Mazmur 25:4-5
Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.
Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
Raja Daud sebetulnya adalah manusia biasa sama seperti kita. Dia juga memiliki keterbatasan. Dia juga penuh pergumulan dan tantangan.
Akan tetapi Daud menjadi istimewa dan berkenan kepada Tuhan karena kerinduan dan keinginannya untuk tetap dekat dengan Tuhan.
Justru di dalam kelemahannya, Daud merasa butuh akan pertolongan Tuhan. Dia menyatakan betapa melekatnya rasa rindunya akan Allah. Dia ekspresikan keinginannya agar Tuhan memberi jalan yang harus ditempuhnya. Dia menantikan Tuhan. Dia yakin bahwa hanya Allah yang dia kenal saja yang dapat menyelamatkan.
Mari kitapun ambil langkah seperti Daud. Dalam keterbatasan dan banyaknya kita gagal melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan, mari bangkit untuk berjalan bersama Dia.
Salah satu langkah praktisnya… mari kita mulai setiap hari-hari kita dengan saat teduh. Berdoa dan membaca firman-Nya setiap hari. Sebaiknya setiap pagi sebelum beraktifitas. Artinya aktifitas pertama setelah bangun tidur adalah saat teduh.
Berapa lama waktunya untuk saat teduh?
Tentu tidak ada batasan dan definisinya. Boleh lama, boleh tidak lama. Tapi janganlah sepintas asal ada!
Sama halnya dengan sarapan pagi… berapa lama durasinya kita butuh?
Tentu bergantung orangnya. Ada yang lama, dan mungkin ada yang sebentar. Yang penting menikmati. Ada gizi masuk ke dalam tubuh. Sejalan dengan itu; ada gizi firman Allah masuk ke dalam hati!
Sebetulnya ajakan untuk saat teduh terlalu sering kita dengar bahkan sampai bosan mendengarnya. Tapi tak apalah. Kerap kali memang apa yang penting harus sampai bosan kita dengar agar apa yang bosan kita dengar itu, tapi baik itu; pada akhirnya menjadi kebiasaan kita.
Alangkah baik dan eloknya jika kita sampai pada suatu titik, dimana kita merasa ada yang terhilang jika belum saat teduh… jika belum berhubungan secara pribadi dengan Allah Bapa kita.
Semoga kerinduan Daud akan Allah, juga menjadi kerinduan kita.
S E M O G A !
P U J I T U H A N !
Selamat beraktifitas.
Tuhan Yesus Kristus menyertai dan memberkati kita senantiasa. Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung
![]() |
Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahĂșn 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya |
Photo by Raul Petri on Unsplash




