Allah itu sempurna dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Rancangan dan jalan-jalan-Nya tak ada cacat celanya. Sekaliber penghulu malaikatpun tak dapat menemukan kekurangan atau memperbaiki tindakan-Nya. Allah itu suatu pribadi yang ada rasa dan karsa. Dia ada kemauan ataupun kehendak. Mirip-miriplah dengan yang dapat kita rasakan.
Namun harus diingat! Dia bukanlah manusia. Dia adalah Sang Pecipta bukan makhluk ciptaan. Dia sudah ada dengan sendirinya. Dia cukup dengan diri-Nya sendiri. Tak membutuhkan apapun di luar diri-Nya untuk keberadaan-Nya. Maka yang paling merendahkan martabat-Nya adalah kala makhluk ciptaan menganggap Allah itu sama seperti mereka (Mazmur 50:21).
menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. (Kejadian 6:6)
Ups! Allah menyesal! Apa? Allah menyesal? Menyesal? Iya. Dia menyesal menciptakan manusia. Serius? Betul. Ini serius. Allah mengakui Dia menyesal. Dan Dia menyesal tak sembarang menyesal. Karena Dia tidak sekedar membual ataupun ucapan nada simpati di bibir belaka. Dia menyesal hingga merasa hati-Nya tertusuk bak disayat sembilu. Ngilu!
Sahabat, kapan terakhir kali mengalami rasa ngilu? Dapat bayangkan rasa tak nyaman karena ngilu? Apalagi kalau itu terjadi bukan hanya melalui pendengaran, tapi jauh terasa hingga menusuk hati?
Mengapa Dia menderita dan mengalami ketidaknyamanan sehebat itu? Mengapa Dia membiarkan itu terjadi? Adakah yang salah waktu penciptaan manusia dan dunia ini?
‘Kalau aku Tuhan denga segala atribut maha-Nya. Maka aku dapat membuat hidup di dunia ini jauh lebih baik dan nyaman!’ Kata seorang scientist penganut paham ateis (tidak percaya adanya Tuhan) dengan sinis.
Sejauh yang dapat kita rasakan, penyesalan yang begitu berat terjadi karena harapan tidak seperti kenyataannya. Apalagi kalau harapan itu begitu tingginya. Maaf ya! Apakah itu artinya maksud penciptaan manusia untuk mendiami bumi ini tidak seperti yang Dia harapkan? Apakah itu berarti, apa yang dikehendaki-Nya. Apa yang Dia inginkan, bisa saja tidak terjadi? Apakah ini juga berarti hidup seperti sekarang ini, tidak seperti yang diharapkan-Nya? Ooo? Seperti sakit penyakit. Dengki iri. Bunuh membunuh. Dan kematian bukanlah yang dikehendaki Allah? Masa? Lalu bagaimana yang dimaksudkan-Nya?
Lha! Kalau demikian, bisakah dikatakan kita ini produk yang gagal? Gagal? Iya, gagal? Produk yang harus dibuang alias di-‘reject’?
Wah wah wah. Bisa jadi kenyataan ini, mengungkap misteri ‘sang orok’ yang terbuang itu menjadi jelas! (Sila baca ‘Balada Cinta’ dalam buku ‘Misteri Romantika Ilahi’oleh Naek S Meliala). Bayi yang masih merah dan tali pusar belum putus. Tergeletak sekarat menjerit di padang pasir panas tandus. Tangan misterius terjulur. Memungut sang orok yang tidak ada harapan (Yehezkiel 16).
Lagi-lagi tindakan CINTA itu menghidupkan bukan mematikan. Memelihara bukan menghancurkan. Memperbaiki bukan merusak. Dan memungut bukan membuang!
Wow wow wow. Pantaslah Dia menyesal dengan tingkah polah kita karena Dia begitu mengasihinya. Hanya pribadi yang mengasihi yang dapat menyesal karena yang dikasihi tak seperti yang diharapkan. Ooo. Begitu rupanya. Iyalah, kalau tidak? Ya, sudahlah dibasmi saja! Dan mulai lagi dari awal! Begitu saja kok repot. Syukurlah! Allah mau repot.
Ups! Bagaimana pula dengan nats yang mengatakan: ‘Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta, bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal?’( Bilangan 23:19).
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by joseph_Berardi from Pixabay



