Melakukan Kebenaran dan Keadilan

Viewed : 1,383 views

Amsal 21:3
Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.

Dalam satu sisi orang-orang dapat menampilkan kehidupan yang religius, tetapi di sisi lain mereka mempraktekkan berbagai tindakan yang tidak berpadanan dengan kereligiusan mereka.

Sering seolah terputus jaringan syaraf spiritualitas di bagian leher yang menghubungkan otak dengan hati.

Manusia tidak mampu menyambungkan hati dengan tangan serta kaki. Pada posisi ini, tidak ada kemampuan membendung niat untuk melakukan apa saja sesuai selera. Rasa keadilan yang proporsional tidak lagi dimiliki.

Nabi Yesaya mengatakan, “Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah” (Yesaya 58:2)

Namun dalam Yesaya 58:3 dikatakan bahwa Allah tidak mendengar doa mereka, sebab kehidupan mereka kontradiksi.

Cara hidup orang Israel menyakiti hati Allah, seperti perkataan Yesaya selanjutnya, ”Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yesaya 58:4).

Seruan hari ini: ”Mari menyelaraskan iman kita dengan perbuatan dalam hidup sehari-hari!”, dan salah satu di antaranya adalah mengedepankan kebenaran dan keadilan serta kebaikan.

Mari menyimak kembali apa yang dikatakan di dalam Amsal 21:3, ”Melakukan kebenaran dan keadilan lebih dikenan TUHAN dari pada korban.”

Selamat beraktifitas.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Matt Collamer on Unsplash

Comments

comments