222. ’Allah pun Bingung’

Viewed : 1,201 views

Wabah demi wabah. Bencana alam disusul musibah. Itu telah dialami manusia sepanjang sejarah. Nasib yang menimpa yang lemah. Tidak terkecuali juga yang gagah. Sejatinya, semua ada dalam bayangan tulah. Tidaklah gegabah! Jika disimpulkan, dunia di luar Taman Sorga terjerumus ke dalam sumpah serapah.

Sudah aslinya manusia tidak mau menyerah. Apalagi bertekuklutut mengaku kalah! Namun itu juga yang membuat homo sapien dapat terus melangkah. Tidak merasa payah. Bahkan menjadi betah. Walau berdampingan dengan tulah. Untuk mempertahankan keberlangsungan silsilah. Dengan senantiasa menang melawan wabah. Sungguh pongah!

Kebanyakan orang mengganggap wabah ini sebagai hal yang alami. Tidak perlu gelisah sekali. Nanti juga berhenti. Mengikuti kurva alias grafik para ahli. Setelah sampai pada puncak jumlah yang terinfeksi. Setelah itu akan berkurang dengan sendiri. Bukankah dari dulu manusia sudah terbukti? Dapat melewati. Semua bencana dan pandemi.

Si Corona hanya akan menjadi seperti salah satu dari petaka yang suda pernah ada. Semata ditelusuri, diurai, dan diselesaikan secara logika. Yakin, akhirnya semua akan kembali seperti sediakala. Setelah beberapa saat. Si virus tinggal kenangan yang sudah lewat.

Itu dianggap hanya sebatas siklus 100 tahunan. Sama seperti peristiwa dahulu muncul lagi kepermukaan. Yang dulu lebih banyak yang mematikan. So, itu hanya sekadar kejadian alam yang tidak perlu dirisaukan. Fenomena kehidupan yang terus berjalan. Datang pergi sesuka alam.

Sebagian kecil orang ada yang mengkaitkan. Menghubung-hubungkan itu dengan masalah kerohanian. Itu dianggap sebagai peringatan dari Tuhan. Tanda-tanda semakin dekatnya akhir zaman. Spontan berbondong-bondong merasa perlu dekat dengan Tuhan. Agar terbebas dari penyakit yang menakutkan.

Tanggapan bergairah tu wajar-wajar saja dialami setiap insan dalam kekalutan. Namun! Berapa lamakah itu akan bertahan? Sebelum segalanya akan kembali seperti semula. Bak masa si Corona belum ada. Hidup kembali seperti biasa. Hingga tiba lagi masa-masa. Wabah berikutnya menjelma. Siklus kerohanian terulang lagi seperti biasa.

Ooo, begitulah manusia!

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? (Yeremia 17:9)

Intinya! Daku dan dikau tidak belajar-belajar dari peristiwa yang serupa. Hati sudah mengeras bagai baja. Siapakah yang mampu menerka? Hati manusia yang penuh rahasia. Mungkinkah hanya dengan musibah hati dapat terbuka? Malapeta yang membuat mata hati pirsa. Dan kembali peka.

Berapa petakakah lagi harus ada? Supaya mata hati ini terbuka. Sehingga menangkap maksud-NYA. Bak pukulan untuk mendisplinkan anak Anda. Seluruh badan sudah berbekas semua. Tidak ada lagi tempat yang tersisa. Dan belum juga jera-jera. Aaahhh! Hati manusia. Keras kayak batu mulia.

Di mana kamu mau dipukul lagi, kamu yang bertambah murtad? Seluruh kepala sakit dan seluruh hati lemah lesu. (Yesaya 1:5)

Sebegitunyakah hati manusia? Walau jutaan orang terkena. Jangan tanya berapa orang yang sudah dibuatnya menderita. Tidak ada yang tahu itu akan berlangsung berapa lama. Kendati kematian di depan mata. Tetap saja. Hati manusia kukuh bak batu kuarsa.

Betapa dahsyatnya si Corona. Meluluhlantakkan kebanggaan simbol-simbol agama. Peran kelompok elite rohaniawan. Gedung-gedung mewah nan menawan. Interior mahal lengkap dengan hiasan-hiasan. Sound system mahal yang tak terbayangkan. Si Corona datang, semua layaknya percuma tidak diperlukan. Adakah kuasa di bawah matahari yang dapat melakukan hal yang demikian?

Alami sekali jika karena itu setiap individu harus memikirkan. Masing-masing harus memutuskan. Spiritual re-Setting semua yang selama ini dianggap itu sudah demikian. Bisa jadi harus ambil langkah meskipun itu melawan kebiasaan. Merubah keputusan kendatipun itu menyakitkan. Memulai yang baru kalaupun itu sendirian.

Karena hidup ini lebih berharga dari dogma. Apalagi hanya ikut-ikutan karena terpaku kepada doktrin gereja. Itu terlalu mahal kalau tidak berani ambil langkah hanya karena segan kepada tokoh agama. Hidup ini singkat. Moga itu jadi berkat. Karena berfokus kepada yang hakikat.

Mengapakah ENGKAU seperti orang yang bingung, seperti pahlawan yang tidak sanggup menolong? (Yeremia 14:9)

Mengapa? Mengapa? Mengapa ya Tuhan? Mengapa Engkau hanya bengong berdiri? Kebingungan seperti tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sementara bencana tengah melanda dunia. Kematian mendatangi. Dan Engkau terdiam ternganga. (Saduran dari The Message)

Ups! Kalau sudah menyangkut hati. Pilihan menurut selera sendiri. Allah pun bak orang tua yang bingung menghadapi anak yang tak ngerti-ngerti. Seperti tidak tahu harus bagaimana lagi. Pahlawan pun tertunduk lemas tidak berdaya.

Ini waktu yang tiada dua. Moga tidak terlewatkan begitu saja. Moga sadar untuk apa daku dan dikau ada. Namun, apakah akan ada yang bersedia? Untuk berpikir tidak biasa. Moga wabah ini membuat mata hati menjadi peka. Kepada bisikan suara-Nya yang jelas terdengar di tengah bencana. Semoga! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Image by Sasin Tipchai from Pixabay

Comments

comments