Tidur Enak Tidak Dapat Dibeli

Viewed : 558 views

Pengkhotbah 5:11
Enak tidurnya orang yang bekerja, bahkan ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.

Enak dan pulas tidur adalah suatu kekayaan tersendiri yang sunggh berharga.

Banyak orang sulit tidur mungkin karena penyakit tertentu, dan ada juga oleh karena pikiran, dan sebagainya. Ada banyak persoalan dalam hidup ini yang efeknya membuat kita sulit istirahat dengan tenang dalam waktu tidur.

Pengalaman ketika pulang dari luar kota pada malam hari, ada seorang bapak yang bekerja sebagai tukang becak, tertidur pulas di atas becaknya. Dia begitu lelap tertidur. Sementara saya ini yang akan pulang ke rumah, belum tentu dapat tidur sepulas itu. Penyebabnya karena masih ada yang harus dilakukan, harus diperiksa pekerjaan besok, dan lainnya.

Dengan uang yang cukup besar, kita tentu dapat membeli tempat tidur yang mahal dan bagus, tetapi tidur enak tidak dapat dibeli.

Mari kita menyerahkan segala beban berat, pikiran yang mumet, dan beban lainnya kepada Tuhan. Dia yang akan menolong dan membuat kita lebih tenang. Semoga ini membuat kita dapat menikmati hidup bersama Tuhan. Semoga kita dapat istirahat tenang tidur pada waktunya, sehinga tubuh menjadi lebih kuat dan sehat serta bugar.

Untuk pekerjaan kita hari ini, mari mengerjakannya sungguh-sungguh. Biarlah melalui pekerjaan kita, Tuhan cukupkan rejeki untuk melanjutkan hidup ini dengan damai.

Tuhan beri kami senantiasa apa yang layak menjadi bagian kami. Beri kami tidur yang nyaman setelah kami menunaikan kewajiban bekerja. Biarlah hati kami kaya dengan kebajikan. Amin.

Selamat beraktifitas.

Tuhan Yesus menyertai dan memberkati. Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Alamta Singarimbun adalah seorang Doktor dari Universitas Kyushu Jepang.Saat ini bekerja sebagai Dosen di Departemen Fisika ITB sejak tahun 1987 dan juga Dosen Agama & Etika Kristen Protestan di ITB sejak tahún 2011. Tahun 2013 ditahbiskan sebagai Pendeta Kampus (Campus Chappel) di Gereja Anglikan Indonesia. Baca selengkapnya

Photo by Mert Kahveci on Unsplash

Comments

comments