Inilah Ibumu!

Viewed : 2,278 views

Yohanes 19:25-27
Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!”
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Ayat-ayat di atas merupakan ucapan yang ketiga Tuhan Yesus dari kayu salib.

Teringat dulu ketika masih kecil waktu saya sakit, terdengar sayup-sayup ibuku berkata, “Maunya saya saja yang sakit, janganlah anakku ini!”
Kalau saya ingat ini, saya rindu dengan ibuku yang sudah tiada. Betapa baiknya engkau ibuku…

Hal yang lebih luar biasa terjadi dengan Maria ibu Yesus. Pastilah perasaan Maria sebagai ibu Yesus sangat hancur melihat buah hatinya menderita dihukum tergantung di kayu salib. Hati Maria sangat tergoncang.

Sebagai seorang ibu, Maria pasti yakin bahwa Yesus tidak bersalah apa-apa. Maria mengenal Yesus yang dilahirkannya. Ibu Yesus sangat melihat keagungan dan keluhuran hati Yesus.

Dan kini di hadapannya fakta terjadi bahwa Yesus dihukum mati. Maria pasti memberontak hatinya dan mungkin hendak protes. Tapi apalah daya seorang ibu sederhana tak memiliki kuasa untuk menolak apa yang sedang dia lihat di hadapannya.

Dalam keadaan seperti itu, Yesus yang sedang tersiksa dengan kucuran darah membasahi seluruh tubuh-Nya menenangkan hati ibu-Nya.

Di tengah penderitaan badani dan siksaan batin yang dahsyat, Yesus memikirkan Maria, ibu-Nya. Juga Yesus memperhatikan murid-Nya. Dari kayu salib Yesus mempedulikan kebutuhan masa depan ibu-Nya dan para murid-Nya dalam jalinan kebersamaan.

Perkataan Yesus tersebut mengingatkan bahwa Dia peduli dengan kita. Justru karena Dia peduli dengan kitalah alasannya mengapa Dia disalib.

Perkataan Yesus kepada ibu dan murid-Nya itu mengingatkan agar kita saling menerima satu sama lain sebagai orang-orang yang telah ditebus;
• agar kita bersatu,
• agar kita menjalin kebersamaan dengan teguh dan utuh,
• agar kita saling menjaga,
• agar kita saling memperhatikan,
• agar kita saling membangun dan,
• agar kita saling menguatkan.

Oleh sebab itu hal penting menjadi renungan kita pagi ini adalah: apakah perkataan Yesus ke-3 dari kayu salib itu terus menerus terjadi dan berkembang di antara kita?
Semoga semua kita berkata, “Ya… saya siap dan berupaya lakukan itu demi dan dalam nama-Mu”

Puji Tuhan ! !

Selamat belajar.
Selamat bekerja.
Selamat beraktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan menolong dan menguatkan kita untuk hidup dalam kebersamaan. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Image by Myriams-Fotos from Pixabay

Comments

comments