Akhirnya, manusia tercipta. Sejatinya, itu petualangan berbahaya. Tindakan berisiko tak terduga akibatnya. Kebebasan kehendak, free will, adalah anugerah tiada duanya. Namun itu juga sekaligus berpotensi menjadi sumber petaka.
“Man is God’s risk!’ Kemampuan insan untuk memilih ternyata telah menjadi sumber bencana. Risiko bagi manusia. Siapa sangka? Terbukti! Ini bukan basa basi. Ini fakta! Sang Pencipta-pun, karena itu, juga kena! Dua-duanya terluka! Keduanya merana. A Double Risk!’
Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kejadian 2:16,17)
Mengapa Dia tempuh jalan ‘buah apel?’ Itu ibarat melontar batu dengan katapel. Sekali batu terlepas, siapapun ada kemungkinan terlibas. Batu laju liar dan bebas.
Kalau begitu, mengapa Dia tidak lewati itu dengan cara meng- install ‘Divine Software!’ Dengan begitu, bukankah semuanya berlaku sesuai rencana? Tak ada yang menderita. Semua bahagia dan senang selama-lamanya. Aaahhh, mengapa Dia biarkan manusia memilih? Aaahhh! Tak tahulah! Cinta memang misterius!
Sekali lagi saya katakan, kami memberitahukan kepada Saudara apa yang sungguh-sungguh telah kami lihat dan dengar, supaya Saudara ikut serta dalam persekutuan dan sukacita yang kami alami dalam Bapa dan Yesus Kristus, Anak-Nya. (1 Yohanes 1:3, bahasa Indonesia versi FAYH)
Perluasan persekutuan Sang Ilahi, merubah segala-galanya. Dia berkehendak untuk memasukkan daku dan dikau. Itu maksud abadi-Nya. Tak lekang karena waktu. Tak lapuk karena hujan dan bayu. Dulu keiningan-Nya begitu. Sekarangpun berlaku. Dan selamanya akan seperti itu.
Niat itu sudah bulat. Itu tidak dibuat-buat. Walau yang Dia pikul beban begitu berat. Dia tetap melangkah dengan setia dan taat. Bak pepatah: Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Narasi tak mungkin diulang, walaupun itu tidak sesuai dengan selera-Nya. Itu terjadi sekali, dan bertahan untuk selama-lamanya. Itu tawaran eksklusif bagi insani, hanya untuk makhluk manusia. Ajakan itu berlaku hingga kini, sama halnya waktu di Taman Sorga.
Undangan itu telah merubah ritme dan irama ’The Divine Great Dance.’ Tarian ilahi tak akan lagi sama seperti sebelumnya. Kesempurnaan senandung tarian itu tak akan lagi terdengar sama seperti dulunya. Lenggang lenggok hentakan ritmenya tak lagi terlihat harmonis sama seperti awalnya. Dari keharmonisan communion tiada cacat cela. Koinonia Tritunggal yang manis nan mesra. Berubah menjadi tarian manusia. Tarian warna warni dengan duka dan nestapa. Sejatinya, peristiwa di Taman Sorga telah merubah segalanya!
Beginilah firman TUHAN: “Di manakah gerangan surat cerai ibumu tanda Aku telah mengusir dia? Atau kepada siapakah di antara penagih hutang-Ku Aku pernah menjual engkau? (Yesaya 50:1)
Tak ada sebelumnya. Belum pernah dialami dari sejak dulunya. Ini baru sekali-kalinya. Pengalaman pertama ‘hidup’ Sang Pencipta. Allah menyatakan diri-Nya sebagai suami umat percaya. Umat Israel yang senantiasa bertindak semana-mena. Itu dapat ditemukan dalam kisah-kisah di kitab para nabi Perjanjian Lama. Kalau panasaran, sila baca keseluruhan pasal 51 kitab Yesaya.
Ups! Allah mengalami pengalaman yang belum pernah Dia jalani sebelumnya. Inilah pengalaman pertama-Nya. Bagaimana seni menjadi suami dari istri yang tercela. Pasangan yang mengkhianati cinta. Belahan jiwa yang hatinya mendua. Peran sebagai suami yang mengalami asam garam dan suka duka. Merasakan ‘nikmatnya’, air susu dibalas air tuba! Dan dan dan, Allah-pun belajar menjadi suami yang setia! Tetap pegang kata walau kekasih tak setia. Begitukah?
Aaahhh? Allah belajar? Masya allah, yang bener?
Allah belajar berfungsi sebagai suami. Belajar bukan supaya piawai. Ibarat dulu tak bisa, sekarang ahli. Ataupun dulu tak tahu, kemudian memahami. Itu tidak karena Dia kurang pengetahuan. Belajar dari strata S-1 hingga mencapai tingkat tertinggi. Bukan! Dia belajar dalam pengertian ambil peran baru sebagai suami.
Bisa saja dikau seorang psikolog sekalian konselor ternama. Terdidik dalam menolong keluarga. Biasa berdatangan mereka yang hidupnya ruwet karena asmara. Masa depan berantakan karena cinta, dikau ubah jadi bermakna. Namun, dikau baru mengerti rasa sakitnya hati. Makan jadi tidak selera. Tidurpun tidak bisa. Dikau jadi menderita insomnia. Semua capaian jadi percuma. Baru belajar tahu pahitnya cinta. Jika alami sendiri kekasih selingkuh di depan mata.
Mungkinkah? Begitukah? Yang di alami Allah dalam Kristus di dunia.
Walaupun Yesus Anak Allah, Ia harus belajar dari pengalaman, apakah makna ketaatan apabila ketaatan itu berarti penderitaan. (Ibrani 5:8, bahasa Indonesia versi FAYH)
The Message:
Though he was God’s Son, he learned trusting-obedience by what he suffered, just as we do. (Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar percaya untuk taat dari apa yang telah diderita-Nya, sama halnya dengan yang kita alami)
Wah wah wah. Allah kita, Allah yang mengalami seperti yang dikau rasa. Dia belajar taat walaupun itu artinya menderita. Cukuplah kenyataan ini untuk tidak lagi banyak bertanya ‘mengapa.’ Mari jalani hidup walau terbata-bata. Sebagaimana Dia, mari belajar setia. Walau itu artinya gelap gulita! (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |
Image by Dimitris Vetsikas from Pixabay




