Jadilah Garam yang Memberi Rasa & Makna Bagi Sesama

Viewed : 457 views

Matius 5:13
Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Suatu hari, seorang bapak bertanya kepada tiga orang anaknya. Ia bertanya untuk mengetahui seperti apa kasih anak-anaknya terhadap ayah mereka.

Apa jawaban mereka?

Anak pertama, ”Cinta dan kasihku kepada ayah lebih tinggi nilainya dari berlian.”

Anak ke-2, ”Kasihku dan cintaku kepada ayah setinggi langit dan lebih luas dari lautan.”

Ayahnya senang mendengar ungkapan kasih sayang anak pertama dan ke-2. Tetapi serasa aneh apa kata anak yang ke-3. Begini katanya, ”Kasih dan cintaku kepada ayah seperti garam.”

Ayahnya menjadi gusar. Dia kecewa mendengar ucapan anaknya yang ke-3 itu. Ia merasa kasih anaknya ini cetek dan tak berarti. Ia merasa dipemainkan oleh jawaban anaknya itu.

Rupanya ibunya nguping dan mendengar ucapan anaknya yang ke-3. Ibunya malah manggut-manggut tersenyum tanda setuju.

Untuk makan malam, sang ibu masak lauk. Semua lauk kesukaan suaminya tidak dibubuhi garam samasekali. Sang ibu sengaja seperti itu agar suaminya menyadari apa arti ungkapan anaknya yang ke-3 tentang kasihnya kepada ayah tercinta.

Saat makan, sang ayah kaget dan protes karena lauk terasa tawar tak berasa. Hanya pedas saja yang dirasa.

Pada saat itu juga langsung dia teringat akan ucapan anaknya yang ke-3. Dengan rasa haru, langsung dia datangi anaknya itu dan memeluknya. Dia sadar betul betapa garam sangat berarti sekalipun tak dihargai dan sering diremehkan. Ungkapan anaknya sungguh mendalam artinya.

Apakah ada peran kita di tengah kehidupan ini bagi orang lain?

Mungkin kita tidak dapat memberi berlian; apalagi langit dan lautan… tidak mungkin. Namun kita dapat memiliki arti dan bermakna bagi orang lain seperti garam. Kita memberi rasa dan makna.

Walaupun garam murah dan seolah tak berarti, tetapi garam selalu penting dan dicari orang. Menjadi salah satu kebutuhan utama hidup kita.

Kristus mengajarkan agar kita menjadi garam yang memberi citra rasa bagi sesama dalam bentuk kebajikan dan kebaikan hati. Kita dan semua orang sangat membutuhkannya.

Kebajikan dan kebaikan hati adalah bahasa yang dapat dilihat oleh orang buta dan dapat didengar oleh orang tuli.

Walau sering sulit melakukannya, dengan pertolongan-Nya, mari kita menjadi garam bagi dunia ini sebagai wujud kasih kita kepada-Nya.

Selamat beraktivitas
Selamat melayani.

Tuhan memberkati dan menyertai kita senantiasa. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments