HIStory

Viewed : 23 views

Kedaulatan Allah dan Sikap Orang Percaya di Tengah Krisis Dunia

 

Dunia Yang Bergolak

Ada masa-masa dalam perjalanan dunia ketika manusia merasa seolah-olah sejarah sedang bergerak dengan gelombang yang lebih besar dari biasanya. Berita tentang perang, ketegangan geopolitik, krisis ekonomi, serta arus informasi yang tidak pernah berhenti membuat dunia terasa rapuh dan tidak pasti. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik yang kembali memanas di Timur Tengah, rivalitas kekuatan global, serta polarisasi politik di berbagai tempat menambah kesan bahwa dunia sedang berjalan melalui masa yang penuh guncangan.

Di tengah situasi seperti ini, banyak orang bertanya: ke mana arah sejarah sebenarnya? Apakah dunia sedang menuju kekacauan yang lebih besar, ataukah semua ini hanyalah bagian dari siklus panjang peradaban manusia?

Bagi orang percaya, pertanyaan ini tidak hanya bersifat politik atau akademis. Ia menyentuh dimensi iman yang lebih dalam. Bagaimana kita memahami sejarah ketika dunia tampak tidak stabil? Bagaimana menjaga damai sejahtera ketika berita dan opini yang saling bertabrakan terus memenuhi pikiran?

Iman Kristen menawarkan sebuah cara pandang yang berbeda. Sejarah dunia bukan hanya history— sekadar rangkaian peristiwa yang terjadi akibat benturan kepentingan manusia. Bagi orang percaya, sejarah adalah HIStory: kisah tentang karya Allah yang berlangsung di dalam dunia.

Perspektif ini tidak meniadakan kompleksitas sejarah. Dunia tetaplah dunia yang penuh konflik, ambisi, dan perebutan kekuasaan. Namun iman mengingatkan bahwa di balik semua itu ada tangan Allah yang berdaulat. Bangsa-bangsa mungkin bangkit dan runtuh, kekuatan politik mungkin berubah, tetapi tidak ada satu pun peristiwa sejarah yang berada di luar pengetahuan dan kedaulatan-Nya¹.

Karena itu orang percaya dipanggil untuk membaca zaman dengan dua sikap sekaligus: kewaspadaan yang jernih dan ketenangan yang berakar pada iman. Dunia memang telah jatuh ke dalam dosa, dan propaganda, manipulasi informasi, serta perebutan kekuasaan menjadi bagian dari realitas sejarah manusia. Namun di tengah semua itu, orang percaya diingatkan bahwa mereka hidup dengan identitas yang berbeda.

Alkitab menggambarkan umat Allah sebagai pendatang dan perantau di bumi ini². Mereka hidup di tengah masyarakat dan ikut mengambil bagian dalam kehidupan dunia, tetapi mereka sadar bahwa rumah sejati mereka bukanlah di dalam kerajaan-kerajaan dunia. Kewargaan mereka yang sejati adalah di dalam Kerajaan Allah³.

Kesadaran inilah yang memberi perspektif baru ketika membaca sejarah.

 

Membaca Sejarah dengan Iman dan Kebijaksanaan

Sejak zaman kuno, manusia selalu mencoba memahami arah sejarah. Para filsuf dan sejarawan mencoba menemukan pola dalam perjalanan peradaban manusia. Ada yang melihat sejarah sebagai perkembangan rasional menuju kebebasan, ada yang menafsirkannya sebagai konflik ekonomi dan kelas sosial, dan ada pula yang melihatnya sebagai siklus kebangkitan dan keruntuhan peradaban.

Namun iman Kristen menawarkan cara membaca sejarah yang berbeda. Injil sendiri memperlihatkan bagaimana dinamika kuasa dunia bekerja di dalam dunia yang telah jatuh.

Ketika Yesus dicobai di padang gurun, Iblis membawa-Nya ke tempat yang tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, lalu berkata bahwa semuanya itu akan diberikan kepada-Nya jika Ia mau menyembahnya⁴. Percobaan ini menyingkapkan realitas dunia yang telah jatuh ke dalam dosa: kekuasaan, kemegahan, dan kemuliaan dunia sering kali beroperasi dalam sistem yang menuntut kompromi terhadap kebenaran.

Namun Yesus menolak tawaran tersebut dengan tegas. Ia tidak memilih jalan kekuasaan yang instan, tetapi jalan ketaatan kepada Allah. Dengan menolak tawaran itu, Yesus menegaskan bahwa kemegahan dunia bukanlah jalan menuju rencana Allah. Kerajaan Allah tidak dibangun melalui penyembahan kepada kuasa dunia, melainkan melalui kesetiaan kepada Allah.

Refleksi yang serupa muncul dalam karya besar Agustinus The City of God. Menulis di tengah krisis Kekaisaran Romawi, Agustinus menyatakan bahwa sejarah manusia sebenarnya merupakan pergulatan antara dua orientasi cinta: kota Allah dan kota dunia.

Kota Allah dibangun oleh kasih kepada Allah, sedangkan kota dunia dibangun oleh kasih kepada diri

sendiri. Kedua kota ini berjalan berdampingan di sepanjang sejarah. Kerajaan-kerajaan dunia mungkin tampak besar dan kuat, tetapi pada akhirnya mereka tetap bersifat sementara.

Sejarah manusia memberi banyak contoh tentang hal ini. Babilonia pernah tampak tak terkalahkan. Persia pernah memerintah wilayah yang luas. Yunani pernah menyebarkan pengaruhnya ke seluruh dunia kuno. Roma pernah menguasai hampir seluruh dunia Mediterania. Namun semua kerajaan itu pada akhirnya mengalami kemunduran dan runtuh.

Pola ini terus berulang sepanjang sejarah: kebangkitan, kejayaan, kemerosotan, dan keruntuhan.

Namun Alkitab berbicara tentang sebuah kerajaan yang berbeda. Kerajaan ini tidak didirikan oleh kekuatan militer dan tidak dipertahankan oleh ambisi politik. Kerajaan Allah hadir di tengah sejarah untuk menyatakan pemerintahan Allah yang sejati.

Kitab Daniel menggambarkan kerajaan-kerajaan dunia seperti patung besar yang akhirnya dihancurkan oleh sebuah batu yang berasal dari Allah. Batu itu kemudian menjadi gunung yang memenuhi seluruh bumi⁵. Gambaran ini melambangkan bahwa pada akhirnya Kerajaan Allah akan berdiri sebagai kerajaan yang tidak dapat digoncangkan.

a Dalam pandangan Agustinus, sejarah dapat dipahami sebagai berikut: Sejarah adalah panggung sementara tempat dua kota berjalan berdampingan: kota Allah dan kota dunia. Yang membedakan keduanya bukan terutama wilayah, bangsa, atau institusi, melainkan arah cinta. Kerajaan-kerajaan dunia bangkit dan runtuh, tetapi semua itu tidak menentukan makna akhir sejarah. Makna sejarah ditentukan oleh providensia Allah yang sedang menuntun segala sesuatu menuju penggenapan-Nya. Karena itu, orang percaya tidak dipanggil untuk melebur dalam kemegahan kota dunia, juga tidak tenggelam dalam keputusasaan ketika dunia kacau, melainkan hidup sebagai peziarah yang menaruh cinta tertinggi kepada Allah dan dengan demikian menulis narasinya di dalam kota Allah.

 

Dengan perspektif ini, orang percaya dapat membaca sejarah dengan kerendahan hati sekaligus keyakinan. Kerajaan manusia akan terus muncul dan runtuh, tetapi Kerajaan Allah tidak akan pernah pupus.

Di tengah dunia yang jatuh, dosa juga sering bersembunyi di balik kemegahan, kekuasaan, dan status sosial. Skandal-skandal besar yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh menunjukkan bahwa kemegahan dunia sering kali menutupi kerusakan moral yang dalam (Kasus Jeffrey Epstein). Realitas seperti ini bukanlah alasan untuk tenggelam dalam sinisme atau teori konspirasi, tetapi sebuah pengingat bahwa “kota dunia” sering dibangun oleh ambisi, kenikmatan, dan impunitas.

Karena itu orang percaya dipanggil untuk tidak silau oleh kemegahan dunia. Mereka dipanggil untuk melihat sejarah dengan terang kekudusan Allah.

Pada saat yang sama, zaman modern membawa tantangan baru melalui pemikiran postmodern yang mempertanyakan narasi besar tentang sejarah. Banyak pemikir menunjukkan bahwa sejarah sering ditulis oleh pihak yang berkuasa dan dibentuk oleh bahasa, ideologi, serta kepentingan politik.

Dekonstruksi ini menunjukkan bahwa narasi manusia sering kali rapuh dan penuh kepentingan tersembunyi. Namun justru di tengah situasi ini, kekristenan menjadi semakin relevan.

Kekristenan tidak sekadar menawarkan ideologi baru. Ia menawarkan kisah yang hidup: kisah tentang Allah yang mencipta, manusia yang jatuh, Kristus yang menebus, dan Roh Kudus yang memimpin umat-Nya di tengah sejarah. Dimana kita, orang percaya, ikut serta menuliskan narasi kisah hidup kita pribadi di dalam metanarasi sejarah Nya (HIStory). Setiap orang yang berjalan bersama Tuhan memiliki kisah tentang bagaimana Allah membentuk, menegur, memimpin, dan memulihkan hidupnya. Kisah-kisah kecil ini menjadi bagian dari metanarasi yang lebih besar—kisah Allah yang terus bekerja di dalam dunia.

Karena itu orang percaya tidak sekadar membaca sejarah. Mereka ikut mengambil bagian dalam HIStory melalui kehidupan yang setia.

Perang Informasi dan Disiplin Batin

Salah satu tantangan terbesar zaman modern adalah perang informasi. Melalui media sosial, berita digital, dan jaringan komunikasi global, manusia menerima arus informasi yang hampir tidak pernah berhenti.

Setiap konflik geopolitik segera berubah menjadi pertempuran narasi. Potongan video, opini emosional, analisis parsial, dan propaganda digital membentuk persepsi publik. Informasi tidak hanya disampaikan untuk memberi pengetahuan, tetapi juga untuk mempengaruhi emosi dan membentuk sikap.

Tanpa disiplin batin, arus informasi ini dapat dengan mudah merampas damai sejahtera seseorang.

Pikiran menjadi dipenuhi kecemasan, kemarahan, atau ketakutan yang terus diperbarui oleh berita terbaru.

Karena itu orang percaya perlu belajar mengelola konsumsi informasi secara rohani. Hal ini memerlukan disiplin batin yang sederhana namun penting:

• tidak membiarkan berita menentukan kondisi hati,

• tidak menyebarkan informasi tanpa verifikasi,

• dan menjaga ruang batin untuk doa, refleksi, serta keheningan di hadapan Allah.

 

Damai sejahtera bukan datang dari mengetahui setiap perkembangan dunia. Damai sejahtera datang dari hati yang berakar pada Allah yang memegang sejarah⁶

 

Menavigasi Dunia yang Bergolak

Pertanyaan tentang bagaimana menyikapi sejarah dunia sangat relevan bagi orang percaya di zaman ini. Kita hidup di era ketika arus peristiwa terasa semakin cepat: konflik geopolitik, krisis ekonomi, perubahan teknologi, dan terutama perang informasi yang terus membanjiri pikiran manusia. Dalam

situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan hanya memahami apa yang terjadi di dunia, tetapi menjaga hati agar tetap berakar pada Allah yang berdaulat.

Pertama, orang percaya perlu menyadari bahwa sejarah dunia bukan pusat cerita. Berita dan analisis politik sering memberi kesan bahwa masa depan sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan manusia. Namun dalam perspektif iman, sejarah manusia hanyalah bagian dari kisah yang lebih besar. Kerajaan-kerajaan dunia muncul dan hilang di bawah kedaulatan Allah. Kesadaran ini menolong kita melihat bahwa meskipun dunia berubah dengan cepat, pusat realitas tidak berubah: Allah tetapmemegang sejarah.

Kedua, orang percaya mengingat bahwa dunia yang kacau adalah dunia yang telah jatuh. Konflik, manipulasi informasi, dan perebutan kekuasaan bukanlah anomali sejarah, melainkan bagian dari kondisi manusia yang terpisah dari Allah. Kesadaran ini membuat iman bersifat realistis. Damai sejahtera tidak bergantung pada stabilitas dunia, tetapi pada keyakinan bahwa Allah tetap bekerja di tengah dunia yang tidak stabil.

Ketiga, zaman modern menuntut kebijaksanaan dalam mengelola informasi. Perang informasi melalui media sosial dan berita digital dapat dengan mudah mempengaruhi emosi dan perspektif hidup. Karena itu orang percaya perlu mempraktikkan disiplin batin: tidak membiarkan berita menentukan kondisi hati, tidak menyebarkan informasi tanpa verifikasi, dan menjaga ruang untuk doa, keheningan, serta perenungan firman.

Keempat, ketenangan sejati lahir dari kehidupan batin yang berakar pada Allah. Seperti diingatkan oleh Agustinus dalam The City of God, sejarah manusia selalu diwarnai pergulatan antara “kota dunia” dan “kota Allah”. Orang percaya hidup di tengah keduanya, tetapi identitas mereka tidak ditentukan oleh pergolakan dunia, melainkan oleh relasi dengan Allah.

Kelima, orang percaya dipanggil untuk memusatkan perhatian pada panggilan hidup yang konkret. Banyak kecemasan muncul karena manusia merasa harus memahami atau memikul beban seluruh sejarah dunia. Padahal panggilan iman sering kali diwujudkan dalam kesetiaan pada ruang kehidupan sehari-hari—keluarga, pekerjaan, komunitas, dan pelayanan. Dalam kesetiaan yang sederhana ini, orang percaya sebenarnya sedang mengambil bagian dalam karya Allah di dunia.

Akhirnya, orang percaya hidup dengan pengharapan eskatologis. Sejarah tidak berjalan tanpa tujuan. Alkitab menggambarkan bahwa konflik dunia bukanlah akhir cerita. Allah sedang membawa sejarah menuju pemulihan ciptaan dan kepenuhan kerajaan-Nya.

Kerinduan Akan Datangnya Sang Raja

Sejarah manusia akan terus bergerak dengan segala gejolaknya. Bangsa-bangsa akan bangkit dan runtuh. Ideologi akan muncul dan menghilang. Konflik akan terus menjadi bagian dari perjalanan dunia.

Namun bagi orang percaya, sejarah tidak pernah kehilangan arah. Allah tetap berdaulat atas segala zaman.

 

Kesadaran ini memberi kedamaian yang mendalam. Orang percaya tidak perlu tenggelam dalam setiap pergolakan politik dunia, karena mereka tahu bahwa rumah mereka yang sejati bukanlah di dalam kerajaan-kerajaan dunia.

Mereka hidup sebagai warga Kerajaan Allah yang sedang berjalan melalui dunia ini.

Karena itu mereka dapat hidup dengan dua sikap sekaligus: keterlibatan yang penuh tanggung jawab dan keterlepasan yang rohani. Mereka bekerja, melayani, dan mengasihi dunia, tetapi mereka tidak menaruh pengharapan terakhir mereka pada dunia.

Di tengah sejarah yang terus bergerak, orang percaya mengetahui bahwa cerita ini belum selesai. Kerajaan demi kerajaan dunia akan datang dan pergi. Namun Kerajaan Allah sedang bergerak menuju kepenuhannya. Suatu hari Sang Raja akan datang untuk menyatakan kemenangan-Nya sepenuhnya⁷.

Itulah pengharapan yang memelihara hati orang percaya.

Di tengah dunia yang gelisah, gereja sepanjang zaman terus memelihara doa yang sama—doa yang sederhana namun penuh kerinduan dan pengharapan:

Maranatha.
Datanglah, ya Tuhan.

 

Footnotes

1.Mazmur 2:1–2 – “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia?”

2.Ibrani 11:13 – “Mereka mengakui bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.”

3.Filipi 3:20 – “Kewargaan kita adalah di dalam sorga.”

4.Matius 4:8–10 – Pencobaan Yesus oleh Iblis yang memperlihatkan semua kerajaan dunia dengan kemegahannya.

5.Daniel 2:44 – Kerajaan yang didirikan Allah tidak akan binasa selama-lamanya.

6.Filipi 4:7 – Damai sejahtera Allah memelihara hati dan pikiran.

7.Wahyu 11:15; Wahyu 22:20 – Kerajaan dunia menjadi kerajaan Tuhan dan janji kedatangan Kristus.

Soli Deo Gloria.

Teja Samadhi

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments