“Hallo mas, gimana kabarnya?
Semoga semua sehat selalu. Amin”
Secara rutin teman saya, sebutlah namanya Agus, selalu mengirimkan pesan pendek lewat WA kepada saya. Minimal satu bulan sekali dia akan menyapa pertanyaan yang sama, dan itu sudah berjalan bertahun-tahun. Dan kadang dia mampir ke rumah atau kami janjian di luar untuk bertemu.
Ada sebuah peristiwa yang pada waktu itu sangat berkesan bagi dia, yaitu sekitar 10 tahun lalu saya membantu Agus dengan mengongkosinya untuk belajar dan magang, supaya dia mempunyai keahlian di dalam keahlian elektronika tertentu – dia berguru kepada seorang rekan pelayanan yang tinggal di Yogyakarta. Ketika itu dia baru saja di PHK dan tidak ada kepastian pekerjaan. Dia berkunjung ke rumah untuk berdiskusi kemungkinan-kemungkinan yang bisa dilakukan.
Puji Tuhan, magang berjalan dengan lancar, dan akhirnya menjadi sumber penghidupannya sampai sekarang. Dan setelah kepulangannya dari Yogyakarta, ternyata seorang sahabat di komunitas pelayanan memberikan informasi lowongan pekerjaan yang sepertinya cocok untuk teman saya ini.
Akhirnya dia pun melamar di pekerjaan ini dan diterima. Akhirnya dia bertekun dengan pekerjaan ini serta tetap mengembangkan usaha di bidang yang dia pelajari dari teman pelayanan di Yogyakarta.
Suatu saat dia mampir ke rumah, Agus bercerita tentang kerinduan, pencarian dan perjumpaan dia akan Yesus. Ada hal yang unik yang dia ceritakan, bahwa dia bertemu teman-teman yang baik, yang selalu memberikan kemurahan hati kepadanya, dan ternyata semua orang yang dia sebutkan adalah orang-orang dalam komunitas pelayanan yang saya kenal.
Hal itu membuat hatinya terbuka untuk belajar rahasia dari orang-orang percaya yang ada disekitar perjalanan hidup dia selama ini, dimana melalui mereka dia merasakan kasih dan perhatian yang tulus. Dia mencari Kristus.
Siapakah sesama manusia bagi Agus ini? Adalah orang-orang percaya di komunitas pelayanan, dan melalui kehadiran mereka semua benih-benih Injil tertanam di dalam hatinya.
Puji Tuhan.
***
Saya teringat perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati.
Kata-kata yang kuat terpatri di dalam benak saya adalah, “
“Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (Lukas 10:36)
Kalimat ini adalah pertanyaan “pembalik” yang diajukan Yesus kepada ahli Taurat.
1. Pertanyaan Ahli Taurat: “Siapakah sesamaku manusia?” (Ia mencari objek yang layak dibantu).
2. Pertanyaan Yesus: “Siapakah… adalah sesama manusia bagi…” (Ia fokus pada subjek yang bertindak menjadi sesama bagi orang yang menderita).
Yesus mengubah fokus dari sekadar mengenali sesama menjadi menjadi sesama bagi orang lain tanpa memandang batasan suku, agama, atau status sosial.
Yesus tidak sedang mencari definisi “siapa yang butuh ditolong”, tetapi “siapa yang sudah bertindak menjadi sesama” bagi si korban.
Jika kita memperjelas kalimat tersebut berdasarkan perspektif korban yang sedang menderita, maknanya adalah:
• Bagi si korban, Imam dan orang Lewi (sesama orang Yahudi) justru menjadi orang asing karena mereka memalingkan muka.
• Bagi si korban, orang Samaria (yang dianggap musuh/Goyim) justru menjadi satu-satunya sesama manusia karena ia hadir dan menyelamatkan nyawanya.
***
Dunia sering kali terjebak dalam upaya mendefinisikan “sesama” sebagai sebuah objek statis yang terikat pada koordinat identitas. Dalam teks perumpamaan ini, seorang ahli Taurat datang kepada Yesus dengan sebuah pertanyaan yang tampak saleh namun sebenarnya bersifat defensif: “Siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan ini bukan lahir dari kerinduan untuk mengasihi, melainkan dari paradigma legalistik yang mencari garis demarkasi—sebuah batas aman untuk menentukan siapa yang wajib dikasihi dan siapa yang secara hukum sah untuk diabaikan.
Bagi ahli Taurat, konsep “sesama” (re’a) secara ketat dibatasi pada sesama anggota perjanjian Israel.
Di luar garis itu, terdapat jurang pemisah yang disebut “Goyim”. Pertanyaan tersebut adalah upaya untuk mengonfirmasi bahwa ia tidak memiliki kewajiban moral terhadap mereka yang berada di luar silsilah darahnya. Namun, Yesus tidak memberikan definisi kamus; Ia memberikan sebuah narasi yang meruntuhkan tembok-tembok yang sering tidak sadar dibangun manusia, baik itu kesukuan dan ataupun formalitas agama.
Untuk memahami radikalitas cerita ini, kita harus menyelami cara pandang eksklusivitas etnis pada masa Kristus hidupa, dan teryata masih relevan sampai saat ini. Istilah “Goyim” secara harfiah berarti “bangsa-bangsa”, namun dalam praktiknya sering kali digunakan untuk merendahkan mereka yang dianggap tidak memiliki “hak istimewa” di hadapan Tuhan. Sentimen ini bahkan masih bergema dalam sejarah hingga saat ini, ketika beberapa waktu lalu seorang rabi ekstrem yang menyebut bahwa keberadaan Goyim hanyalah untuk melayani kepentingan umat pilihan (Israel).
Ketika Imam dan orang Lewi melintas di jalan menuju Yerikho, mereka membawa beban prasangka ini. Mereka terjebak dalam formalisme kesucian. Bagi mereka, menjaga jubah tetap bersih dari darah “orang asing” atau “Goy” jauh lebih penting daripada menyelamatkan nyawa. Mereka memiliki agama, tetapi kehilangan kemanusiaan; mereka memiliki ritual, tetapi kehilangan relasi.
Di sinilah letak teguran keras bagi orang percaya modern. Sering kali, kita membangun “tembok- tembok suci” berupa kesibukan liturgi, gedung gereja yang megah, atau diskusi teologi yang tinggi, namun kita absen dari realitas penderitaan di depan mata kita. Imam dan Lewi adalah contoh orang percaya yang hanya “lewat”, namun tidak pernah “hadir”.
Orang Samaria memberikan teladan tentang pelayanan pribadi yang inkarnasional:
1. Hadir dalam Realitas: Ia tidak melayani dari jauh dengan mengirimkan doa atau simpati intelektual. Ia turun dari keledainya—turun dari zona nyamannya—dan masuk ke dalam debu serta darah di mana korban itu berada.
2. Menyentuh yang Tak Tersentuh: Formalisme selalu menjaga jarak agar tidak “tercemar”. Namun, pelayanan pribadi yang sejati justru berani tercemar demi memulihkan. Orang Samaria ini meruntuhkan dinding pemisah antara “orang suci” dan “orang berdosa/asing”.
3. Investasi Pribadi: Ia tidak mendelegasikan tugas itu kepada lembaga atau orang lain. Ia menggunakan tangannya sendiri, minyaknya sendiri, dan uangnya sendiri. Ini adalah panggilan bagi setiap orang percaya untuk tidak sekadar menjadi “donatur” penderitaan, melainkan menjadi “sahabat” bagi yang terluka.
Puncak dari perumpamaan ini terletak pada cara Yesus membalikkan pertanyaan ahli Taurat. Beliau memaksa kita untuk berhenti menjadi “hakim yang menilai kelayakan” dan mulai membayangkan diri sebagai korban yang menderita di pinggir jalan.
Dari perspektif korban yang sedang sekarat, realitas menjadi sangat jernih:
• Saat Anda sekarat, Anda tidak membutuhkan orang yang merasa dirinya “tuan” atas Goyim. Anda membutuhkan seseorang yang bersedia menjadi pelayan bagi luka Anda.
• Dari mata korban, kebenaran sebuah iman tidak diukur dari seberapa fasih seseorang mengutip hukum, melainkan dari seberapa cepat seseorang mengulurkan tangan. Imam dan Lewi yang secara teori adalah “saudara” justru menjadi orang asing karena formalisme mereka, sementara orang Samaria yang dianggap “musuh” justru menjadi satu-satunya sesama.
Perumpamaan ini diakhiri dengan perintah: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.” Yesus tidak memanggil kita untuk sekadar setuju secara kognitif, tetapi untuk terlibat secara eksistensial.
Bagi orang percaya, menjadi sesama manusia berarti memiliki keberanian untuk menembus tembok-tembok kenyamanan religius kita. Kita dipanggil untuk masuk ke dalam realitas orang-orang di sekitar kita—mereka yang “terampok” oleh kemiskinan, penolakan, trauma, pelecehan, depresi, ketidakadilan, atau rasa kesepian. Kita harus berhenti bertanya, “Siapa yang layak saya bantu?” dan mulai menjadi jawaban bagi siapa pun yang Tuhan tempatkan di jalan kita.
Pada akhirnya, kemanusiaan yang sejati tidak ditemukan dalam ruang-ruang diskusi yang steril, melainkan justru di pinggir-pingir jalan kehidupan yang berat atau di sudut-sudut sempit gelap kehidupan. Menjadi “sesama” bukan tentang siapa yang kita temui, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk berhenti, merendahkan diri, dan menjadi saluran kehidupan bagi mereka yang telah dianggap mati oleh sistem dunia.
***
Yesus menutup perjumpaan-Nya dengan ahli Taurat bukan dengan memberikan definisi, melainkan dengan melemparkan sebuah pertanyaan reflektif: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia bagi orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” (Lukas 10:36).
Di sini, fokusnya bergeser secara radikal. Kita tidak lagi diajak untuk sibuk menyeleksi siapa yang “layak” menerima kasih kita (sebuah sikap yang sering kali terjebak dalam memilah-milah antara saudara seiman atau para Goyim). Sebaliknya, Yesus menaruh cermin di hadapan kita dan bertanya: “Apakah saya sudah mejadi sesama manusia bagi (orang-orang di sekitar saya) yang membutuhkan kasih dan kehadiran Kristus melalui teladan hidup saya?”
Soli Deo Gloria.
Teja Samadhi
![]() |
Teja adalah suami dari Titin, ayah dari Kasih dan Anugrah. |




