Perjuangan Penaklukan Atas Diri Sendiri

Viewed : 467 views

Wahyu 3:10-11
Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi.
Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.

Dalam sejarah orang sukses selalu ada jalan panjang berisi catatan tentang perjuangan dan pengorbanan.

Bila dilihat dengan jeli perjalanan seseorang yang berhasil, selalu ada keringat bahkan air mata yang mendahuluinya.

Bila hanya terpesona melihat kenyamanan sebagai buah kesuksesan, maka dapat berakibat lupa akan keharusan untuk berupaya. Tetapi bila kagum akan ketegaran seseorang, maka dari situlah awal untuk maju kerena dapat memberi motivasi, energi, keberanian dan kesabaran.

Pohon besar mampu menghadapi terjangan angin kencang bila ditopang oleh akar yang kuat. Akar yang kuat perlu waktu untuk bertumbuh.

Tidak ada hitungan malam untuk mencetak bongkah kayu kokoh, dan tidak ada hitungan siang untuk menumbuhkan akar yang kuat.

Mungkin saja sukses dapat dicapai tanpa pengorbanan, tetapi sebenarnya sukses seperti itu tidaklah wajar atau lebih merupakan keberuntungan.

Sukses yang sejati s ering dicapai melalui kesabaran serta keuletan dan bukan oleh kecepatan.

Begitu juga dengan SUKSES dalam arti rohani.

Tuhan ingin agar kita bertumbuh, berakar dan berbuah. Dengan cara demikianlah kita menjadi kuat dan dapat dipakai Allah untuk mencapai maksud dan rancangan-Nya. Untuk itupun perlu perjuangan penaklukan atas diri sendiri.

Orang-orang yang diurapi Tuhan memiliki catatan hidup yang tidak mudah. Banyak pengalaman panjang yang dilewati dengan penuh pergumulan.

Pohon yang berbuah segar dan ranum diawali dengan benih yang bersedia masuk dalam proses yang menyakitkan (Yohanes 12:24). Benih itu harus bersedia jatuh dan mengalami penghancuran dalam tanah. Setelah itu barulah bertumbuh dan akhirnya menghasilkan buah berlipat ganda.

Seseorang yang ”hancur hati” karena dosa dan mau ”mati bagi diri sendiri” dalam hal ”menyangkal diri” serta ”melepaskan egonya”, maka orang seperti itulah yang akan dapat bangkit dan memberi pengaruh serta perubahan kepada dunia ini.

Tuhan tidak melihat apa profesi kita. Tuhan tidak melihat tingkat kesuksesan yang kita alami. Meski orang memandang kita sebelah mata dan biasa-biasa saja, tetapi bila kita membuka telinga dan hati kepada suara Allah, serta taat melakukan Firman-Nya, maka Allah di pihak kita dan Dia berkenan menjadikan kita sebagai pembawa damai dan berdampak postif untuk merubah dunia ini.

Selamat beraktifitas.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Jonathan Kemper on Unsplash

Comments

comments