Aku Telah Memanggil Engkau Dengan Namamu

Viewed : 1,548 views

Yesaya 43:1
Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaanku”

Apalah arti sebuah nama
Kalimat ini sering kita dengar, atau kita yang mengucapkannya. Ungkapan ini bermakna seolah-olah arti sebuah nama tidaklah penting untuk dipersoalkan.
Betulkah demikian?

Kenyataannya justru nama bagi sebagian besar orang sangatlah berarti, sekalipun mungkin saja namanya sederhana, bahkan banyak yang namanya terasa menggelitik.

Coba sajalah jika seseorang lewat di depan kita, dan tiba-tiba kita menyebutkan namanya, misalkan saja: “Hallo Virona!,” maka paling tidak Virona akan menoleh. Dia ingin tahu siapa gerangan yang menyapa namanya. Jadi dalam hal ini penyebutan nama begitu peka bagi sang pemilik nama.

Apalagi kalau nama itu dikaitkan dengan hinaan, pastilah sang pemilik nama tersinggung dan marah. Akan tetapi sebaliknya jika pujian, maka orangnya tentu sangat senang mendengar dan dapat merasa tersanjung. Oleh sebab itu jelaslah bahwa sapaan nama sangat berarti, berkesan dan bermakna bagi seseorang.

Apapun nama kita, kita dibuat Allah berharga di mata-Nya. ”Aku akan memberikan kepadamu harta benda yang terpendam dan harta kekayaan yang tersembunyi, supaya engkau tahu, bahwa Akulah TUHAN, Allah Israel, yang memanggil engkau dengan namamu.” (Yesaya 45:3).

Memang kita berasal dari manusia berdosa, yang tidak layak di hadapan-Nya, namun kita telah dilayakkan dan telah diangkat serta diberi status baru menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Itulah sebagai dasar, sehingga kita diamampukan menyapa Dia sebagai Bapa… Bapa Yang Maha Sempurna.

Selamat beraktifitas.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Waldemar Brandt on Unsplash

Comments

comments