Para sahabat yang terkasih,
Perdebatan tentang INJIL pada dasarnya bukanlah pada keaslian/kepalsuan kitab Injil. Bagi para pengikut Yesus Kristus sendiri, permasalahan itu sudah selesai ketika kanonisasi INJIL telah selesai dilakukan.
Tetapi justru penggalian makna yang terkandung di dalam INJIL itu sendiri, yaitu bahwa INJIL adalah berita sukacita, merupakan sebuah perjalanan iman yang tidak pernah selesai.
Makna generik dari INJIL adalah kabar sukacita. Sebuah kabar tentunya berbeda dengan nasihat, ajaran, perintah, atau sebuah syariat/hukum. Sebuah kabar merupakan sebuah pemberitahuan tentang sesuatu yang sudah terjadi, bersifat faktual.
Respon terhadap INJIL berbeda dengan respon ketika seseorang mendengarkan nasihat, ajaran, perintah atau sebuah hukum. Ketika orang mendengarkan sebuah nasihat, misalnya, apa yang dinasihatkan tersebut bukanlah sesuatu yang yang faktual, dan sudah terjadi; tetapi apa yang dinasihatkan tersebut baru akan terjadi ketika si pendengar nasihat menerima/menyetujui dan melakukannya atau mentaatinya. Baru nasihat tersebutmemberikan dampaknya kepada orang tersebut.
Ketika orang mendengar sebuah kabar, maka hanya ada dua respon yang paling mungkin, yaitu : percaya atau tidak percaya. Keputusan untuk mempercayai/tidak mempercayai terhadap kabar tersebut memberikan implikasi yang khusus di dalam batin penerima kaar tersebut.
Saya tidak bisa merespon sebuah kabar dengan menyetujui kabar tersebut. Karena sebuah kabar tidak berkurang maknanya meskipun kita tidak menyetujui/ atau menyetujui kabar tersebut.
Dan kabar juga bukanlah sebuah perintah supaya kita melakukan ini dan itu. Karena nilai dari kabar itu tidak berkurang apabila kita melakukan atau tidak melakukannya.
Bahkan ketika Isa Almasih hadir di dunia, sebuah sabda menggema dari bibirnya, ”Beritakanlah INJIL kerajaan Allah …”, atau dengan kata lain, beritakanlah kabar sukacita kerajaan Allah.
INJIL itu di dalam pengertian yang generik hadir dengan jelas, bersama dengan kehadiran Isa Almasih di bumi ini. Tema utama dari berita INJIL ini adalah sukacita.
Sukacita merupakan sebuah respon yang paling jujur terhadap sebuah kebahagiaan yang meluap dari seseorang. Tidak ada satu hukum pun yang menentang hal ini.
Dan ajaibnya, sukacita itu selalu merasa terlalu berharga jika disimpan bagi dirinya sendiri. Ia ingin semua orang mengalami hal yang sama.
Berita INJIL adalah berita kabar sukacita. Mereka yang menerima atau mempercayai berita sukacita tersebut semuanya terhisap didalam gelora sukacita. Ada sebuah implikasi yang luar biasa ketika seseorang mempercayai kabar tersebut.
Ada banyak alasan orang mengalamami sukacita ketika mempercayai berita INJIL, tetapi selalu saja bahwa pusat gravitasi dari berita INJIL tersebut adalah Isa Almasih dengan segenap karyanya.
Apa yang menjadi sukacita?
Merunut setiap kisah perjumpaan orang-orang yang bertemu dengan Sang Mesias seperti tercatat di dalam kitab INJIL menurut penuturan Matius, Markus, Lukas dan Yahya maka saya mendapatkan benang merah dari apa yang dimaksud dengan ”kabar sukacita” tersebut.
Ada satu hal yang menjadi pembeda utama kabar sukacita INJIL dibandingkan dengan kabar sukacita-kabar sukacita lainnya, yaitu bahwa sukacita INJIL adalah sebuah implikasi dari kehadiran yang ilahi di dalam kehidupan anak manusia. Kerinduan akan yang sejati itu dipuaskan ketika mereka mengalami perjumpaan dengan Sang Mesias.
Yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang kerasukan roh jahat dibebaskan, yang sakit disembuhkan, yang lapar dan haus dipuaskan, yang berduka dihibur, yang mati dihidupkann, yang tersingkir dikasihi, yang terluka dipulihkan, yang berdosa diampuni, … adalah mereka yang mengalami perjumpaan dengan Sang Mesias.
Berita sukacita itu menetap lestari di dalam sanubari mereka yang paling dalam. Pengalaman itu menjadi milik mereka, dan tidak bisa diambil dari hidup mereka. Pengalaman mereka terhadap sukacita INJIL tersebut tidak dapat didekonstruksikan lagi, menjadikannya sebuah kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat lagi.
Pengalaman INJIL itu menerobos benteng formalisme keberagamaan yang semu, dan merasuk serta menguasai batin setiap orang yang mempercayainya. Pengalaman INJIL adalah perjumpaan dengan pribadi yang agung yang menjadi pusat dari kabar gembira itu, yaitu Yesus Kristus. Pembaruan batiniah dimulai ketika batin kita mengalami jamahan Nya yang ilahi.
INJIL adalah berita sukacita.
INJIL lain, yang palsu, yang ditambahi atau yang dikurangi akan kehilangan hakekatnya yang sejati, yaitu memberikan sukacita; itu adalah bukan injil (kabar sukacita).
Sebuah test sederhana terhadap kesahihan INJIL di dalam makna yang generiknya adalah kuasa sukacita yang dialami dari mereka yang mempercayainya.
Kuasa ilahi dari berita itu menjalar sepanjang peradaban.
Kepercayaan terhadap isi berita tersebut memberikan implikasi yang mengubahkan di dalam kehidupan orang-orang yang mempercayainya. Kuasa ilahi dari berita itu hidup, tumbuh dan berkembang dan menghasilkan buah-buahnya di dalam dan melalui kehidupan setiap orang yang mempercayainya.
Sebuah ungkapan kesederhanaan sukacita INJIL bagi saya, ingin saya ringkaskan di dalam kalimat berikut :
”Saya orang berdosa, tetapi saya dikasihi Allah”.
Wow, itu adalah anugrah! Betapa hidup ini perlu dirayakan dan disyukuri sebagai sebuah persembahan yang hidup kepada Allah.
Salam
Teja, 11/8/2019
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |


