Kembali Datang & Berterimakasih Pada Yesus

Viewed : 997 views

Lukas 17:11-19
Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”
Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.
Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria.
Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?
Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?”
Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Teringat pada waktu covid-19 mewabah, kita begitu takut terjangkit. Ketika itu covid-19 sangat menular dan mematikan. Kita harus saling menjauh satu sama lain. Tak boleh dekat-dekat.

Hal yang mirip terjadi pada zaman Yesus. Saat itu, penyakit kusta adalah penyakit yang sangat ditakuti. Penderita penyakit ini harus dijauhi dan dipisahkan. Tidak boleh berdekatan dengan orang sehat.

Suatu hari, beberapa orang berpenyakit kusta melihat Yesus. Mereka berseru dan berteriak ingin disembuhkan Yesus. Akan tetapi Yesus seakan tidak merespons seruan mereka. Yesus suruh agar mereka pergi sajalah kepada imam-imam untuk memperlihatkan diri mereka.

Secara logika, aneh apa yang dilakukan Yesus dengan hanya menyuruh mereka datang ke para imam.
Bukankah mereka perlu kesembuhan?
Buat apa datang kepada Imam dalam kondisi sakit kusta?
Apakah mereka tidak akan dipermalukan, dimarahi dan diusir nanti?

Jika kita berada di tempat peristiwa itu sebagai pengamat, pikiran kita mengatakan mestinya Yesus bertindak melakukan sesuatu yang akan membuat mereka sembuh total terlebih dahulu. Mereka mengalami keajaiban. Setelah itu bolehlah disuruh mendatangi para imam.

Tetapi kita melihat mereka mau dan taat melakukan apa yang disuruh Yesus. Inilah kunci kesembuhan orang kusta itu. Di tengah jalan mereka tiba-tiba sembuh… jadi tahir. Ajaib!

Yesus menyuruh mereka mendatangi para imam tentu ada maksudnya, yaitu agar para imam MENYATAKAN dan MELEGALISIR bahwa orang berpenyakit kusta itu telah sembuh. Mereka mendapat PENGAKUAN dan dengan demikian mereka boleh bergabung kembali dengan masyarakat. Tidak dikucilkan lagi, sebab para imam yang memiliki wewenang mengesahkan orang kusta itu telah tahir dan sembuh. Juga agar para imam tahu bahwa Yesus yang menyembuhkan mereka meski memang para imam berseberangan dan menentang Yesus.

Yang juga sangat menarik dari kisah ini adalah bahwa dari 10 orang yang disembuhkan, tetapi hanyalah 1 orang yang datang kembali kepada Yesus untuk berterimakasih. Dan yang 1 orang ini adalah orang Samaria. Kemana yang 9 orang lagi?

Peristiwa ini merupakan catatan penting dan refleksi dari sikap kita terhadap Allah. Kita sudah begitu sangat banyak menerima anugerah dan kebaikan Tuhan. Tak berhingga jumlahnya!

Untuk itu…
Apa respons kita kepada Kristus?
Kita termasuk mana?
Apakah kita termasuk yang 1 orang atau berada dalam kumpulan 9 orang?
Allah dan kitalah yang tahu tentang kita.

Kata Yesus kepada yang 1 orang itu, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Keyakinan kita: yang 1 orang ini tidak hanya fisiknya saja sembuh, tetapi juga jiwanya sembuh. Iman di dalam Yesus telah menyelamatkan jiwanya”

Pelajaran bagi kita: selalu ada berkat besar dan khusus bagi orang yang tahu berterima kasih, taat dan bersyukur kepada Yesus. Itulah yang terjadi terhadap 1 orang tersebut.

Oleh sebab itu jangan berada dalam kumpulan 9 orang, tetapi bergeraklah maju ke arah yang 1 orang itu, sehingga tidak hanya 1 orang saja, tetapi ada banyak orang yang akan datang bersyukur memuji, menyembah dan mengagungkan Allah terus-menerus tanpa henti; dan di antara orang tersebut adalah Anda dan saya. Ya… kita semua yang membaca pesan ini.
Puji Tuhan!

Selamat bekerja.
Selamat beraktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Freepik

Comments

comments