Mari Kita Hidup Melayani!

Viewed : 556 views

Efesus 3:7
Dari Injil itu aku telah menjadi pelayannya menurut pemberian kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku sesuai dengan pengerjaan kuasa-Nya.

Bayangkanlah ada sebuah restoran!

Mungkin tidak terlalu antusias seseorang memperkenalkan diri dengan mengatakan bahwa dia adalah bekerja sebagai pelayan di restoran itu.

Mungkin dia hanya mengatakan bahwa dia adalah seorang karyawan di restoran itu. Atau diganti dengan istilah staf.

Itu cukuplah! Tak usah dan tak perlu diperpanjang lagi menjelaskan profesinya sebagai pelayan di situ. Orang tahu kok apa yang dikerjakan seorang pelayan kan?
Rasanya kurang berharga. Tak megah. Tak menarik. Rasanya tak bernilai bahkan mungkin malu.

Lain halnya kalau seseorang bekerja sebagai pimpinan di restoran itu. Atau mungkin sebagai sahabat atau keluarga dari pemilik restoran itu. Bahkan menjadi pemilik dari restoran itu… akan merasa punya harga diri. Akan lebih keren dan bangga memperkenalkan diri. Lengkap dengan kartu nama. Akan dibuat kartu nama lengkap dengan jabatannya. Tak lupa diberikan bila memperkenalkan diri.

Rasanya tak pernah ada orang membuat kartu nama dan menulis di situ sebagai pelayan. Kalau sebagai Direktur… bolehlah.

Namun kita melihat rasul Paulus dengan semangat mengatakan dan menunjukkan dirinya sebagai pelayan Injil. Dia posisikan dirinya sebagai pelayan dengan semangat. Paulus katakan bahwa dirinya sebagai pelayan bukan karena dia bisa, tapi itu semua adalah karena pemberian dan kasih karunia Allah. Sudah menjadi pelayan, tak layak pula lagi…

Sahabat…
Marilah kita juga ikut jejak Paulus dengan memandang diri kita adalah seorang pelayan. Kita tidak layak untuk itu, namun kita dipilih dan dilayakkan oleh-Nya.

Mari kita menunjukkan sikap kita sebagai pelayan. Tak perlu merasa diri rendah sebab kita adalah pelayan atau pesuruh Tuhan yang menciptakan dan Pemilik alam semesta. Dia yang menciptakan dan Pemilik dunia ini dan semua isinya. Dia yang menciptakan dan Pemilik kita. Dia yang menciptakan dan Pemilik dari setiap manusia yang kita layani. Jadi… luar biasa dan mestinya kita takjub dengan status kita sebagai pelayan-Nya.
Puji Tuhan!

Karena itu mari kita hidup dengan hati seorang pelayan. Mungkin di rumah di tengah-tengah keluarga. Mungkin di kantor atau dunia kerja. Mungkin di komunitas tertentu. Mungkin di gereja dan di organisasi lembaga pelayanan tertentu. Ingatlah!… kita adalah pelayan dan siap melayani dengan serius, tulus, dan rendah hati!

Mari kita hidup melayani… melayani… dan melayani…!

Nyanyianku…
Melayani melayani lebih sungguh
Melayani melayani lebih sungguh
Tuhan lebih dulu melayani kepadaku
Melayani melayani lebih sungguh
๐ŸŽท๐ŸŽบ๐Ÿช—๐ŸŽธ๐Ÿช•๐ŸŽป๐ŸŽผ๐ŸŽค๐ŸŽง

Doaku…
Terima kasih Tuhan. Aku adalah salah seorang pelayan-Mu yang kecil dan tak layak. Aku melayani menurut pemberian kasih karunia-Mu yang Engkau anugerahkan sesuai dengan kehendak dan kuasa-Mu. Amin.

Selamat Hari Minggu.
Selamat Beribadah.
Selamat melayani bagi para hamba-Nya

Tuhan Yesus Kristus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung.

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahรบn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Mikhail Nilov

Comments

comments