Mazmur 23

Viewed : 16 views

Disadur dari karya George Sisneros

Mazmur 23 adalah salah satu pasal yang paling disalahpahami dalam Alkitab.

Ini bukan hanya tentang kenyamanan—ini tentang perang.

Ini bukan selimut hangat—ini adalah seruan perang.

Inilah yang tidak dipahami kebanyakan orang:

“TUHAN adalah gembalaku; aku tidak akan kekurangan.”

Kebanyakan orang tidak menginginkan seorang gembala.

Seorang gembala mengendalikan domba-dombanya.

Menuntun mereka ke tempat yang tidak mereka inginkan.

Mengoreksi mereka saat mereka tersesat.

Anda tidak bisa menjadi bos bagi diri Anda sendiri jika Tuhan adalah Gembala Anda.

“Saya tidak akan kekurangan”?

Itu gila.

Kita selalu menginginkan sesuatu. Pekerjaan yang lebih baik, rumah yang lebih baik, kehidupan yang lebih baik.

Tetapi Daud berkata, Jika Tuhan adalah Gembalaku, aku tidak kekurangan apa pun.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada rasa iri.

Tidak ada kegelisahan.

Hanya rasa puas.

Berapa banyak dari kita yang benar-benar dapat menerima kebenaran ini?

“Ia membaringkan aku di padang rumput yang hijau.”

Terkadang Tuhan harus memaksa Anda untuk beristirahat.

Kita tidak melambat dan berhenti. Kita mengejar uang, kesuksesan, keamanan. Kita mengenakan kesibukan seperti lencana kehormatan. Dan kemudian kita bertanya-tanya mengapa kita kelelahan.

Jadi Tuhan membuat kita berbaring.

Mungkin Ia melucuti sesuatu.

Mungkin Ia menutup pintu.

Mungkin Ia mengizinkan penderitaan yang memaksa kita untuk berhenti berlari.

Karena terkadang padang rumput hijau tampak seperti… dasar jurang.

“Ia menuntun aku ke air yang tenang. Ia menyegarkan jiwaku.”

Kita pikir kita dapat memulihkan diri kita sendiri.

Berlibur.

Bermeditasi.

Menonton Netflix secara maraton.

 

Membeli “sesuatu” yang baru.

Kejar tujuan lain.

Tetapi—kita—akhirnya—berakhir—kosong.

Mengapa? Karena hanya Tuhan yang memulihkan jiwa.

Bukan gangguan.

Bukan perawatan diri.

Bukan “awal yang baru” lainnya.

Sampai kita datang kepada-Nya, kita akan selalu kehabisan tenaga.

“Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.”

Bacalah lagi.

Bukan untuk kenyamanan Anda.

Bukan untuk kebahagiaan Anda.

Bukan untuk tujuan Anda.

Demi nama-NYA.

Tuhan tidak menuntun Anda ke kehidupan yang mudah. Ia menuntun Anda ke kebenaran—yang sering kali tampak seperti penderitaan, ketaatan, dan penyangkalan diri.

Kita berdoa, Tuhan, buatlah hidupku lebih mudah.

Daud berdoa, Tuhan, buatlah hidupku memuliakan-Mu.

Beda sekali.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”

Tuhan tidak pernah berjanji Anda tidak akan melewati lembah itu.

Ia berjanji akan menyertai Anda di dalamnya.

Kebanyakan orang panik ketika penderitaan datang. Mereka mempertanyakan Tuhan, mengepalkan tangan, menuntut penjelasan. Namun Daud berkata, Aku tidak takut. Aku tahu siapa yang bersamaku. Lembah bukanlah masalahnya. Masalahnya adalah ketika Anda tidak percaya kepada Gembala yang berjalan di samping Anda.

“Gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Gada? Senjata.

Tongkat? Untuk disiplin.

Penghiburan Tuhan mencakup koreksi. Terkadang Dia melindungi Anda dengan menghancurkan Anda. Terkadang Dia mengasihi Anda dengan melukai Anda.

Penghiburan Tuhan tidak selalu lembut.

Namun, kebanyakan orang tidak menginginkan Tuhan yang mendisiplinkan.

Mereka menginginkan Tuhan yang membiarkan mereka mengembara tanpa konsekuensi.

“Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan musuhku.”

Perhatikan apa yang tidak dilakukan Tuhan.

Dia tidak melenyapkan musuh-musuh Anda.

Dia tidak menyingkirkan pertempuran.

Dia memberi Anda makan di tengah-tengahnya.

 

Gambarannya bukanlah melarikan diri dari pertempuran—melainkan berkembang di tengah-tengahnya.

Kebanyakan dari kita berdoa agar Tuhan mengangkat pergumulan kita.

Daud berkata, Tuhan, aku percaya Engkau akan menopangku dalam pergumulanku.

“Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku melimpah.”

Kebanyakan orang mengira ini berarti berkat, kemakmuran, kesuksesan.

Salah.

Para gembala mengurapi domba-domba mereka dengan minyak untuk melindungi mereka dari penyakit dan parasit. Itu adalah penutup. Sebuah persiapan. Sebuah pertahanan.

Daud tidak berkata, “Tuhan, beri aku lebih banyak barang.”

Dia berkata, “Tuhan, persiapkan aku untuk pertempuran.”

Urapan Tuhan bukan untuk kenyamanan Anda—itu untuk panggilan Anda.

“Sesungguhnya kebaikan dan kemurahan akan mengikutiku, seumur hidupku.”

Kita mengira kebaikan dan kemurahan berarti hidup yang mudah.

Daud tahu lebih baik. Dia diburu, dikhianati, ditolak.

Tetapi dia tetap berkata, “kebaikan dan kemurahan akan mengikutiku.”

Mengapa? Karena kebaikan bukan tentang keadaan—itu tentang kehadiran Tuhan.

Jika Anda memiliki Dia, Anda memiliki kebaikan, bahkan dalam penderitaan.

“Dan aku akan diam dalam rumah Tuhan sepanjang masa.”

Inilah akhir cerita.

Bukan umur panjang. Bukan kesuksesan. Bukan kenyamanan.

Tuhan. Selamanya.

Kebanyakan orang hidup seolah-olah waktu mereka di bumi adalah tujuan. Seolah-olah hidup ini adalah satu-satunya yang ada. Namun, Daud mengincar keabadian.

Semua hal sebelum ayat ini mengarah pada hal ini—semuanya tentang kebersamaan dengan Tuhan.

Itulah intinya. Itulah pahalanya.

Apakah Anda memercayai Sang Gembala, atau Anda hanya kata-kata manis di mulut saja?

Apakah Anda menyerahkan rencana Anda, atau Anda diam-diam berjuang untuk memegang kendali?

Apakah Anda tidak takut pada kejahatan, atau Anda panik saat keadaan menjadi sulit?

Karena jika Mazmur 23 benar, itu mengubah segalanya.

Tidak ada lagi rasa takut.

Tidak ada lagi yang perlu dikejar.

Tidak ada lagi ketidakpuasan.

Hanya seorang Gembala yang cukup bagi kita.

(Kebanyakan orang sebenarnya tidak menginginkan itu.)

Teja Samadhi, 30 Maret 2025

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments