Kolose 1:19-20
Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.
Karena pandemi, maka perayaan Natal tahun ini sungguh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam perayaan tahun-tahun yang telah lalu kita disibukkan dengan perayaan yang meriah. Banyak upaya dan dana yang dikeluarkan.
Dalam persiapan perayaan Natal, mungkin kita disibukkan dengan bagaimana agar perayaan berjalan megah.
Fokus kita mungkin adalah manusia yang ikut dalam perayaan. Perhatian kita lebih tertuju agar jemaat puas sepuas-puasnya. Dalam evaluasinya setelah selesai, jangan-jangan kita meletakkan evaluasi berdasarkan hanyalah kepuasan jemaat sebagai barometer.
Panitia berharap tidak ada keluhan dengan acara natal. Anggota jemaat yang biasa komplain dan protes ditakuti. Diupayakan agar suara-suara tidak membuat panitia kecewa dan merasa acara kurang bermakna.
Antara panitia natalpun sering terjadi kesalahpahaman, bahkan timbul perasaan tidak nyaman karena saling menyalahkan dan dipermasalahkan.
Konsumsi perayaan natal juga tidak kalah penting untuk disiapkan, dan seksi konsumsi sering repot disalahkan dengan menu yang mereka sediakan.
Terkadang mengurus perayaan natal sama ribetnya dengan pesta adat yang pelik.
Mengusahakan dana natal juga harus habis-habisan terkuras tenaga untuk pengadaannya. Dibuat makanan untuk dijual. Cari sponsor dan donatur dengan janji dicantumkan fotonya dalam buku acara, atau paling tidak adalah ucapan terima kasih dalam buku acara dengan menuliskan namanya. Bahkan ada jemaat yang marah karena namanya kelupaan tidak tercantum dalam daftar ucapan terima kasih dalam buku acara.
Rumit… rumit… rumit…
Jangan-jangan Tuhan sendiri tidak berkenan dengan acara ritual natal kita karena kita tidak memaknai apa arti natal sesungguhnya.
Kita identikkan perayaan natal dengan pesta yang harus meriah dan bila perlu heboh.
Dengan natal tahun ini, yang kebanyakan online, dan jemaatpun sangat kurang yang ikut dalam kebaktian, kita diingatkan akan SIAPA YESUS.
Dalam ayat di atas, kita diingatkan bahwa seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Kristus. Kristus yang utama.
Tuhan Yesus yang lahir berinkarnasi menjadi manusia telah memperdamaikan kita dengan Allah.
Bila kita merenungkan dan memaknai ayat di atas, maka justru perayaan natal yang bergeser bentuknya dibandingkan dengan perayaan natal yang lalu, justru sangat baik untuk membawa kita ke pemahaman yang benar dan tepat tentang Dia yang telah lahir. Yesus yang utama melampaui dan melebihi dari sekedar acara-acara ritual yang kita pikirkan dan lakukan sebelumnya.
Kelahiran Kristus yang senyap dan sepi di kandang, dimana hanya Yusuf dan Maria yang berjaga, mengajak kita berpikir mendalam sedalam-dalamnya bahwa meski tahun ini senyap dan sepi perayaan natal yang kita lakukan, tidak apa-apa, bahkan sangat baik untuk kita memaknai KEUTAMAAN KRISTUS.
Mari kita tangkap pemahaman ini.
Selamat beraktifitas.
Tuhan Yesus Yang Maha Utama menyertai dan memberkati kita. Amin.
Salam dan doa.
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Image by Please Don’t sell My Artwork AS IS from Pixabay




