Allah – Bukan Hanya Kata Orang

Viewed : 871 views

Sahabat yang terkasih,

Sebuah proses yang panjang untuk akhirnya mengalami Siapa Allah yang sejati di dalam kehidupan manusia.

Sejak dari kecil manusia diajari tentang Allah dengan segala atributnya. Gambaran manusia bisa salah tentang siapa sebjenarnya Dia, tergantung bagaimana keberadaanNya direpresentasikan di dalam berbagai aspek hidup kita. Dan seringkali gambaran yang didapat adalah gambaran tentang Allah yang menghukum (untuk mendiamkan segala kebandelan kita), atau Allah yang seperti ”superman”, bagaikan gambaran seorang anak kecil terhadap pahlawannya, suatu gambaran imajinasi yang luar biasa, serba maha, dahsyat, namun juga jauh dari kodrat kemanusiaan kita untuk mencercapnya.

Namun satu hal yang pasti adalah sejarah iman manusia adalah sebuah catatan tentang bagaimana Allah yang berinisiatif untuk menyatakan diriNya kepada manusia, supaya manusia mengenal, mengalami dan menjamah Nya.

Ketika manusia melihat Kitab Suci sebagai hanya kumpulan aturan dan larangan, maka manusia kehilangan dimensi keagunganNya untuk melihat Allah yang hadir di dalam segala kekurangan dan kelemahan manusia, dan supaya mereka disentosakan dan dimerdekakan.

Sungguh sangatlah kaya dimensi yang dihadirkan Kitab Suci ketika memberikan catatan orang-orang beriman sepanjang zaman di dalam perjalanan iman mereka, para Nabi, Raja, Gembala, orang kaya, orang miskin, orang-orang sederhana, dan sebagainya. Ingin rasanya menulis satu per satu perjumpaan mereka-mereka yang bertemu denganNya.


Salah satu ungkapan yang agung adalah deklarasi Ayub, ketika di penghujung kitab (Ayub) yang semuanya menceritakan penderitaan yang Ayub alami; tentang bagaimana segala anggota keluarganya mati, kekayaannya habis, istrinya meninggalkan dia, bahkan penyakit sampar menyerangnya, dia dijauhi, difitnahkah segala yang jahat, bahkan para sahabatnya meninggalkannya. Si Orang Benar yang Menderita ini berseru, ”Aku telah mendengar tentang Engkau dari orang lain, tetapi sekarang aku sendiri telah melihat dan memandang Engkau. (Ayub 42:5)”. Kata itu menandai puncak pergumulan iman Ayub dihadapan Allah, menjadi puncak dari 42 pasal yang bersisi tentang penderitaan yang dialaminya, dan awal dari 12 ayat berikutnya yang berisi dipulihkannya keluarga, kekayaan dan kehormatan Ayub, dan hanya 12 ayat untuk menggambarkan dipulihkannya keadaan Ayub.

Sepertinya Allah sedang bermain-main dengan penderitaan ketika hal tersebut dijabarkan dengan seksama di dalam 42 pasal kitab Ayub, dan sebaliknya seperti ingin menunjukkan betapa sangat tidak pentingnya kisah pemulihan Ayub yang hanya diberi 12 ayat penutup.

Sebagai penonton kisah penderitaan sering kita salah menilai puncaknya, happy ending-nya. Jikalau itu adalah sebuah cerita film sinetron, maka happy ending cerita tersebut adalah Sang Pahlawan mendapatkan kembali segala harga, keluarga dan kehormatan yang hilang. Tetapi saya rasa Allah khalik langit dan bumi dengan gampang melimpahkan itu kepada Ayub, seperti juga ketika Ia mengijinkan hal tersebut diambil dari padanya. Pertanyaan kritikalnya justru, apakah dijumpaiNya iman diantara manusia yang dikasihiNya.

Pertanyaan itu itu menjadi epifani kehidupan Ayub yang patut dirayakan, Ayub mengalami Allah. Ketika beraudiensi dengan Allah, akhirnya Ayub menyadari siapa dirinya, bahkan dia merasa tiada dasarnya dia bermegah dengan segala kesalehannya dihadapan Allah, namun justru matanya dibukakan untuk melihat Allah yang menyatakan diriNya dihadapanNya.


“Siapa Dia?”, itu bukan lagi menjadi misteri bagi hidup Ayub, tetapi sudah menjadi bagian dari hidup Ayub. Allah menyatakan kehadiranNya di dalam diri Ayub.

Ketika hal itu sudah menjadi bagian dari hidup Ayub, maka kebenaran itu termanifestasikan secara relasional di dalam kehidupan dia. Kebenaran itu tidak dapat diambil dari padanya. Itu ternyata lebih berharga dibandingkan kisah tentang kehidupan Ayub yang dipulihkan. Dia menemukan hal yang paling berharga untuk dicari : Allah.

Dan ternyata Injil bertabur kisah gembira, mereka yang mengalami Allah di dalam kehidupan mereka. Sang Anak Manusia, Kristus Yesus, Orang Benar Yang Menderita, Sang Kalam, yang datang ke dunia di dalam segala kesederhanaannya telah menggoreskan sejarah yang baru di dalam lubuk setiap orang yang beriman kepadaNya. Ia mendapatkan hati mereka bukan dengan kekuatan atau kekuasaan, tetapi dengan kelemahlembutan dan belas kasihan.

Mereka mengalami Allah (bukan kata orang). Itu cukup.

Salam

Teja, 2/8/2019

Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah.

Epifani : sebuah peristiwa yang menjadi titik balik perubahan.

Image by Tabitha Guarnieri from Pixabay

Comments

comments