305. Rhythm of Covid-19

Viewed : 789 views

Sungguh sulit dipercaya apa yang dilihat, ternyata hantaman pandemi ini sungguh dahsyat. Tak terbayangkan, betapa kuat terlihat sebelumnya, sekarang semua berantakan. Kalau saja dikau serta, melihat apa yang ada di depan mata, dikau akan ternganga-nganga, tempat semegah ini juga dapat dibuatnya tidak berdaya.

Pusat perbelanjaan termegah di pantai Utara kota Jakarta, dengan sejumlah menara hunian mewah untuk mereka yang termasuk hidupnya berada. Dari sini dikau dapat melihat samar-samar pulau seribu, itu terhampar juah terlihat bak berserakan di kaki langit biru. Lokasinya prima, bisnis laris manis lancar jaya.

Toko dan restauran berjejer dari merek-merek ternama. Di hari-hari biasa saja, berduyun-duyun pengunjung berdatangan dari mana-mana, apalagi di hari raya. Perputaran bisnis yang menguntungkan, sekaligus membuka ribuan lapangan pekerjaan.

Kini? Fasilitas parkir bak seluas lapangan sepak bola hanya ditempati belasan kendaraan. Sepi cenderung angker bak bangunan tua yang lama telah ditinggal pergi penghuni. Toko-toko tutup, kursi-kursi resto dibalik, lampu-lampu padam, bahkan meja-meja dibiarkan dilapisi debu, dan sarang laba-laba menjalar ke mana-mana.

Tak terpikirkan berapa kerugian bisnis yang diderita, dan phk yang menimpa ribuan tenaga kerja. Dan akibatnya juga ribuan jiwa dari keluarganya dibuat merana. Mal yang dulu begitu megah dan menjadi idaman untuk tempat berbelanja, sekarang ditinggalkan begitu saja. Siapa duga, keadaan sukses itu begitu singkat, tiba-tiba berbalik dilibas si Corona.

Bukan saja dunia bisnis, di bidang kerohanian juga sama saja. Dana yang begitu besar digunakan untuk membangun gereja, selama pendemi itu cenderung menjadi sia-sia. Jema’at yang biasanya duduk berhimpit-himpitan, sekarang kursi kayu jati yang begitu berhaga dibiarkan nganggur tidak berguna.

Begitu pula dengan ruangan serbaguna untuk tempat persekutuan ataupun acara pernikahan, dan kamar-kamar untuk ruang kerja hamba Tuhan, sama saja, sudah tidak tepat guna. Apalagi kelengkapan ibadah yang juga tidak murah, sekarang terlantar karena wabah.

Ritual sakral sebagai ciri khas setiap denominasi, dalam beribadah itu begitu diikuti. Di era pandemi, itu tidak lagi dianggap suci. Setiap pribadi dipaksa untuk tentukan sendiri, bahkan jema’at pun cenderung sudah tidak peduli. Seakan-akan ini waktu di mana kekhusyukan ritual sudah tidak ada lagi.

Bentuk kebiasaan persekutuan ataupun pemuridan, yang lalu-lalu digunakan sebagai ukuran pertumbuhan iman, kini sudah tidak dapat lagi diandalkan. Rasa-rasanya tidak ada lagi yang cukup kuat, semua kebiasaan masa lalu begitu mudah tercabut.

Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. (Matius 15:13)

Rhythm of Covid-19, semua dipaksa ikut irama tarian si virus yang tidak kelihatan. Yang tak senada disingkirkan tanpa kenal belas kasihan. Walau kebiasaan itu dulu berguna, jema’at anggap itu sebagai ukuran pertumbuhan iman sejak lama, apa mau dikata, itu ternyata tak sejiwa dengan senandung si Corona.

Kenyataan ini membuat daku galau, apakah demikian juga dikau? Semua kebiasaan itu walau dilakukan sejak dulu kala, itu sudah menyatu dengan liturgi gereja, bahkan ciri utama dari gerakan pemuridan yang berlipatganda. Mungkinkah itu tidak berasal dari BAPA? Apakah ritual dan bentuk itu hanyalah hasil rekayasa manusia?

Mungkinkah ada bentuk ibadah yang tahan dari segala cuaca? Ritual yang malahan larut harmonis dengan irama tarian si Corona. Bentuk yang akan bertahan selama-lamanya karena BAPA-lah yang menanamnya. Apakah ada? Lalu, yang lalu, bagaimana? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Tumisu from Pixabay

Comments

comments