Tarian Adam telah dimainkan. Adam telah tentukan pilihan. Jalan hidup setiap orang. Sejak lahir hingga nyawa melayang. Tak ada yang mampu mengelakkan. Tangan telah diayunkan. Kaki telah dihentakkan. Naskah telah dituliskan. Manuskrip telah dibukukan. Peran bagi setiap bani Adam. Entah engkau setuju. Ataupun ingkar melulu. Itu tetap berlaku. Dahulu kala begitu. Sekarangpun seperti itu. Tarian hidup setiap insan. Ceritera kehidupan.
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang [Adam], dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. (Roma 5:12)
Aaahhh! Tarian maut? Semacam debus dari Bantenkah? Ataukah Kuda lumping makan kaca alias jaran kepang tari tradisionil Jawa? Tarian berdarah-darah. Dan Allah diam. Dikau yang tentukan pilihan.
‘Man is God’s risk.’ Membiarkan Adam tentukan pilihan. Tentukan tarian. Tak seperti wayang. Bukan pula bagai Robot. Dia mencari kekasih. Kekasih hati. Cinta sejati. Datang dari hati. Itu dia, cinta yang Dia cari. Dulu di taman Eden Dia begitu. Sekarangpun tak berubah tetap seperti itu. Dia mencari cinta!
Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” (Kejadian 3:9)
“Di manakah engkau?” Bagi seorang kekasih. Pertanyaan itu dapat langsung dirasakan sebagai tangisan hati. Jeritan nurani. Sakit sekali. Bak disayat sembilu. Perih. Kekasih lupa diri. “…mereka melupakan Aku.” (Hosea 13:6) Seumpama ada WIL ataupun PIL. Tidakkah dikau dapat rasakan? Dengarkan hati. Dikau akan mengerti sakitnya hati. Cinta yang dikhianati.
I’m after love that lasts, not more religion. I want you to know GOD, not go to more prayer meetings. (Hosea 6:6, The Message, terjemahan bebas: Aku merindukan cinta, cinta tulus nan abadi. Bukan lebih giat beragama. Melainkan mengenal Sang Cinta. Tidak juga lebih aktif dalam persekutuan dan pertemuan doa.)
Peristiwa di taman sorga. Itu bukan berkaitan dengan ketidaktaatan menjalankan ritual agama. Gagal hafal ayat-ayat utama. Tak cakap mengucapkan syariat agama. Tak ikut kelompok PA. Sering berhalangan ikut ibadah keluarga. Bukan! Apalagi karena dikau tak masuk hitungan sebagai sintua.
Tetapi mereka itu telah melangkahi perjanjian di Adam, di sana mereka telah berkhianat terhadap Aku. (Hosea 6:7)
Drama taman sorgawi. Kisah taman sorga di bumi. Itu bukan kasus tipu menipu. Tidak juga terjadi karena tidak tahu. Bukanlah peristiwa tindakkan kriminal biasa. Itu penghianatan cinta! Hati mendua. Tarian selingkuh cinta! Pilihan ritme dan nada. Tarian manusia pertama.
Semua turut serta. Aku. Dikau. Sama saja. Semuanya ikut serta. Seirama. Senada. Selenggang lenggok. Tarian si pengkhianat cinta. Persis seperti tarian di taman sorga. Silakan sebut itu takdir. Tak apa kalau ada menyebutnya nasib manusia. Silakan kalau merasa lebih afdol menyebutnya garis tangan. Tarian Adam. Tarian manusia. Tarian duka. Nestapa. Merana. Tarian maut!
‘I cried when I was born and every day shows why!’ (George Herbert, terjemahan bebas: Aku menangis ketika lahir dan hari demi hari mempertontonkan mengapa demikian!).
Meratap. Merintih. Menangis. Sakit sekali. Sepahit cinta dikhianati! Tak tahu harus berbuat apa. Kehilangan cinta! Kehilangan segala-galanya. Makan tak selera. Tidur tak bisa. Sejatinya. Itu sama dengan kehilangan kemanusian. Tak tahu untuk apa aku dan dikau tercipta. Kehilangan gairah. Putus asa. Seputus harap Forres Gump (dalam film Forrest Gump box office beberapa dekade lalu) ketika kehilangan kekasih sejati, Jenny.
‘Aku bingung! Apakah kita punya tujuan hidup di dunia ini? Ataukah kita hanya melayang-layang diantara kebetulan-kebetulan?’ Ucap Forrest Gump putus asa berdiri di pusara kekasih hati nan abadi, Jenny.
Dapatkah dikau rasa? Kisah cinta di taman sorga. Itu bukan legenda. Itu bukan dongeng yang diada-ada. Selamat datang. Selamat bergabung. Di atas panggung cinta. Dalam tarian Adam. Tarian kisah pengkhiatan cinta. Tarian duka. Begitukah? Ataukah dikau punya tarian yang berbeda? (nsm)
![]() |
NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.
Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” karya NSM |




