Ayub 1:21
”Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalam nya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”
Ayub dalam kepedihannya berkata seperti ayat di atas dalam situasi seluruh harta bendanya habis dan anak-anaknya meninggal serta dia terkena penyakit: ”TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!_
Belajar dari Ayub, dari sisi manusia sungguh tragis dan malang betul. Namun karena Tuhan ijinkan derita Ayub, maka itu yang terbaik. Bahkan itu kemuliaan bagi Ayub, dan hal itu terlihat di akhir kisah Ayub.
Pada umumnya, bagi manusia yang menarik adalah kemuliaan dunia ini tanpa derita, sehingga manusia gigih untuk memperolehnya. Bagi Tuhan lain sama sekali; bagi Dia yang menarik adalah apa yang kita perbuat dalam hidup ini untuk kemuliaan-Nya dan sejauh mana kedekatan kita dengan Dia. Itu yang utama, sehingga derita juga kerap diijinkan-Nya sabagai ujian hidup mirip Ayub.
Oleh sebab itu, mari kita mencari apa yang paling berarti dalam hidup ini walau di tengah tantangan. Hal yang sangat berharga dan indah adalah hubungan baik dengan Allah.
Janganlah tantangan hidup dan daya tarik dunia menghalangi kita untuk dekat dengan Tuhan.
Apabila kita jauh dengan Tuhan, sesungguhnya kita gagal total dalam hidup ini dan kita kehilangan segalanya.
Bila kita dekat dengan Dia, sebetulnya kita telah memperoleh apa yang paling baik dan kita tidak akan pernah menyesal dengan itu.
Sehubungan dengan itu, rasul Paulus berkata, “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!” (2 Timotius 4:5).
Selamat beraktifitas.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Pavel Danilyuk




