yang membawa petaka.

Lalu, mengapakah dia dilambangkan bahkan disebut sebagai ular? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments