246. ’Tinggal Kata’

Viewed : 482 views

Melihat angka-angka yang meroket. Siapapun akan kaget. Sudah lebih 35 juta orang disapa si Corona di seluruh dunia. Talisilaturahmi antar sesama. Perjalanan antara negara. Tidaklah lagi sama seperti sediakala. Perubahan cepat begitu nyata. Bahkan hingga gedung-gedung megah tempat ibadah dari semua agama. Bak dibuatnya terbengkalai sia-sia.

Hidup di era ini. Perioda yang sebelumnya belum pernah terjadi. Bukan basa basi. Ataupun lembaran buku yang sekadar berupa narasi. Ini bukan mimpi. Bak peringatan dari purba sudah terbukti. Kejadian perioda ribuan tahun berulang lagi. Di masa ini. Di generasi ini. Daku dan dikau alami sendiri.

Sejararah mencatat. Tertulis dengan begitu cermat. Itu takkan mungkin lagi diralat. Kisah berdarah-darah mempertahankan kemuliaan rumah Tuhan. Betapa pekanya perkara rumah peribadatan. Dari semua kepercayaan. Dari ribuan tahun lalu terjadi. Hingga abad ini pun dialami.

Begitu sensitifnya masalah rumah ibadah. Itu bak balon benjol yang mudah pecah. Jama’ah lekas betul marah-marah. Dan umat dengan gagah. Tak kenal lelah. Apalagi pasrah. Akan berjuang habis-habisan mermpertahankannya hingga habis darah. Begitulah pekanya posisi Bait Allah.

Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama. Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat, sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.” (Kisah Para Rasul 6:12-14)

Stefanus kena amarah karena isu tentang rumah Tuhan. Menyinggung keberadaan rumah ibadah sama saja bak mengusik kedudukan anggota dewan. Gusarlah para anggota Mahkamah Agama. Itu layaknya menantang kehormatan kelompok rohaniawan. Posisi yang begitu dimuliakan.

Isu rumah ibadah. Perkara emosional nan tidak mudah. Ini menyangkut kebiasaan yang juga akan berubah. Ritual sakral yang begitu suci. Itu dipelihara dari generasi ke generasi. Kedudukan elite rohaniawan yang begitu dihargai. Tiba-tiba itu semua seakan-akan digugat Stefanus seorang diri. Tentu ini masalah serius sekali.

Akan dikemanakan tradisi yang diwariskan oleh nabi Musa? Kebiasaan yang membuat iman jadi berbunga-bunga. Tata cara ibadah yang sudah ditetapkan sebegitu rupa. Urutan ibadah yang sudah bertahan dari masa ke masa. Ketentuan tata cara perayaan hari-hari raya. Apakah itu akan sirna begitu saja? Apalagi keributan itu diakibatkan oleh seorang sederhana. Yang asal-usulnya pun tidak tahu dari mana.

Keputusan sudah bulat. Anggota terhomat sudah sepakat. Jelas pola pikir seperti ini sebagai ajaran sesat. Tidak boleh dibiarkan tumbuh lebat. Ide gila semacam ini dianggap sangat berbahaya. Sehingga kasus ini sama saja dengan tindakan penistaan agama! Ganjarannya setimpal dengan nyawa. Harus dibasmi seketika. Tidak boleh diberi peluang. Harus segera dibuang.

Sejak zaman Musa sudah terjadi seperti itu. Dua milenial lalu pun begitu. Sekarang pun masih berlaku. Hingga datangnya si Corona itu. Tidak ada yang dapat bersembunyi dibalik kelambu. Semua disikat satu per satu. Bangunan dari batu. Apalagi dari kayu atau bambu. Termasuk tradisi serta posisi anggota dewan terhormat penentu ritual itu. Semua dilibas habis bak dianggap angin lalu.

Kini? Itu semua terjadi begitu saja. Peristiwanya begitu jelas di depan mata. Tidak ada suara. Senyap tapi sangat berkuasa. Bukankah daku dan dikau dapat rasa? Bak era kejadian Stefanus muncul lagi. Namun kali ini. Tidak ada yang bertanya-tanya. Apalagi ada yang mengadu ke anggota Mahkamah Agama. Semua tunduk kepada perintah si Corona.

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, (Iberani 1:1,2)

Dulu Allah berbicara kepada umat dengan perantaraan nabi-nabi. Mereka terus menerus memperingatkan jemaat dari hari ke hari. Imam-imam Lewi yang setia melayani di Bait Suci. Sehingga jama’ah rajim beribadah kepada Sang Ilahi. Kebiasaaan ini bertahan dari satu generasi ke genarasi. Dari zaman Musa hingga mulainya tahun Masehi.

Setelah Kristus, selesailah Allah berbicara. Tidak ada lagi nabi yang berteriak seperti Yeremia. Bait Allah sudah berubah rupa. Menjadi aku dan Anda. Peran suku Lewi sudah genap sempurna. Mahkamah Agama sudah tiada. Semua sama saja, manusia biasa.

Sejak itu seperti Allah sengaja. DIA diam seribu bahasa. Sekarang tinggal Kata. Kata yang bisa jadi jauh lebih nyaring bersuara dari teriakan nabi Yeremia. Tinggal Kata dalam narasi cerita. Sila percaya! Enggak juga gak apa-apa. Semua terserah saya dan Adinda. Untuk ambil jalan yang mana. Rindu kepada ritual Musa. Ataukah ikuti aturan si Corona? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Anna Gru on Unsplash

Comments

comments