Siapakah yang Mengetahui Pikiran Tuhan Kita?

Viewed : 291 views

Roma 11:34
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

Seorang petani melepas kelelahannya di kebun di bawah pohon rambutan miliknya. Tidak jauh dari situ dia juga menanam semangka. Pohon rambutan dan semangkanya sedang berbuah banyak.

Petani itu sejenak menikmati seluruh tanamannya. Ketika perhatiannya tertuju ke buah rambutan dan semangkanya, dalam pikirannya, petani itu berkata, “Tuhan nampaknya kurang bijaksana dan tidak berhikmat dalam penciptaan-Nya. Mengapa pohon rambutan besar begini buahnya kecil-kecil, sementara pohon semangka yang tumbuh merayap buahnya besar-besar? Ini tentunya tidak cocok. Ini terbalik!”

Petani itu melanjutkan berkata dalam pikirannya, “Seandainya aku Tuhan, akan kubalikkan! Akan kujadikan pohon rambutan ini buahnya sebesar buah semangka bahkan lebih besar, dan pohon semangka itu buahnya kecil saja, cukup sebesar buah rambutan”

Tak lama kemudian petani itu tertidur karena kelelahan berpikir soal ukuran buah rambutan dan buah semangka. Tiba-tiba dia terbangun karena dikejutkan dengan jatuhnya buah rambutan kena tepat ke kepalanya. Dia sadar akan pikirannya tadi yang menyalahkan dan menuduh Tuhan tidak bijaksana.

Petani itupun langsung berdoa dengan berkata, “Ya Tuhan, aku minta ampun. Aku bersyukur karena ternyata Engkau adalah Tuhan Yang Maha Bijaksana dengan membuat buah rambutan lebih kecil dari buah semangka. Seandainya Engkau seperti pikiranku membuat buah rambutan sebesar buah semangka, tentu aku jadi repot. Kepalaku bisa berbahaya dijatuhi benda sebesar buah semangka. Ampunilah aku Tuhan. Terima kasih Tuhan!”

Kita sering berlaku dan berpikir seperti petani itu yang menganggap Tuhan kurang bijaksana. Kita seakan memaksakan pikiran kita. Kita berpikir Tuhan seharusnya seperti apa yang kita pikirkan. Kita membatasi Tuhan dalam pola pikiran yang sempit dan terbatas. Kita cenderung memaknai kebesaran Tuhan dengan cara pandang kita yang salah. Kita sering mengecilkan artinya Tuhan dalam hati dan pikiran kita. Akibatnya kita tidak lagi memuliakan Tuhan sepenuhnya.

Kita kerap menjadi pribadi yang skeptis dengan cara tidak mempercayai dan tidak mengandalkan Dia sebagai Tuhan. Kita terjebak dalam kemampuan pikiran sendiri. Kita mengandalkan dan bergantung kepada kekuatan kita sebagai manusia semata. Kita merasa diri lebih besar, lebih berhikmat dan lebih merasa kuat hidup tanpa campur tangan-Nya. Kita merasa bijaksana. Kurang bergantung kepada Dia.

Awal kekalahan kita adalah ketika kita tidak lagi menyadari bahwa Tuhan sebagai Allah yang berdaulat.

Siapakah kita?

Dunia ini terlalu besar untuk dihadapi bila tidak bersama Tuhan Yesus. Kita tidak tahu apa yang terjadi besok. Kita hanya tahu sedikit saja dari apa yang telah lewat, dan hanya mampu mereka-reka dan menduga-duga apa yang bakal terjadi sekejap lagi. Bahkan itupun sering meleset juga.

Rahasia kemenangan menghadapi dunia yang makin kompleks dan penuh tantangan ini adalah: kita butuh Tuhan. Sebab itu taatlah kepadaNya!

Mazmur 119:114
Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu

Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.
Selamat melayani.

Tuhan Yesus beserta kita senantiasa. Hikmat-Nya menuntun kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments