241. ’Revolusi Peradaban’

Viewed : 592 views

Apa boleh buat. Daku dan dikau tidak lagi saatnya begitu saja taat. Apa lagi percaya apa pun yang dilihat. Janganlah berita apapun ditelan bulat-bulat. Ayo gunakan akal sehat. Agar tidak tersesat. Karena apa yang didengar belum tentu benar. Walau penyataan itu datang dari para pakar. Tetaplah gunakan nalar. Agar jalan tidak kesasar.

Setiap insan manusia harus ambil sikap. Entah dikau rela ataupun tidak. Tidak bisa tidak. Semua dipaksa untuk bertindak. Wajib hukumnya bagi semua umat. Tidak ada yang begitu hebat. Sehingga dikecualikan walau pun sekejab. Semua harus menyesuaikan prilaku sesuai yang si Corona buat.

Berubahlah semuanya dalam waktu yang begitu singkat. Perubahan yang begitu cepat. Peralihan bak kilat. Tidak ada yang dapat mengelak. Seakan-akan semua kalah telak. Termasuk juga mereka yang berusaha menjaga kemurnian ibadat. Ataupun mereka yang rindu melaksanakan semua rincian hukum Taurat. No mercy, semuanya disikat. Si virus yang tidak terlihat memang hebat.

Ini termasuk revolusi peradaban. Perubahan cepat kebudayaan. Dalam situasi normal butuh ratusan atau bahkan ribuan tahun. Dengan wabah ini, siapa nyana, hanya memerlukan bulanan. Itu terasa betul dalam bidang kerohanian. Aspek yang menyentuh setiap insan. Faktor yang paling hakiki dari kemanusian. Unsur yang paling pribadi dari setiap insan. Sesi yang begitu disakralkan. Itupun dilibas habis-habisan.

Those who cannot remember the past are condemned to repeat it. (George Santayana)

Tidak ada yang baru di bawah matahari. Yang dulu-dulu muncul lagi. Sejarah terulang kembali. Dan umat tidak juga memahami. Seakan-akan sejarah tidak jera untuk mengajari. Untuk jemaat kembali kepada yang murni. Mencari hal-hal yang substansi. Terutama yang berhubungan dengan hal ihwal rohani.

Mungkinkah selama ini jama’ah sudah terperangkap dengan yang palsu? Anggap yang remeh temeh pun sudah menjadi bermutu. Kebiasaan turun temurun dijadikan pedoman baku. Akhirnya semua dijadikan satu. Tertulis rapih dalam sebuah buku. Dan umat dicekoki dengan aturan-aturan itu.

Revolusi itu terjadi 2000 tahun yang lalu. Setelah ribuan tahun sebelumnya berlalu. Umat mengikuti aturan baku sejak dahulu. Terjadilah perubahan yang betul-betul baru. Sampai-sampai peradaban pun dibagi dalam dua perioda waktu. Tahun-tahun sebelum dan sesudah DIA lahir di kandang itu. Bahkan kitab suci pun terdiri dari: Perjanjian Lama dan Perjanjian baru.

Transformasi ini menyangkut ekspresi iman. Perubahan mendasar dalam melakukan keyakinan. Metamorfosis peran golongan elite rohaniawan. Peralihan status kaum orang kebanyakan. Peran kaum awam yang menjadi signifikan. Dan perubahan ini hanya membutuhkan waktu 3 harian.

When Christians was born, it was the only religion on the planet that had no sacred objects, no sacred persons, and no sacred spaces. (James D.G. Dunn)

Mungkinkah transformasi akbar itu termasuk siklus seribu tahunan? Setelah 2 melenial lewat itu kembali lagi kepermukaan. Mungkinkah wabah virus ini mengingatkan? Bahkan memaksa jemaat untuk tinggal di rumah agar ada waktu untuk memikirkan. Menimbang-nimbang apakah yang sekarang esensial? Itu utama dan fundamental. Ataukah berubah akibat si Corona karena itu memang bersifat temporal?

Inilah satu-satunya keyakinan di seantero jagad. Di agama lain tidak kan dikau dapat. Cara pandangnya antik. Asing bagi kebanyakan umat. Ekspresi imannya tidak terperangkap. Lepas dari aturan-atuaran yang begitu mengikat. Apalagi terpaku kepada suatu tempat. Karena tidak dikenal yang namanya lokasi yang dianggap keramat.

Kebiasaan dari generasi ke generasi. Mengikuti tata cara ibadah di Bait Suci. Tempat ibadah yang sudah pasti. Elite rohani yang memegang kendali. Jemaat tunduk kepada apa yang dikatakan oleh para ahli. Setiap minggu umat duduk teratur menanti siraman rohani. Beralih ke paradigma yang berbeda sama sekali.

Bak nabi Yeremia berteriak-teriak lagi. Berdiri di depan pintu gerbang Bait Suci. Mengingatkan mereka yang tulus hendak berbakti. Jama’ah yang sungguh-sungguh ingin beribadah. Daku dan dikau yang berpikir di saat dilanda wabah.

Ayo, ambil langkah!

Kami mengandung, kami menggeliat sakit, tetapi seakan-akan kami melahirkan angin: kami tidak dapat mengadakan keselamatan di bumi, dan tiada lahir penduduk dunia. (Yesaya 26:18)

Peradaban dilanda kesakitan. Perubahan yang menyakitkan. Bak sedang menderita sakit bersalin. Menggeliat-liat bak mengandung dalam bulan akhir yang dinanti-nantikan. Mungkinkah akan lahir anak seperti yang diharapkan? Atau sakit yang begitu mematikan. Namun angin yang dilahirkan.

Ayo, ambil langkah!

Tidaklah mudah. Melangkah keluar dari kebiasaan. Bisa-bisa dicela habis-habisan. Dianggap menyimpang dari apa yang sudah seharusnya demikian. Syukurlah si Corona datang. Semua yang dari dulu dianggap pantang. Sekarang dengan mudah ditendang. Karena semua sudah angkat tangan. Ikuti revolusi peradaban.

Namun, itupun terserah puan dan tuan. Ikuti tarian yang tengah si Corona mainkan. Ataukah tetap rindu? Kepada yang dulu-dulu . (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi” dan “Divine Love Story” karya NSM

Photo by Марьян Блан | @marjanblan on Unsplash

Comments

comments