Roma 6:17-18
Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu.
Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.
“Hamba” dalam bahasa Yunani ‘DOULOS’, memiliki arti: budak (slave). Seorang hamba terikat kepada tuannya.
Pada zaman dahulu hamba diperjualbelikan. Hidup seorang hamba ditentukan oleh tuannya.
Hamba, adalah orang yang sepenuhnya harus taat kepada tuannya. Hamba tidak berhak atas dirinya. Jika ingin lepas dari perhambaan harus ada penebusan.
Rasul Paulus katakan bahwa sebelum menerima Kristus, seseorang adalah hamba dosa; artinya terikat dengan sifat dosa. Dikendalikan dosa. Ujungnya adalah hukuman akibat dosa.
Untuk bebas dari hamba dosa, perlu penebusan. Penebusnya adalah darah Yesus.
Karena sudah ditebus, maka orang yang ditebus tersebut berubah status menjadi hamba Kristus… hamba kebenaran… telah dibenarkan. Ujungnya adalah kemuliaan… dimuliakan di dalam Kristus… mendapat bagian dalam Kristus. Luar biasa!
Oleh karena itu mari kita hidup sebagai hamba Kristus. Biarlah dengan kesadaran penuh kita menyerahkan dri dan hati kepada-Nya sebagai sikap seorang hamba.
Bersama Kristus, mari kita sungguh hidup sebagai hamba yang terikat erat dengan Yesus.
Meski kita masih hidup di dunia ini, tapi hati kita jangan lagi terikat ke dunia ini. Mari kita terus belajar untuk taat kepada TUAN kita yang sesungguhnya yang adalah Yesus Kristus.
Perhambakanlah diri kita sepenuhnya kepada Kristus, bukan kepada kedagingan kita dalam tabiat dosa.
Sebagai hamba-Nya, taatlah kepada apa yang diajarkan-Nya.
Tuhan menyertai dan memberkati. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Hussain Badshah on Unsplash




