Mari Menghadirkan Yesus Dalam Keluarga Kita

Viewed : 28 views

Amsal 17:1
Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.

Melewati kompleks perumahan mewah, seorang ibu berkata kepada suaminya, “Pa, bagus-bagus rumahnya di sini ya. Pastilah nyaman tinggal di dalamnya. Pastilah penghuninya damai dan bahagia. Kapan ya Pa; kita bisa tinggal di rumah seperti ini?”

Sang suami merasa tidak menarik dengan ucapan istrinya. Dia tidak sanggup menjawab pertanyaan istrinya… kapan mereka bisa memiliki rumah sebagus yang mereka lihat. Mungkin tidak akan pernah memiliki tempat tinggal seperti yang mereka sedang perhatikan.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di rumah keluarga yang mereka mau kunjungi yang tinggal di kompleks itu. Sebelumnya mereka sudah janji akan bertemu.

Sang istri mengetuk rumah dengan menekan bel. Lama sekali baru pintu dibuka oleh pembantu. Pembantu berkata bahwa tuannya tidak di rumah. Mereka sedang bepergian.

Dari bahasa tubuhnya terbaca pembantu tersebut berkata tidak benar. Ada sesuatu yang disembunyikan. Suami-istri ini pamit saja untuk segera pulang.

Tak lama setelah itu ketahuanlah bahwa keluarga yang mereka kunjungi waktu itu sebetulnya ada di rumah. Hanya saja antara suami dan istrinya sedang bertengkar hebat, jadi mereka tidak siap menerima tamu. Kejadian seperti itu kerap terjadi dalam keluarga ini, sehingga mereka tidak berbahagia meski tinggal di rumah indah.

Tentu tidak salah memiki rumah mewah. Kalau bisa, mengapa tidak? Sangat wajar, normal dan baik memiliki rumah besar dan mewah. Namun harus diingat kebahagiaan tidak selalu bergantung kepada besarnya rumah dan lengkapnya fasilitas hidup walau terkadang itulah yang paling dicari-cari dan diinginkan orang.

Tentulah tidak semua kita mampu membeli rumah besar beserta atribut-atributnya. Tapi syukurlah bahwa kedamaian bisa kita nikmati di tempat sederhana.

Kebahagiaan tidak bergantung kepada indah dan besarnya rumah, tetapi bergantung kepada dengan siapa kita hidup di bawah kasih sayang Kristus.

Mari kita menghadirkan Yesus dalam keluarga kita. Apakah kita berada dalam rumah besar atau tinggal di rumah sederhana saja… tidaklah masalah. Yang utama adalah apakah Tuhan Yesus menjadi yang utama dan pengendali dalam keluarga kita.

Kiranya damai Kristus menjadi pengikat dalam kerukunan dan kebersamaan dalam keluarga kita.

Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Illustration created using Gemini

Comments

comments