530. Batas Nalar

Viewed : 11 views

“Sains menyingkap bagaimana semesta bekerja, namun jiwa resah mencari makna. Keutuhan hidup tak dapat diurai berdasarkan barisan data, namun hati dahaga bersedia menembus batas logika.

Guncangan dahsyat gempa bumi di Lisbon, Portugal, pada tahun 1755 turut memantik fajar Abad Pencerahan (Age of Enlightenment, AE) di Benua Eropa. Daripada terus berserah pasrah di hadapan amukan alam, peradaban manusia mulai mengurai gejala alam.

Jika di masa silam Anda bertanya, “Mengapa ada petir?”, maka peradaban dengan lugu merespons: “Sebab Allah sedang murka.”

Lalu, analisis meteorologi hadir membuka tirai: petir sejatinya hanyalah pelepasan muatan listrik di angkasa, sebuah fenomena alam yang lazim. Bila DIA sekadar dipakai mengisi ketidaktahuan, maka hancurlah pembuktian itu begitu sains memberi terang. Jebak logika inilah yang oleh kaum cendekia disebut sebagai God of the gaps— Tuhan penambal celah.

Demikian pula dengan rahasia semesta dan asal-usul kehidupan. Satu demi satu misteri itu perlahan tersingkap oleh suluh ilmu pengetahuan. Semula, segala sesuatu yang belum sanggup dijangkau logika, bergegas dialamatkan sebagai jejak karya Sang Pencipta.

Seiring derap teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, keberadaan maupun peran-NYA dalam mengurai fenomena alam mendadak dianggap tak lagi dibutuhkan. Dahulu, segala yang terselubung misteri buru-buru didaulat sebagai jejak jemari-NYA. Kini, satu demi satu rahasia itu luluh, terurai sekadar sebagai mekanika alam yang lumrah.

AE meyakini tiap jengkal realitas niscaya memiliki penjelasan ilmiah. Mukjizat dipandang dengan tatapan skeptis, sementara alam supranatural dan metafisika didepak keluar dari panggung zaman. Pengaruh era ini mempatri wajah peradaban modern secara amat mendalam: rasio dimahkotai sebagai otoritas puncak, dan apa saja yang tak masuk akal seketika divonis abal-abal.

Pengaruh AE kian mencengkeram abad ke-20, ditandai oleh kukuhnya hegemoni sekularisme dan materialisme. Di panggung-panggung intelektual, alam roh ditangkis sebagai ilusi belaka, sementara Alkitab disingkirkan sebagai kompilasi mitos purba yang tak lagi relevan bagi manusia modern.

Namun tak pelak, AE pula yang menyemaikan benih nalar kritis, kemajuan sains, demokrasi, hingga penegakan hak asasi manusia. Agama ditarik masuk ke ruang privat nurani, sementara kebijakan publik kini merdeka diperdebatkan di mimbar terbuka.

AE sukses gilang-gemilang menbedah fenomena alam secara sistematis, bersandar kokoh pada kesahihan data dan fakta. Era ini memicu lompatan raksasa bagi kebebasan dan sains—mulai dari Revolusi Industri, kedokteran modern, komputer, internet, penjelajahan antariksa, hingga fajar Artificial Intelligence.

Namun, menyeberangi muara abad ke-20 menuju awal abad ke-21, dogma bahwa sains sanggup merangkul seluruh realitas kehidupan mulai digugat dari pelbagai penjuru. Gelombang kritik tak lagi sekadar datang dari mimbar teolog, melainkan turut disuarakan oleh para filsuf sains, ilmuwan mutakhir, dan pemikir lintas disiplin.

Dari sekadar perburuan nalar, “Bagaimana sesuatu ada?”, arah kompas pemikiran berbelok yang kian menggoda hati manusia: “Mengapa sesuatu ada?”

Oleh sebab itu, kendati warisan AE tetap bertakhta kokoh, abad ke-21 ditandai oleh mekarnya kesadaran baru: metode ilmiah, seunggul apa pun ia dapat menjelaskan cara kerja alam, tidak serta-merta sanggup menjawab makna, nilai, tujuan, dan maksud keberadaan.

Melangkahi ambang abad ke-21, terbuka kembali ruang dialog yang lebih lapang mengenai peran metafisika, filsafat, dan agama demi merangkul realitas secara utuh. Di puncak pencapaian terhebatnya, sains justru gagap saat diminta merespons makna dan tujuan hidup.

Dan… ‘praaang!’ Mungkinkah denting tembikar yang pecah di keheningan Gua Qumran pada tahun 1947 justru bergaung lebih dahsyat mengguncang peradaban, melebihi guncangan gempa raksasa di Lisbon pada tahun 1755?

Aaahhh… Mungkinkah intervensi Ilahi di pertengahan abad ke-20 itu hadir melengkapi peradaban—agar tak sekadar mengeja bagaimana semesta ada, melainkan juga menyingkap maksud di balik keberadaannya? Entahlah..! (nsm)

NSM adalah seorang awam yang bak musafir yang senantiasa merindukan Air Hidup di padang pasir nan tandus walau hanya setetes.


Telah terbit buku “Misteri Romantika Ilahi“,”Divine Love Story” dan “The Great Dance of Divine Love” karya NSM

Comments

comments