356. Menembus Batas Iman

Viewed : 535 views

Ini berita yang mungkin dapat membuat panas kuping, kepala pening. Bagi golongan elite rohaniawan pendapat ini bisa-bisa dianggap miring. Sesat karena keluar dari kaidah yang selama ini dianggap tidak mungkin berubah. Namun bagi kaum awam, ini berita yang melegakan.

Ini berita yang ditunggu-tunggu oleh semua suku di Nusantara. Terasa manis bagi mereka yang terlahir di ranah Minang. Disambut gegap gempita oleh mereka yang berasal dari pulau Madura. Bukankah itu yang membuat suku Batak lebih beradab?

Kabar ini pas juga bagi semua penganut agama. Cocok bagi dikau yang sejak kecil sudah ke Sekolah Minggu, atau pun untuk daku yang masih terus mencari mana agama yang paling jitu. Klop pun bagi Adinda yang selama ini merasa tertipu dan rindu yang baru.

Warta ini pun serasi bagi golongan yang muak dengan simbol-simbol agama. Muntah dengan kemunafikan, tidak satunya kata dengan perbuatan. Mual dengan ketidaklogisan ritual, apalagi terus ribut dengan isu-isu doktrinal. Jijik melihat pemegang kunci sorga yang terus menerus menambah beban di pundak jema’at, setiap hari semakin berat (Matius 23:4).

Tak tahulah! Akan tetapi kenyataan ini kena juga bagi mereka yang tidak percaya adanya Tuhan. Atau pun umat biasa yang tidak peduli lagi dengan imbalan sorga atau pun ancaman neraka. Bagi mereka yang terpenting bisa makan.

Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: “Olehmu segala bangsa akan diberkati.” (Galatia 3:8)

Yes! Ini Injil yang diberitakan kepada Abraham, Berita Sukacita yang disampaikan sebelum dikenal agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Injil yang terlepas dari paham-paham. Kabar Gembira yang disampaikan ribuan tahun silam.

Jauh sebelum dikenal berbagai ritual, kala tidak dikenal aturan-aturan kebaktian, apalagi tentang perpuluhan. Tidak ada buku panduan, nol bangunan, alamlah sebagai ruang kelas untuk mengenal Tuhan.

Semasa Abram masih sebagai pengembara, dengan keluarga dan handaitolan merantau keluar dari kampung halaman, Mesopotamia (daerah Irak sekarang). Maksud hati memperbaiki nasib keturunan, akhirnya terdapar di padang belantara, Haran (Kejadian 11: 31).

Sebelum ada agama samawi, pun belum ada kitab suci. Nabi Musa belum datang, nabi lainnnya belum bermunculan. Tidak ada konflik agama, gak dikenal berbagai denominasi, asing adanya hari-hari kudus, apalagi ibadah harus di hari-hari khusus.

Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” (Yakobus 2:23; 2 Tawarikh 20:7)

Kala Abraham dikenal sebagai teman, sahabat dari Pemberi Berkat. Ketika relasi dengan sang insan sebagai kerabat, teman dekat. Ini perkara hubungan, bukan isu-isu keagamaan. Menjalin tali pertemanan, Sang Pencipta ambil langkah supaya daku dan dikau menjadi kawan.

Injil yang disampaikan kepada Abraham, Kabar Berkat bagi sarwa sekalian alam. Inilah Injil Kerajaan Allah (IKA) yang dihindari golongan rohaniawan, namun disambut dengan sukacita oleh kaum awam (Matius 4:23-25).

IKA itu di atas semua keyakinan, melampaui sekat-sekat agama, menembus batas iman. Dia tidak peduli dengan dikau penganut agama yang mana, atau pun gandrung dengan denominasi yang sana. IKA fokus kepada relasi, menjadi sahabat sejati dari kekasih hati, Mesias Sang Ilahi.

Kabar Baik tentang kerajaan-NYA!

Betapa lega, sungguh amat bahagia, jika sadar bahwa ADA SAHABAT yang menerima daku apa adanya. DIA menerima dikau bukan karena berjaya, apalagi selalu harus prima. Tidak guna berusaha agar daku lebih dicintai-NYA. Biar pun dianggap tidak layak ikut dalam pelayanan, kasih-NYA tetap saja sama, tidak ada perubahan.

Bukankah itu berita gembira? Injil yang disampaikan ke Abraham, IKA yang diberitakan Sang Raja akan selalu dinanti-nantikan oleh suku bangsa di Nusantara bahkan oleh semua penganut agama. Ini perkara pertemanan dan bukan keagamaan! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments