Ibrani 6:19
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.
Seorang perenang top, kawakan dan handal mencoba berenang menyeberangi sebuah selat antara dua pulau yang terkenal memiliki arus laut yang ganas.
Hari itu kurang menguntungkan baginya karena tidak berhasil. Padahal sudah hampir sampai di titik yang semestinya dituju.
Setelah diselidiki, ternyata dia kehilangan semangat. Oleh karena penglihatannya tertutup dan tidak dapat melihat daratan yang sudah dekat, dia berpikir titik akhir masih jauh. Dia putus asa. Dia kehilangan tenaga. Dia kehilangan spirit.
Beberapa waktu kemudian dia coba lagi berenang di tempat yang sama di tempat sebelumnya. Kali ini dia begitu optimis.
Ketika berenang dia senantiasa memfokuskan pikirannya ke tujuan. Dia begitu semangat dan memiliki pengharapan pasti sampai di sebrang. Meski sebenarnya dia sudah merasa kecapaian dan letih, tetapi melihat ke depan membuat dia tetap semangat dan memiliki motivasi yang kuat. Sedikitpun mentalnya tidak jatuh. Akhirnya dia betul-betul sampai di titik akhir… berhasil!
Hidup ini sering begitu melelahkan dan terasa letih jika tidak memiliki pengharapan. Banyak orang hampir putus harap karena tidak melihat tujuan hidup yang jelas. Tidak merasakan apa artinya hidup. Tidak melihat Allah sebagai sumber pengharapan yang dapat diandalkan.
Jika kita sadar untuk apa kita hidup dan mampu melihat bahwa hidup ini adalah kasih karunia Allah, maka hidup ini dapat dinikmati bersama kehadiran Allah dalam hidup kita. Allah adalah sumber pengharapan. Dia menolong, sehingga kita dimampukan untuk dapat merasakan damai dan bahagia.
Selamat beraktivitas.
Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Todd Quackenbush on Unsplash




