Messiah Part II (Karya G.F Handel) dan“Hallelujah”

Viewed : 85 views

Tadi malam selepas PA Pasutri, kami mengikuti konser Messiah Part II di Gereja Katedral St. Petrus – Bandung. Konser ini menarik, karena satu alasan, karena anak kami Kasih ikut terlibat di dalam konser ini.

Saya lebih kenal karya Messiah Part I, yang bercerita tentang nubuat dan kelahiran Kristus, dan kabar sukacita untuk manusia. Sedangkan Messiah Part II mengisahkan tentang kisah penolakan manusia, penderitaan, kesendirian dan dipuncaki kemenangan Sang Mesias. Jikalau Part I lebih banyak berkisah tentang Natal, maka Part II ini lebih banyak berkisah tentang peristiwa Paskah.

Didukung oleh akustik Gereja Katedral yang bagus, sajian orkestra BASO (Bandung Symphony Orchestra dan paduan suara Pratama Voice menjadi sangat indah untuk dinikmati. Mengajak para penontonnya menapak tilas setiap getaran sabda Alkitab tentang Kristus, Sang Mesias, yang menderita tetapi yang telah menang.

* * *

Dalam keseluruhan struktur Messiah karya George Frideric Handel, Part II menempati posisi sebagai pusat dramatis sekaligus inti pesannya. Jika Part I membangun harapan melalui nubuat dan kelahiran, maka Part II membawa pendengar masuk ke dalam realitas yang jauh lebih kompleks: penderitaan, penolakan, kematian, dan pada akhirnya, kemenangan yang melampaui semua itu. Bagian ini bukan sekadar lanjutan cerita, melainkan transformasi makna—dari harapan yang bersifat janji menjadi kebenaran yang diuji melalui pengalaman paling ekstrem.

Narasi Part II dimulai dengan gambaran “Lamb of God”—figur yang tidak datang dengan kemegahan, melainkan dengan kerentanan. Musik bergerak dalam nuansa yang berat, seringkali lambat dan penuh ketegangan harmonik. Dalam aria seperti “He was despised” (Yesaya 53:3 – Hamba Tuhan Yang Menderita), penderitaan tidak disajikan secara dramatis dalam arti teatrikal, melainkan secara kontemplatif. Ini bukan sekadar penderitaan fisik, tetapi juga penolakan eksistensial: ditinggalkan, tidak dipahami, dan tidak diterima. Pada titik ini, Handel seolah mengajak pendengar untuk berhenti, bukan untuk bersimpati secara emosional semata, tetapi untuk merenungkan kedalaman makna penderitaan itu sendiri.

Saya teringat seruan Yohanes kepada Kristus, ketika Yesus mendatanginya. “‘Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia’ (Yohanes 1:29) —sebuah pengakuan bahwa keselamatan tidak datang melalui kekuasaan yang memaksa, melainkan melalui pengorbanan yang menanggung; bahwa dalam kerendahan Sang Anak Domba, dunia menemukan pembebasannya dari beban dosa yang tak mampu dipikulnya sendiri.” Menginatkan saya akan kalimat Latin yang merujuk pada seruan dalam tradisi liturgi Kristen—Agnus Dei, qui tollis peccata mundi—yang berarti “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Dalam konteks “Behold the Lamb of God” di Messiah, kalimat ini memang menjadi inti makna teologisnya: pengorbanan yang membawa penebusan.

Bagian berikutnya memperdalam intensitas ini. Penyaliban tidak digambarkan secara eksplisit dalam bentuk narasi literal, melainkan melalui atmosfer musikal yang menggambarkan kesunyian dan keterasingan. Di sini, Part II mencapai titik nadirnya—sebuah momen di mana segala harapan tampak runtuh. Dalam konteks filosofis, ini adalah momen di mana pertanyaan paling mendasar muncul: apakah penderitaan memiliki tujuan, ataukah ia hanyalah absurditas yang tak bermakna?

Namun, Messiah tidak berhenti di titik ini. Secara perlahan, musik mulai berubah. Dalam bagian seperti “Lift up your heads”, terdapat pergeseran yang jelas dari gelap menuju terang. Ritme menjadi lebih hidup, harmoni lebih terbuka, dan energi musikal mulai meningkat. Ini bukan perubahan yang tiba-tiba, melainkan sebuah kebangkitan yang berkembang secara organik. Kebangkitan di sini tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa teologis, tetapi juga sebagai simbol pembalikan total terhadap kondisi sebelumnya: dari kekalahan menuju kemenangan, dari keheningan menuju proklamasi.
Setelah kebangkitan, narasi berkembang lebih luas. Kabar kemenangan tidak lagi terbatas pada satu peristiwa atau satu tempat, tetapi menyebar ke seluruh dunia. Dalam chorus seperti “Their sound is gone out into all lands”, Handel menggambarkan bagaimana pesan ini menjadi universal. Namun, universalitas ini tidak datang tanpa perlawanan. Dalam “Why do the nations so furiously rage together?”, dunia digambarkan sebagai entitas yang menolak otoritas ilahi (Mazmuar 2:1). Musik di sini menjadi lebih agresif, penuh energi dan ketegangan, mencerminkan konflik antara kebenaran dan penolakan manusia terhadapnya.

Dan justru setelah ketegangan inilah klimaks sejati terjadi.

“Hallelujah” muncul bukan sebagai kelanjutan yang halus, melainkan sebagai ledakan. Tanpa peringatan, suasana berubah secara drastis. Musik menjadi terang, megah, dan penuh kepastian. Tidak ada lagi ambiguitas atau keraguan. Teksnya sederhana, bahkan repetitif: “Hallelujah… for the Lord God omnipotent reigneth.” Namun justru dalam kesederhanaan inilah terletak kekuatannya. Setelah perjalanan panjang melalui penderitaan, konflik, dan ketegangan, tidak diperlukan argumentasi panjang—yang tersisa hanyalah deklarasi.

Secara musikal, “Hallelujah” bekerja melalui kontras yang ekstrem. Dari bagian sebelumnya yang penuh konflik, tiba-tiba muncul struktur yang stabil dan kuat. Pengulangan kata “Hallelujah” menciptakan efek akumulatif, seolah-olah pujian itu tidak hanya datang dari satu suara, tetapi dari seluruh ciptaan. Pergantian antara bagian homofonik (semua suara bergerak bersama) dan polifonik (suara saling mengejar) menghasilkan dinamika yang memperkuat kesan kebesaran. Ini bukan sekadar komposisi musik, melainkan pengalaman ruang—pendengar seakan ditempatkan di tengah sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Lebih dari itu, “Hallelujah” memiliki fungsi naratif yang sangat spesifik. Ia bukan sekadar penutup Part II, tetapi jawaban atas seluruh pertanyaan yang diajukan sebelumnya. Penderitaan yang digambarkan di awal tidak dihapus, tetapi diberi makna baru. Penolakan tidak diingkari, tetapi ditransformasikan. Konflik tidak diselesaikan melalui kompromi, melainkan melalui deklarasi bahwa pada akhirnya, kedaulatan ilahi tetap berdiri. Dalam konteks ini, “Hallelujah” bukan hanya pujian, tetapi juga pernyataan ontologis: bahwa realitas pada akhirnya berada dalam tatanan yang benar.

Jika dilihat secara keseluruhan, Part II adalah perjalanan dari ketidakpastian menuju kepastian. Ia dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan jawaban, tetapi bukan jawaban yang diberikan melalui penjelasan rasional, melainkan melalui pengalaman musikal yang total. “Hallelujah” menjadi titik di mana semua elemen—teks, musik, dan emosi—bersatu dalam satu pernyataan yang tidak dapat lagi diperdebatkan, hanya dapat dialami.

Dengan demikian, kekuatan Part II tidak hanya terletak pada narasinya, tetapi pada cara ia membawa pendengar melalui perjalanan tersebut. Dan pada akhirnya, ketika “Hallelujah” terdengar, yang dirasakan bukan hanya keindahan musik, melainkan sesuatu yang lebih dalam: seolah-olah seluruh perjalanan itu menemukan maknanya dalam satu kata—pujian.

Dentuman alat perkusi timpani yang bertalu di bagian paling akhir musik ini seolah-olah mengajak pendengarnya untuk ikut merayakan kemengan Sang Mesias.

Hati siapa yang tidak jatuh tersungkur untuk menyembah keagungan Nya?

* * *

Lagu Hallelujah menjadi ikonik untuk setiap pertunjukkan Messiah karya G.F Handel, meskipun lagu ini sebenarnya diperuntukkan untuk Part II, tetapi lagu ini sering dinyanyikan juga sebagai penutup karya Messiah Part I. Tidak apa, karena lagu ini indah.

Biarlah yang bernafas memuji Tuhan, Haleluya.

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Comments

comments