Berbahagialah Orang yang Berdukacita,Karena Mereka Akan Dihibur

Viewed : 350 views

Tadi pagi saya jalan kaki keluar kompleks perumahan, tidak seperti biasanya.
Sambil memakai head set dan memutar lagu gubahan anak kami, berulang-ulang tanpa pernah bosan mendengarnya sambil asyik menjalankan rutinitas jalan kaki ini.
Kali ini keluar kompleks kemudian menyusuri jalan kecil dipinggir S. Cipamokolan yang membelah Jl.Raya Ujung Berung saya melewati kampung-kampung di sekitarnya. Bumi yang basah masih menamani kaki ini menapak, dan deru suara sungai menunjukkan bahwa hujan di hulu tadi malam cukup deras.
Tujuan saya kali ini mengunjungi keluarga teman di Cisaranten, setelah sekitar 45 menit jalan kaki,akhirnya sampai sampai ke tujuan.

***
Sampai di rumah, saya melihat ada sebuah Alkitab tergeletak di kursi habis diteras depan.
Pintu saya ketok, dan tuan rumah kaget karena pagi-pagi ada kunjungan tamu.
Setelah dipersilakan duduk, tanpa basa-basi saya serahkan HP dan headset yang saya bawa ke istri teman saya, yang adalah seorang guru musik, dan saya memutar sebuah video konser kepadanya.


Flight (by Kasih Karunia Indah)


It’s gruelling, isn’t it? To keep flying
Ever since your wing broke
You said that it hasn’t recovery completely
You’re a majestic creature
“But what is beauty for a bird that cannot fly properly?” you said
“My existence is a war against fate… yet I am powerless”
Life has knocked you down countless of time
Falling again… and again… and again

“I can’t take it anymore”

And I can’t help but ask,
“Why must life be so cruel to a bird with a broken wing?”
I do not have the answer nor the power to heal you
I might only offer you my company and a prayer
Maybe it’s too much to ask for the skies
to always be kind
But let’s hope whatever the weather
you may always find strength or shelter
May the light provide you warmth
and may the wind carry you well
to a time and place
that you may be acquainted with rest
and fly once more higher than before

Fly, my dearest bird, fly!
Soar, my dearest bird, soar!
If your thriving is a rebellion against fate
then let us defy it together
Let us not allow life to erase our dreams!

Dengan tenang dia mendengarkan, dan lagu belum selesai, namun saya dengar lirih isak tangis haru mengalir dari matanya.
Ya, dia menangis haru.
Saya hanya berdiam diri, dan membiarkannya dirinya untuk hanyut di dalam lagu tersebut.
Sebagai orang tua, siapa yang menginginkan anaknya mengalami disabilitas, ketidaksempurnaan,“sayap yang patah” di dalam hidupnya? Namun, apabila hal itu terjadi bagaimana kita sebagai orangtua menyikapinya?
Keluarga yang saya kunjungi sedang bergumul dengan isu tersebut, dan itu bukan proses yang mudah. Bagaimana menerima kenyataan kehidupan seperti ini, dan menemani sang  anak dengan penuh kasih anugrah, dan doa pengharapan yang tidak pernah putus dipanjatkan.Di dalam ketidaksempurnaan yang ada, bagaimana mengalami hadirat Allah yang sempurna dan berdaulat secara nyata, itu hal yang tidak mudah. PR yang utama adalah bagaimana sikap hati ini ditatar dan didadar, sehingga tetap menaruh iman dan pengharapan kepada Allah yang membuat segala sesuatunya indah.

***

Sebagai orang tua, saya harus memeriksa diri saya ketika menemani anak kami di dalam  menjalani kehidupan mereka. Saya takut bahwa harapan saya kepada anak saya, sebenarnya adalah proyeksi dari kekuatiran saya atas kehidupan anak saya kelak. Atau kemarahan kami yang menenggelamkan kasih kami kepada anak-anak kami.
Saya ingin melepaskan anak-anak kami, tetapi sebenarnya tangan kami masih erat memegang tangan mereka. Dan kami tidak siap melepaskan busur anak panah kami, karena kekuatiran dan ketakutan, menghantui pikiran kami sendiri.

Anakmu Bukanlah Milikmu – By Kahlil Gibran
Anak adalah kehidupan,
mereka sekedar lahir melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu, karena mereka dikaruniai
pikiranya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang,
yang tak bisa kau datangi,
bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju kedepan, dan
tidak tengelam di masa lampau.

Kaulah busur,
dan anak – anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menantangmu dengan kekuasaan-Nya,
hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan sukacita
dalam rentangan Sang Pemanah, sebab Dia
mengasihi anak- anak panah yang melesat laksana kilat,
Sebaimana pula dikasihiNya busur yang mantap

Injil seharusnya mewarnai jiwa kami di dalam menemani anak-anak kami. Injil itu menjadi hidup di dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan diri kami (yang penuh kekuatiran, yang sensitif, yang amarah, yang pengharapannya sangat egois, yang kasihnya tidak sempurna, dsb.), kecuali kami bergantung sepenuhnya kepada Kasih Karunia dan Kebenaran Allah. Sehingga kita senantiasa berlutut dan bersujud di hadapan Allah yang memampukan kita sebagai orang tua, dan mengaruniakan sukacita sebagai orang tua.

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments