185. ’Mengejar Asap!’

Viewed : 1,069 views

‘The greatest tragedy in life is not death, but a life without a purpose.’ (Myles Munroe: Tragedi terbesar dalam hidup bukanlah kematian, tetapi hidup tanpa tujuan)

Ups! Tragedi terbesar? Boleh sepakat. Sila tak sependapat. Namun, perhatikan apa yang dicatat! Digoreskan agar dikau ingat. Catatan hidup yang singkat. Pengamatan oleh seorang ternama sejagat.

Ditulis dengan tinta emas dalam buku harian. Berpendidikan. Berhikmat. Berpengetahuan. Tak ada rahasia yang tak dapat ia ungkapkan. Kaya raya harta berkelimpahan. Semua keinginan insan manusia telah dia dapatkan.

Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? (Pengkhotbah 1:2,3)

Sang Pemikir berkata: Semuanya sia-sia dan tidak berguna! Hidup itu percuma, semuanya tak ada artinya. Seumur hidup kita bekerja, memeras keringat. Tetapi, mana hasilnya yang dapat kita banggakan? (Versi BIS)

Smoke, nothing but smoke. [That’s what the Quester says.] There’s nothing to anything—it’s all smoke. What’s there to show for a lifetime of work, a lifetime of working your fingers to the bone? (The Message)

Terjemahan bebas dan paraphrasing:

Asap! Tidak lain hanyalah asap. Begitulah kata dia yang telah mendapatkan semua keinginan manusia. Tidak ada apa-apa untuk apa pun. Semuanya hanya bak asap. Bekerja seumur hidup. Banting tulang tak kenal redup. Akhirnya dengan mata sayup-sayup. Di penghujung hidup. Apa yang didapat? ‘Asap!’

Tragis!

Ya! Untuk apa hidup? Asap!

Matahari terbit, lalu pelan-pelan pergi. Di malam gelap gulita dia sembunyi. Esok pagi muncul kembali. Tak kenal lelah. Apalagi protes minta kenaikan gaji. Tak peduli apa yang terjadi. Tak pernah permisi. Tak berbunyi. Sunyi. Mentari terus datang dan pergi. Seperti itu dari dulu hingga kini.

Bangun pagi-pagi. Sibuk menyiapkan diri. Lihat kanan kiri. Lalu pergi. Jalan itu saja yang dilalui. Bertemu dengan orang yang itu-itu saja setiap hari. Hidup sekedar mencari sesuap nasi. Malam hari pulang ke rumah bertemu anak istri. Akhir bulan berharap gaji. Rutinitas yang tiada henti-henti.

Tak terasa anak-anak sudah dewasa. Siap untuk berumah tangga. Tinggallah berdua. Rasanya baru kemarin, kini sudah memasuki umur ‘laskar tak berguna.’ Cepat atau lambat, saatnya akan tiba. Penyakit antri di depan mata. Generasi satu pulang. Yang lain datang. Itulah kehidupan.

Aaahhh! Entah dikau berkeluarga. Ataupun sorangan saja. Akhirnya kita semua. Tak terkecuali pria atau wanita. Sekalian akan kembali lagi seorang diri seperti semula. Untuk berapa lama? Sebagai sebatang kara di dunia. Sebelum datangnya gelap gulita. Nasib bagi semua manusia. ‘Tutup mata!’

Apakah hidup hanya sebegitu saja?

Aku telah bosan hidup, (Ayub 10:1)

Aku bosan dan muak dengan hidupku, (BIS)

I can’t stand my life—I hate it! (The Message: “Aku tak tahan lagi hidup—aku benci itu!)

Bosan hidup? Muak? Tak tahan? Benci? Apakah mengalami? Dikau tidak sendiri.

Hidup di luar Eden adalah suatu tragedi. Bencana kehidupan yang sakit sekali. Peristiwanya dulu tapi terasa hingga kini. Tidak ada yang dapat menghindari. Tak ada piliha lain, kecuali. Jalani sendiri. Siapa yang berani? Siapa yang peduli? Siapa yg sedia melihat hati? Dan mengakui! Daku dan dikau telah kehilangan kendali. Tak tahu arah yang pasti.

Hidup untuk apa? Terus terang! Tak tahu pasti. Hidup hanya dijalani. Kalau mentok ke situ, ya coba lagi ke sini. Tanpa arah. Tak tahu tujuan. Setiap tawaran, jadinya, menggiurkan. Semangat bergantung kepada capaian. Bak naik tangga, semakin ke atas semakin luas pemandangan. Tidak ada batasan. Tak ada batas kecukupan. Mata tak pernah puas melihat. Masih ada tempat kosong, walau hati diisi jagat.

Semua capaian. Pujian dari atasan. Medali penghormatan. Sertifikat kejuaran. Prestasi segudang. Harta tak terkatakan. Semua akan ditinggalkan. Tinggal kenangan. Dan segera dilupakan. Lantas: ‘Apa yang dapat dibanggakan?’ Kalau akhirnya daku dan dikau akan sakit-sakitan. Menuju kematian!

Kulihat gerombolan orang mengejar bayangan. Saling sikut-sikutan. Injak-injakkan. Tak peduli kesehatan. Keluarga diabaikan. Keturunan diterlantarkan. Nyawapun tak dihiraukan. Semata-mata untuk berlari ke puncak kejayaan. Merebut khayalan. Fatamorgana yang memabukkan. Tak tahunya itu hanya impian. Bak usaha menjaring asap. Memilukan!

Sial! Aku lihat orang lain. Tak tahunya?

Ups! Daku termasuk di dalam gerombolan! Entah bagaimana. Tak tahulah. Ikut-ikutan berlari mengejar bayangan. Tragedi ini bak penyakit menular. Menjalar. Menyebar. Dari generasi ke genarasi tertular. Asap yang dikejar. Semoga dikau tidak ikut-ikut kalap. Karena ada arah yang tetap. Tujuan hidup yang memberi semangat. Dalam hidup yang singkat. (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM

Image by Gerd Altmann from Pixabay

Comments

comments