RENUNGAN
Mazmur 75:6-7
Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain.
Pengakuan atau penghargaan adalah salah satu kebutuhan manusia. Manusia ingin dianggap. Ingin diakui.
Salah satu sumber keretakan sebuah hubungan adalah ketika seseorang merasa diabaikan. Orang menjadi marah atau menarik diri dari sebuah komunitas karena persoalan pengakuan.
Atas nama pengakuan dan penghargaan, orang bekerja keras dan mengejar prestasi. Dilihat dari sisi ini ada positifnya pengakuan dan penghargaan. Itulah sebabnya mengapa dibuat Surat Penghargaan, Tanda Terima Kasih, Lencana, Bintang Tanda Jasa, dan sebagainya. Bahkan ada instansi yang membuat dan mengumumkan Karyawan Terbaik. Namanya dipajang di dinding sehingga semua orang tahu.
Sekolah-sekolah berupaya meningkatkan prestasi siswanya dengan cara memberi bea siswa atau bentuk lain dalam rangka menghargai atau mengapresiasi siswa terbaik. Mahasiswa berprestasi cemerlang diberi predikat Cum Laude ketika wisuda.
Banyak kita nikmati temuan atau karya orang-orang hebat yang mungkin saja karya itu muncul karena dorongan keinginan atas pengakuan dan penghargaan dari para penemunya.
Jadi melihat fakta ini tidaklah salah jika orang ingin dihargai dan diakui, sebab ada manfaatnya semua. Karena itu berilah penghargaan yang patut dan pantas kepada orang yang memang layak menerimanya.
Hanya saja perlu kita merenungkan… bagi kita yang berada dalam posisi ingin dihargai;
• Bagaimana kalau kita tidak dihargai?
• Bagaimana sikap kita jika dilupakan?
• Berubahkah sifat-sifat baik kita dengan alasan orang tidak melihatnya?
• Berhentikah kita berkarya jika orang diam saja dan tidak ada ucapan terima kasih?
• Berhentikah kita memikirkan apa yang baik bagi orang jika tidak ada insentifnya?
• Apalagi kalau orang mengkritik kita, padahal kita sedang merencanakan perbaikan hidup dan berjuang untuk kesejahteraan orang banyak… mundurkah kita?
Marilah kita sejenak menyelami dan mendalami hati dan pikiran kita. Hendaklah keluar satu kata jawaban atas pertanyaan itu dengan kata: TIDAK !
Teruslah maju berjalan ke depan dengan kata klise tapi dalam maknanya yaitu siap menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.
Janganlah kiranya pujian dan sanjungan manusia menjadi titik tolak kita bertindak. Bukan dari timur, bukan dari barat, dan bukan pula dari padang gurun peninggian itu kata pemazmur. Timur… barat… padang gurun adalah manusia-manusia yang sejajar dengan kita. Yang namanya manusia bisa berubah-ubah juga.
Akan tetapi pengakuan dan penghomatan utama kita datangnya dari ATAS… dari Allah Bapa kita penentu dari segala sesuatu yang kekal dan tak berubah….
Wow… Puji Tuhan !
Selamat beraktifitas…
Selamat melayani…
Tuhan menyertai kita senantiasa.
Amin.
Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |




