Kejadian 50:15-17
Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: “Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya.”
Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: “Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya.
Ketakutan saudara-saudara Yusuf muncul ketika ayah mereka, Jakub, telah meninggal.
Mereka khawatir Yusuf akan berubah sikap dengan cara membalas kejahatan yang telah mereka lakukan. Mereka ketakutan.
Untuk menghindari ketakutan itu, merekapun membawa pesan yang sebetulnya tidak benar… hoax. Mereka berbohong. Mereka mengatakan bahwa Jakub menyuruh Yusuf untuk mengampuni saudara-saudaranya.
Kalau memang Jakub ingin Yusuf mengampuni saudara-saudaranya, pastilah dia sampaikan hal itu selagi Jakub masih hidup.
Sebetulnya mereka lebih baik terus terang saja minta maaf. Minta diampuni. Minta dilindungi… selesai.
Bukankah Yusuf begitu baik selama ini telah menolong mereka? Mengapa harus berusaha berbohong membawa-bawa pengaruh ayah mereka yang telah tiada?
Yusuf yang berhati lembut sampai tak tahan menangis melihat perilaku saudara-saudaranya itu… bukannya marah. Luar biasa kemurahan dan keluhuran hati Yusuf.
Kisah di atas menjadi pembelajaran baik bagi kita, khususnya dalam konteks keluarga.
Jika ada kesalahan kita terhadap saudara, jujurlah mengakui dan ambil langkah untuk tidak mengulangi. Rendah hatilah. Jangan berdalih membela diri. Minta maaflah.
Jika ada saudara kita yang bersalah, jangan dendam. Ampunilah. Berdamailah. Teladani Yusuf. Bermurah hatilah. Jangan marah. Bukalah pintu maaf. Jangan membalas kesalahan mereka dengan kemarahan.
Marilah kita mengembangkan kasih persaudaraan, khususnya dalam keluarga kita. Terlebih di masa susah di masa pandemi ini, imunitas kita akan lebih terjaga jika terpelihara suasana damai di hati… jika atmosfir damai nyata di antara kita.
Mazmur 133:1-3
Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!
Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.
Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.
Selamat beraktivitas.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Image by CCXpistiavos from Pixabay




