243. ’Transformasi Akbar’

Viewed : 529 views

Cepat nian perubahan ini. Semua bidang diatur kembali. Tidak ada yang terkecuali. Tidak ada yang dapat membela diri. Yang bandel mencoba tetap berdiri. Semua dilibas bak sekehendak hati. Seluruhnya direka ulang lagi. Perubahan kilat bak ganti pakaian. Tiba-tiba bangun laksana sudah ada di dunia lain.

Dunia bak terasa ada dalam mimpi. Semuanya terasa asing sekali. Rasanya semalam tidur pulas. Lelap di atas kasur yang empuk-empuk keras. Ingin pejamkan mata lebih lama lagi. Guling kiri guling kanan sambil bermalas-malas. Hingga bangun badan langsung terasa lemas. Apakah ini nyata? Ataukah hanya maya?

Tidak percaya apa-apa yang kulihat. Mata kuusap-usap. Bagaimana mungkin perubahan ini bisa terjadi secepat kilat. Seperti semuanya disulap. Penonton terbelalak. Semua tersirap. Tak terbayangkan semua berubah dalam sekejap. Kebiasaan diralat. Ternyata tidak ada lagi yang tetap.

Di akhir minggu yang biasanya begitu ramai. Kini, mall-mall layaknya sudah tidak terpakai. Pusat-pusat perbelanjaan terbengkalai. Gerai-gerai ternama yang biasanya orang disiplin satu-satu antri. Sekarang dijauhi. Jalan-jalan utama yang senantiasa lalu lintasnya padat tersedat. Sekarang dapat dilalui dengan cepat.

Jika long weekend, semua orang ingin jalan-jalan. Melepas lelah dari kebosanan. Akibatnya bandara-bandara sepanjang hari sibuk. Orang lalu lalang hiruk pikuk. Sekarang tinggal bagian security yang duduk-duduk. Bisnis penginapan pun ikut terpuruk. Hospitality industry ada di ujung tanduk. Kaku lesu tertunduk.

Kala jumpa teman lama. Merangkul sambil cepiki cepika. Itu simbol teman yang akrab sekali. Sekarang? Sebagai tanda sahabat sejati. Jaga jarak bak saling menjauhkan diri. Tanda mengasihi orangtua. Sering mengunjugi. Sekarang tanda kasih itu berubah arti. Di antara sesama sepertinya orang tidak lagi saling peduli. Bak bermusuhan saling menjauhi. Semua menutup mulut. Jadinya sulit ditebak maksud. Karena itu jangan cepat kepincut. Bisa jadi mereka senyum kecut. Ataukah tawa lebar tanda salut?

Begitu pun terjadi dalam bidang rohani!

Di hari Minggu pagi. Setiap keluarga sudah berdandan rapi. Tak apa walau harus berjalan kaki. Ini sudah kebiasaan dari generasi ke generasi. Tidak ada yang memaksa. Ini sungguh-sungguh niat hati. Untuk ibadah di rumah Ilahi. Tegor sapa dengan Sang Pencipta. Menyembah dan memuji DIA. Kini? Itu tidak ada lagi.

Biasanya dari mulai hari Jumat malam. Sudah siap-siaplah semua yang akan menyelenggarakan kebaktian. Gembala sidang pun tak henti berdoa sendirian. Merenungkan materi yang akan dikhotbahkan. Paduan suara apalagi sudah siap dari kemarin. Liturgos dan para mejelis tidak ketinggalan. Semua semangat menyambut setiap hari Minggu yang dinanti-nantikan. Sekarang? Itu semua ditendang!

Tidak ada lagi kebaktian. Ibadah mingguan ditiadakan. Semua menjauh dari rumah Tuhan. Seakan-akan gedung megah yang dapat menampung ribuan. Itu dilupakan. Berdiri angker sendirian. Perpuluhan sebagai kewajiban. Jika melalaikan? Itu dianggap mencuri uang Tuhan. Berkat akan tertahan. Sekarang? Perkara itu dilupakan orang.

Di acara-acara retreat ataupun konferensi. Senangnya senda gurau dengan teman-teman lama sealumi. Itu momen berharga yang senatiasa dinanti-nanti. Karena itu hanya setahun sekali. Ramai-ramai rindu ke tempat sepi. Menyingkir dari kesibukan sehari-hari. Terasa lega di hati. Dapat seketika lepas dari kegiatan-kegiatan duniawi. Bertemu kawan-kawan persekutuan dalam suasana rohani. Rasanya hidup di-charge kembali. Itu dulu! Sekarang sudah berlalu.

Jangan berharap ada lagi pertemuan besar. Seakan-akan umat hatinya berdebar-debar. Menantikan mukjizat dari pengkhotbah tenar. Karena acara KKR-KKR semacam kebaktian penyembuhan sudah tidak bisa lagi digelar. Konser era praise and worship sudah kelar. Umat layaknya digiring secara kasar. Jemaat dihajar. Dipaksa untuk masuk ke dalam sangkar. Di rumah semua didesak untuk kembali lagi belajar!

Siapkah daku dan dikau menjadi pelajar? Layaknya kembali lagi menjadi murid Sekolah Dasar!

Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, tetapi Kristus setia sebagai Anak yang mengepalai rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya teguh berpegang pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan. (Iberani 3:5-6)

Musa dengan apik melakukan pekerjaan di rumah Tuhan. Teliti menuliskan aturan-aturan. Sehingga dia mewariskan tata cara menyembah Allah. Pedoman urutan ritual ibadah. Itu sebagai persiapan untuk menyongong masa yang akan datang. Bak masa-masa seperti sekarang!

Kristus sebagai Anak bertanggungjawab terhadap rumah itu. Setelah kebangkitan-Nya 2000 tahun yang lalu. Terjadilah transformasi akbar! Perubahan bentuk mendasar. Semua umat yang telah ditebus. Yang ada di dalam Kristus. Dikau dan daku! Adalah rumah itu.

Transformasi akbar!

Rumah itu. Dulu? Berdiri dingin nan kaku. Dari kayu dan batu. Sekarang? Tidak lagi begitu.

Itu telah berubah tampak menjadi dikau dan daku. Alih-alih berdiri di satu lokasi. Rumah Tuhan bergerak tak terkendali. Tidak perlu izin mendirikan bangunan. Tak butuh biaya rutin perawatan.

Jangan merasa tertekan. Apalagi seperti kena hukuman. Karena hari Minggu tidak bisa beribadah di rumah Tuhan. Karena rumah itu telah berubah rupa. Tidak perlu lagi ke mana-mana. Ataupun bertanya di mana.Karena rumah Tuhan itu, ya Anda! Lalu, ibadahnya bagaimana? (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Achim Pock on Unsplash

Comments

comments