Kamu Adalah Garam Dunia

Viewed : 520 views

Matius 5:13
Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

Suatu hari seorang ayah berbicara dengan ketiga anaknya. Sang ayah bertanya untuk mengetahui seperti apa kasih anak-anaknya terhadapnya. Jawaban anaknya berbeda-beda.

Anak pertama, ”Kasih dan cintaku kepada ayah lebih tinggi dari emas dan perak.”

Anak ke-dua berkata,: ”Kasih dan cintaku kepada ayah lebih besar dari gunung dan lebih luas dari samudera.”

Sang ayah sungguh senang mendengar ungkapan kasih anaknya.

Tetapi apa jawaban anak ke-tiga? Anak ke-tiga berkata, ”Kasih dan cintaku kepada ayah seperti garam.”

Ayahnya jadi bermuka masam mendengar ungkapan kasih anaknya yang ke-tiga itu. Ia merasa tak berarti dan murahan kasih anaknya tersebut. Serasa dilecehkan dan dipemainkan dengah jawaban anaknya ke-tiga itu.

Ibunya nguping dan mendengar dengan jelas ucapan anaknya yang ke-tiga. Sang ibu juga mengerti perasaan suaminya yang terlihat galau dan gusar. Namun ibu itu manggut-manggut tersenyum tanda setuju.

Pada malam harinya ibunya itu masak. Lauk kesukaan suaminya berupa gulai ikan kakap tidak diberi garam. Sengaja seperti itu dilakukannya agar suaminya menyadari apa arti ungkapan anaknya yang ketiga tentang kasihnya seperti garam kepada sang ayah.

Tibalah saat makan. Sang ayah kaget sebab lauk buatan istrinya tidak berasa dan hambar sama sekali sebab tidak pakai garam.

Tiba-tiba sang ayah teringat akan ucapan anaknya yang ke-tiga. Dia berdiri dan langsung dia peluk anaknya itu… bahwa garam sangat berarti sekalipun mungkin sering diremehkan. Ungkapan anaknya sungguh mendalam artinya.

Bagi kita…
Mungkin kita tidak mampu memberi sesuatu yang menurut orang berharga. Kita tidak dapat memberi emas, perak, gunung dan samudera raya. Namun kita dapat memiliki arti dan bermakna bagi orang lain seperti garam… memberi rasa.

Meskipun garam murah dan seolah tak berarti, tetapi garam selalu penting dan dicari orang.

Kristus mengajarkan agar kita menjadi garam yang memberi rasa bagi sesama kita dalam bentuk kebajikan dan kebaikan hati. Kita dan semua orang sangat membutuhkan hal itu.

Kebajikan dan kebaikan hati adalah bahasa yang dapat dilihat oleh orang buta dan dapat didengar oleh orang tuli.

Hendaklah kita menjadi garam bagi dunia ini sebagai wujud kasih kita kepada Allah yang mengasihi semua orang.
S e m o g a !

Selamat bekerja.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan memberkati dan menyertai kita. Amin,

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using DALLE-3 on Bing Image Creator

Comments

comments